Berseragam Khas SAR, Komunitas Pager Wojo Mantingan Mempraktikkan “Kebolehannya” di Kraton

  • Post author:
  • Post published:November 22, 2023
  • Post category:Regional
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:11 mins read
You are currently viewing Berseragam Khas SAR, Komunitas Pager Wojo Mantingan Mempraktikkan “Kebolehannya” di Kraton
PENDAPA SITINGGIL : Para wanita anggota SAR "Elpeje" dari Komunitas Pager Wojo pimpinan Suyono Sastrorejo dari Mantingan, Ngawi, diterjunkan untuk kerjabhakti bersih-bersih di kompleks bangunan Pendapa Sitinggil Lir, mulai pagi tadi, Rabu (22/11). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Bersihkan Kompleks Pendapa Sitinggil Lor dan Lingkungan Pendapa Magangan

SURAKARTA, iMNews.id – Mengenakan seragam khasnya sebagai anggota badan Search And Resque (SAR) yang juga mirip BPBD, sekitar 50 anggota SAR “Elpeje” yang juga anggota Komunitas Pager Wojo Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi (Jatim), beraksi mempraktikkan “kemahiran” dan “kebolehannya” di lingkungan kraton, Rabu tadi sejak pukul 08.00 WIB.

Semua yang tampil berseragam khas warna “orange” yang identik dengan personel SAR atau regu penolong seperti yang dimiliki BPBD atau Pemadam Kebakaran di tiap daerah itu, mulai pagi hingga siang bekerjabhakti bersama membersihkan dan menata ulang lingkungan kompleks Pendapa Sitinggil Lor dan lingkungan Pendapa Magangan.

Warna seragam “orange” yang dikenakan semua yang bekerjabhakti di bawah pimpinan Suyono Sastroredjo selaku koordinator komunitas sekaligus ketua rombongan, tampak meyakinkan sebagai orang-ornag profesional di bidang “pertolongan” yang menjadi tupoksi organisasi SAR, BPBD ataupun Satuan Pemadam Kebakaran yang dimiliki tiap-tiap Pemkab.

Mereka bekerja cekatan, taktis, efisien dan efektif, mulai dari memangkas rumput, semak, mengangkat balok, mengusung lalu menata, hingga ruang yang tidak semestinya tertutup oleh barang-barang yang dianggap mengganggu aktivitas manusia, bisa berada di tempat yang tepat dan tertata rapi, seperti pemandangan di sudut belakang Pendapa magangan, siang tadi.

CABUT RUMPUT : Cabut rumput, babat semak dan pangkas rumpun pohon tebu, serentak dilakukan para anggota SAR “Elpeje” dari Komunitas Pager Wojo pimpinan Suyono Sastrorejo dari Mantingan, Ngawi di kompleks bangunan Pendapa Magangan Kraton Mataram Surakarta, mulai pagi Rabu (22/11). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“La kados pundi, wong pedamelan rencang-rencang SAR menika nggih kados ngaten menika. Sami mawon kalian ingkang dipun ayahi tugas-tugas BPBD utawi Unit Pasukan Pemadam Kebakaran. Rencang-rencang menika, inggih wonten ingkang saget ngurusi sawer, ancaman tawon, pertolongan korban baniir, gempa, lan sakpiturutipun,” jelas Suyono Sastroredjo menjawab iMNews.id.

Sambil menunggu arahan pihak koordinator lapangan dari kraton (KRMH Suryo Kusumo Wibowo), Suyono sempat berbincang ringan dengan iMNews.id di depan Kori Srimanganti Kidul. Di situ juga sudah menunggu KPP Jony Sosrodiningrat, yang sama-sama ngobrol sambil menyaksikan Agus yang sedang memasang anyaman rotan pada ratusan kursi antik koleksi kraton yang sedang direparasi.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya (iMNews.id, 21/11), warga Komunitas Pager Wojo Mantingan, Kabupaten Ngawi yang dipimpin Suyono Sastroredjo, ingin mendarmabhaktikan kemampuannya di bidang “pertolongan” berupa kerja sosial yang diwujudkan dalam kerjabhakti di kraton, Rabu (22/11) hari ini, dengan mengajak rombongan sekitar 50-an orang.

Disebutkan Suyono, sebagian besar di antara 50-an orang yang diajak, sudah sekitar 4 kali sowan ke kraton yang semuanya dalam rangka kerjabhakti. Karena dinilai punya semangat yang besar untuk mengabdikan diri menjadi abdi-dalem di kraton, dia berharap kelak semua rombongannya bisa diterima “suwita” di kraton.

