Banyak Pesan Disampaikan Gusti Moeng dalam Peringatan 92 Tahun Putri Narpa Wandawa (seri 1 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:June 7, 2023
  • Post category:Budaya
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:7 mins read
You are currently viewing Banyak Pesan Disampaikan Gusti Moeng dalam Peringatan 92 Tahun Putri Narpa Wandawa (seri 1 – bersambung)
PEMIMPIN BARU : Tampilnya GKR Timoer Rumbai Kusumadewayani sebagai Ketua Perkumpulan Putri Narpa Wandawa di ajang resepsi peringatan hari jadi ke-92 organisasi itu, Senin (5/6) lalu, menjadi penegas proses regenerasi sedang berlangsung dan pemimpin baru mulai datang. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Warning” untuk Perjalanan Kraton Mataram Surakarta ke Depan

IMNEWS.ID – HARI Senin tanggal 5 Juni tahun 2023 ini, organisasi Perkumpulan Putri Narpa Wandawa yang pernah diinisiasi kelahirannya pada tanggal 5 Juni 1931 oleh Sinuhun Paku Buwana (PB) X, genap berusia 92 tahun. Organisasi wadah kaum perempuan kerabat masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta itu, adalah satu di antara beberapa organisasi yang lahir dari internal masyarakat adat “nagari” Mataram Surakarta. Di tahun-tahun Sinuhun PB X jumeneng nata (1893-1939), banyak juga organisasi yang berdiri di luar masyarakat adat seperti Boedi Oetama (Budi Utomo), Tiga Serangkai dan sebagainya.

Seiring dengan perubahan geo sosial politik dunia ke arah terbentuknya peradaban baru bangsa-bangsa di dunia, berbagai organisasi itu lahir dan semuanya seakan mendapat kesempatan dan dorongan untuk lahir karena ada misi dan tujuan yang sama, yaitu merintis terwujudnya sebuah wadah bangsa di Nusantara, yaitu NKRI. Oleh sebab itu, lahirnya Putri Narpa Wandawa, Perkumpulan Narpa Wandawa (wadah kaum lelaki) dan Pakasa sebagai wadah “kawula” (rakyat), bisa disebut menjadi sebuah kebutuhan sekaligus keniscayaan karena kraton juga menjadi “sponsor” pergerakan merintis kemerdekaan.

SIMBOL REGENERASI : Gusti Moeng sebagai bagian dari generasi kedua Sinuhun PB XII yang menduduki posisi Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat, sudah sejak lama mempersiapkan GKR Timoer Rumbai sebagai calon pemimpin baru atau generasi penggantinya yang kini menduduki Ketua Perkumpulan Putri Narpa Wandawa. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Peringatan hari jadi atau hari kelahiran beberapa organisasi yang menjadi elemen masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, mulai banyak diinisiasi oleh GKR Wandansari Koes Moertiyah mulai Sinuhun PB XIII jumeneng nata sejak 2004, terutama didorong oleh kebutuhan untuk mewujudkan amanat terakhir Sinuhun PB XII, yaitu kembalinya status Provinsi Derah Istimewa Surakarta. Wadah-wadah aspirasi itu sejak dilahirkan hingga berjalan memasuki zaman yang berubah, memang bukan untuk keperluan menggali potensi dukungan atau jalan untuk memudahkan terwujudnya amanat Sinuhun PB XII itu.

Tetapi, keberadaan organisasi itu memang perlu dirawat, dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan untuk mewujudkan tujuan utama lembaga masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, yaitu agar tetap eksis dan berumur panjang, sekaligus tetap terjaga harkat, martabat, kewibawaan agar terus bermanfaat bagi peradaban sepanjang zaman. Keberadaannya juga jelas untuk memperkuat upaya pelestarian seni budaya Jawa yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta, yang pada gilirannya menjadi daya dukung legitimatif bagi kraton dan segala produk peradabannya, termasuk menjadi pendukung ketahanan budaya nasional.

BERBAGAI KESEMPATAN : Melalui berbagai kesempatan, Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat yang juga generasi kedua Sinuhun PB XII, mulai memperkenalkan GKR Timoer Rumbai dan sejumlah wayah-dalem untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin kraton di masa mendatang. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Berdasar beberapa ilustrasi di atas, beberapa pesan penting yang disampaikan GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat di kesempatan resepsi Hari Jadi ke-92 Perkumpulan Putri Narpa Wandawa di Bangsal Smarakata, Seni siang 5 Juni kemarin itu menjadi sangat beralasan. Pesan tentang eksistensi Perkumpulan Putri Narpa Wandawa, tentang nama “Indonesia”, tentang berubahnya figur tokoh pengisi BPUPK menjadi PPKI dan perihal Sinuhun PB XI wafat mendadak, soal “poligami” dan sebagainya, adalah sangat urgen bagi kraton dan bagi bangsa ini.

