Diselingi Wisuda dan Penyerahan Kekancingan di Klaten
SURAKARTA, iMNews.id – Mengawali bulan Ruwah tahun Ehe 1956, Kraton Mataram Surakarta sudah “nyadran” atau menziarahi lima lokasi makam sekaligus, masing-masing satu lokasi di Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan dan 4 lokasi di kawasan Pengging, Banyudono, Boyolali, selesai dalam sehari, Kamis (23/2). Agenda perjalanan safari “nyadran” keliling “Tour de Makam” para leluhur Dinasti Mataram, dengan tema “Caos Bhekti Tahlil” yang diinisiasi Pengageng Sasana Wilapa sekaligus sebagai pimpinan rombongan, masih akan berlanjut sampai akhir bulan Ruwah, tetapi siang tadi diselingi wisuda dan penyerahan kekancingan gelar kekerabatan bagi warga Pakasa Cabang Klaten.

makam leluhur Dinasti Mataram, Kyai Ageng Henis, yang diziarahi di awal bulan Ruwah, Kamis pagi (24/2). (foto : iMNews.d/Won Poerwono)
“Caos Bhekti Tahlil” dalam upacara adat “Nyadran” di awal bulan Ruwah, Kamis (23/2), ada lima lokasi makam yang bisa dijangkau rombongan terdiri seratusan orang yang sebagian besar berangkat dari kraton. Yaitu, Astana Pajimatan Laweyan tempat Kyai Ageng Henis dimakamkan, juga makam ibunda Sinuhun PB V, yang lokasinya di dalam Kota Surakarta. Setelah itu, berturut-turut diziarahi makam Sri Makurung Handayaningrat, makam RT Padmanagara sebagai leluhur Gusti Moeng dari garis Ibu (KRAy Pradapaningrum), makam Pujangga Jawa Mataram Surakarta RNg Jasadipura (Yosodipura) dan makam Kebo Kenanga yang ada di wilayah Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali.

“Yang di sini ini sebenarnya hanya petilasannya saja. Tapi enggak apa-apa. Kita inginnya mengajak masyarakat luas untuk memuliakan para leluhur, sebagai cara berbhakti atau ‘mikul dhuwur mendhem jero’, mengingat jasa-jasa beliau terhadap peradaban. Makam eyang Kebo Kenanga yang sebenarnya, jadi satu di Astana Pajimatan Butuh, Kecamatan Plupuh, Sragen. Sebentar lagi akan kita ziarahi,” jelas GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Pengageng Sasana Wilapa yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), menjawab pertanyaan iMNews.id, kemarin.

Sebelum agenda “Caos Bhekti Tahlil” Nyadran keliling “Tour de Makam” berlanjut, Minggu besok (26/2) di sejumlah lokasi makam di Kabupaten Ponorogo (Jatim), Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng mengisi hari ini mewisuda dan menyerahkan 160 partisara kekancingan gelar kekerabatan kepada warga Pakasa Cabang Klaten yang dipimpin KP Probonagoro. Upacara wisuda dan penyerahan kekancingan berlangsung di Pendapa Kabupaten Klaten, yang juga diikuti rombongan dari kraton, di antaranya KPHA Sangkoyo Mangunkusumo yang bertugas menguraikan dasar hukum pemberian kekancingan.

Minggu (26/2) besok, rombongan dari kraton yang dipimpin Gusti Moeng akan menggelar “Caos Bhekti Tahlil” di Astana Pajimatan Desa Setono, Kecamatan Jenangan makam Bupati Ponorogo yang pertama, yaitu Bupati Bathara Katong. Kemudian dilanjutkan ke makam tokoh eyang Jayengrono di Desa Pulung Merdiko, Kecamatan Pulung, makam Kyai Mohammad Khasan Besari di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis dan petilasan Sunan Kumbul, tempat meditasi Sinuhun PB II di Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo.

(foto : iMNews.d/dok)
“Eyang Jayengrono, pengikut setia Sinuhun PB II. Setelah bisa merebut kembali Kraton Kartasura dan mendapatkan Desa Sala sebagai calon kraton baru (Mataram Surakarta), eyang Jayengrono baru diizinkan pulang ke Ponorogo,” jelas KRRA MN Gendut Wreksodiningrat, Ketua Pakasa Cabang Ponorogo (Jatim) yang dimintai konfirmasi iMNews.id, siang tadi, soal rencana kedatangan rombongan Gusti Moeng menjalankan agenda ritual “nyadran” di Ponorogo selama sehari, Minggu besok. (won-i1)