SANGAT LUWES : Kalau soal cara-cara efektif menggotong balok batang pohon, kalangan anggota SAR “Elpeje”-lah ahlinya. Para anggota SAR dari Komunitas Pager Wojo pimpinan Suyono Sastrorejo dari Mantingan, Ngawi itu, begitu luwes menunjukkan kemahirannya saat bekerjabhakti di Pendapa Magangan, mulai pagi Rabu (22/11). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Menurutnya, karena komunitasnya yang sebagian besar terdiri dari para relawan di bidang SAR itu telah diberi kesempatan untuk ikut untuk ikut membantu kerepotan kraton resik-resik lingkungan dalam acara kerjabhakti, siang tadi, mewakili komunitasnya Suyono menyampaikan terima kasih. Apa yang disumbangkan itu, adalah pengabdian yang tulus-ikhlas kepada kraton.

“Sebelumnya, kami sudah bertemu dengan Kanjeng Wira (KPH Edy Wirabhumi-Red), kami banyak diberi saran. Antara lain, siapapun yang tertarik untuk mengabdikan diri di kraton, bisa dibimbing dan diajak bergabung dalam upaya pelestarian seni budaya Jawa yang bersumber dari kraton. Ritual Bersih Desa di situs Pager Wojo kemarin itu, menjadi salah satu contohnya”.

“Siapa tahu, kalau sudah banyak warga Mantingan dan wilayah kecamatan lain di Kabupaten Ngawi menjadi abdi-dalem kraton, bisa membentuk kepengurusan Pakasa cabang. Karena Kabupaten Ngawi masih bergabung di Pakasa Cabang Sragen. Agar jalur pembinaan secara organisasi bisa lancar. Juga pembinaan dalam rangka pelestarian seni budaya Jawa,” ujar Suyono.

Dia juga menyebutkan, sejumlah rombongan yang dibawanya dari Mantingan, Ngawi siang tadi, ada beberapa anggotanya wanita yang secara khusus ditugaskan untuk bersih-bersih di kompleks Pendapa Sitinggil Lor. Sedang lebih separo langsung menuju ke Pendapa Magangan untuk membersihkan dan menata lingkungan di situ.

MEMBERI TELADAN : Suyono Sastroredjo sebagai koordinator tim SAR “Elpeje” dari Komunitas Pager Wojo Mantingan, Ngawi langsung mencari gerobak untuk mengangkut rumput, semak dan batang tebu yang habis dibabat, untuk dikumpukan dalam satu tempat. Teladan yang baik diberikan, dan tak ragu-ragu dilakukannya sebagai seorang anggota SAR profesional. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena semua anggota SAR “Elpeje” mahir dan cekatan mengatasi pertolangan untuk kebersihan dan penataan akibat bencana, semuanya tampak mahir mengoperasikan mesin potong rumput, gergaji potong pohon, cara-cara pengangkutan manual dan sebagainya. Banyak di antaranya yang dikonsentrasikan di Pendapa Magangan, untuk merapikan ribuan lembar sirap kayu jati yang berserakan.

Kerjabhakti yang banyak melibatkan warga embrio Pakasa cabang Ngawi itu, menurut KPH Edy Wirabhumi selaku pangarsa Pakasa Punjer bisa ada kaitannya dengan persiapan peringatan Hari Jadi 92 tahun Pakasa yang akan digelar 25-26 November ini, dan dipusatkan di kompleks Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa dan didukung kompleks Pendapa Sitinggil Lor.

“Rute kirab budaya, kelihatannya sudah pasti dari halaman kamandungan menuju depan Balai Kota Surakarta lalu kembali lagi ke kraton. Tetapi, persiapannya bisa menggunakan kompleks Pendapa Sitinggil Lor. Kalau di Pendapa Magangan malah repot. Karena harus lewat pintu belakang (selatan-Red). Kalau jalan kaki dari depan, lumayan jauh,” jelas KPH Edy secara terpisah.

Pangarsa Pakasa Punjer itu belum sempat menengok ke kompleks Pendapa Magangan saat dijumpai iMNews.id di depan kantor eks Badan Pengelola (BP Kraton Surakarta-Red). Waktu itu, semua warga Komunitas Pager Wojo sudah mengumpul jadi satu untuk menuntaskan bersih-bersih dan menata ulang lingkungan Pendapa Magangan.