Dalam pidato sambutan siang itu, Gusti Moeng juga menyebut sebuah peristiwa insiden “mirip operasi militer” yang dilakukan 2 ribu polisi dan 400 tentara di bulan April 2017 itu, adalah sebuah tragedi “kemanusiaan” kepada masyarakat adat karena nyaris tanpa alasan jelas. Peristiwa ini tidak dibahas lebih lanjut, tetapi bisa dianalisis sebagai tragedi “kemanusiaan yang asasi” paling buruk bagi lembaga masyarakat adat di alam kemerdekaan, paling buruk bagi kehidupan berdemokrasi dan paling buruk di negara yang mengedepankan supremasi hukum.

CALON PEMIMPIN : Sebagai Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat yang juga generasi kedua Sinuhun PB XII, Gusti Moeng sudah lama memulai mempersiapkan calon pemimpin Kraton Mataram Surakarta, dengan mengenalkan pada tugas-tugas memimpin berbagai upacara adat, misalnya Sesaji Mahesa Lawung. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pesan-pesan yang disampaikan melalui acara peringatan Hari Jadi 92 Perkumpulan Putri Narpa Wandawa itu, isinya sangat penting bagi masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta dan bagi kehidupan bangsa di NKRI ini. Tetapi ada hal penting yang patut dicatat, yaitu peristiwa respsi peringatan hari jadi itu digelar kali pertama dalam suasana “Bebadan Kebinet 2004” sudah kembali bekerja di dalam kraton. Peristiwa itu adalah kali pertama digelar di Bangsal Smarakata kraton sejak “insiden Gusti Moeng kondur Ngedhaton”, 17 desember 2022 yang dilanjutkan peristiwa “perdamaian” tanggal 3 Januari 2023.

Berbagai hal penting yang menjadi isi resepsi peringatan hari jadi itu, tentu akan tercatat dalam perjalanan sejarah kraton, terlebih peristiwa resepsinya sendiri karena menjadi resepsi hari jadi perdana bagi Perkumpulan Putri Narpa Wandawa, mengingat di tahun 2022 resepsi seperti ini hanya digelar di ndalem Kayonan, Baluwarti. Agak berbeda dengan kegiatan peringatan Hari Jadi Pakasa dengan berbagai aktivitas perayaannya, sudah digelar dua tahun berturut-turut yaitu tahun 2021 dan 2022 di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, karena memang butuh tempat yang luas untuk menampung ratusan orang.

LINTAS KEBUDAYAAN : Berinteraksi dan berkomunikasi dengan publik secara luas lintas kebudayaan dan agama, adalah modal sangat penting bagi calon pemimpin seperti lembaga masyarakat adat besar Kraton Mataram Surakarta. Misalnya seperti yang diinisiasi Gusti Moeng, hadir bersama di acara dalam rangka peringatan Hari Raya Waisak, Sabtu 3/6/2023. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selain berbagai pesan penting yang disampaikan Gusti Moeng, ada pesan khusus yang juga disampaikan dengan digelarnya resepsi peringatan hari jadi, Senin siang itu, yaitu tampilnya GKR Timoer Rumbai Kusumadewayani. Anak tertua Sinuhun PB XIII ini, sudah resmi ditetapkan menjadi Ketua Perkumpulan Putri Narpa Wandawa, untuk menggantikan sang bibi yaitu GKR Sekar Kencana yang wafat beberapa tahun lalu. Dan pada kesempatan resepsi peringatan hari jadi yang perdana di Bangsal Smarakata itu, figur ketua baru, Gusti Timoer berpidato memberi sambutan selain memotong tumpeng bersama dua bibinya, Gusti Moeng dan Gusti Ayu.

Pesan yang hendak disampaikan Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat yang notabene generasi kedua Sinuhun PB XII itu, adalah “peringatan” atau “warning” agar proses regenerasi atau tampilnya generasi muda yang juga generasi ketiga Sinuhun PB XII ditegaskan harus benar-benar berjalan. Karena, proses regenerasi kini sudah sangat mendesak untuk dilakukan, agar kesinambungan/keberlanjutan perjalanan kraton tetap terjaga dengan baik dan pelestarian budaya Jawa yang bersumber dari kraton tetap bisa terjamin keberlangsungannya di masa depan. (Won Poerwono-bersambung/i1)

Leave a Reply