BUTUH AKSES PINTU : Pendapa Magangan yang akan difungsikan sebagai calon tempat kegiatan belajar sanggar pasinaon tatabusana dan paes, butuh akses pintu keluar-masuk ruangan yang bersih dan rapi. Para anggota SAR “Elpeje” pimpinan Suyono Sastoredjo sedang bekerjabhakti memindahkan tumpukan sirap kayu jati bekas agar rapi, Rabu siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Di kompleks Pendapa Magangan saat kerjabhakti hendak dimulai, bekas-bekas kandang lima ekos kawana kagungan-dalem mahesa keturunan Kiai Slamet memang sudah nyaris tidak ada, tetapi berganti dengan potongan batang pohon, cabang dan ranting yang masih berserakan setelah ditebang beberapa waktu lalu.

Tetapi, begitu semua anggota dikerahkan Suyono Sastroredjo, rumput dan semak serta tanaman liar yang kembali tumbuh setelah beberapa kali dibersihkan sejak awal Januari 2023, siang tadi kembali menjadi bersih. Tumnpukan batang kayu berupa balok, diangkat beramai-ramai dan ditata rapi. Begitu pula cabang dan ranting-rantingnya.

Sementara itu, Suyono Sastroredjo mengambil gerobak angkut sampah yang biasa digunakan para abdi-dalem Kebon Darat, untuk mewadahi rumput dan semak yang habis dicabut dan dipangkas, termasuk rumpun tanaman tebu yang ada di dekat kandang genset. Suyono menarik gerobak itu mendekat teman-temannya yang sedang mencabuti rumput dan memangkas rumpun tanaman tebu.

Dalam waktu sekitar 30 menit, pekerjaan cabut-cabut rumput, semak dan pangkas rumpun tanaman tebu sudah beres, termasuk menata ulang tumpukan kayu hasil penebangan sebuah pohon besar jenis “Bougenvile”. Meski begitu, beberapa logam bekas talang berukuran panjang beberapa batang, terpaksa hanya dirapikan saja tumpukannya.

DI SELA-SELA : Agus, tukang reparasi kursi ukir kuno koleksi Kraton Mataram Surakarta, tampak sibuk memasang “tebokan” alas duduk dan sandaran kursi di sela-sela 50-an anggota SAR “Elpeje” Komunitas Pager Wojo Mantingan, Ngawi yang bekerjabhakti di dekatnya, di kompleks Pendapa Magangan, Rabu siang (22/11) tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Beberapa anggota SAR “Elpeje” pindah ke selatan untuk merapikan tumpukan berbagai jenis limbah bangunan yang belum sempurna, sebagian lagi langsung menuju ke ruang Pendapa Magangan untuk merapikan tumpukan lembaran sirap kayu jati. Sirab kayu bekas yang diturunkan dari beberapa bangunan di kraton yang direnovasi sekitar 5 tahun lalu, belum disimpan di tempat yang sesuai.

Karena datang huru-hara “insiden mirip operasi militer 2017”, belum sempat disiapkan tempat khusus untuk menyimpan limbah-limbah bangunannya. Kraton yang kemudian ditutup sejak April 2017 itu, ternyata menjadikan Pendapa Magangan sebagai gudang yang tampak begitu kumuh dan kotor, hingga sedikit demi sedikit bisa dibersihkan dan ditata sejak Januari 2023 hingga kini.

“Karena jumlah yang harus ditata dan dibersihkan memang banyak, beragam dan di sejumlah titik, kerjabhakti yang sudah dilaksanakan beberapa kali selama ini, ya belum bisa tuntas juga. Maka, kejabhakti yang ini intinya untuk lebih merapikan lagi, terutama ruang Pendapa Magangan. Karena, barangkali bisa dimanfaatkan untuk kegiatan di dalam (kraton-Red)”.

“Tetapi, sejauh ini tidak ada dhawuh untuk menyiapkan Pendapa Magangan sebagai tempat pendukung kesibukan peringatan hari jadi Pakasa, nanti. Tetapi, bisa juga bagian dari persiapan Gusti Wandan yang hendak memanfaatkan tempat itu untuk kegiatan sanggar pasinaon tatabusana dan paes,” ujar KRMH Suryo Kusumo Wibowo menjawab pertanyaan iMNews.id. (won-i1).

Leave a Reply