Rapat Rutin Minggu Kliwon, Pakasa Bahas Perkembangan Organisasi

  • Post author:
  • Post published:February 7, 2022
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read

Tatacaranya Berbeda, Proses Pembentukan Pengurus dari Pusat Sampai Cabang

SOLO, iMNews.id – Kepengurusan Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Pusat (punjer), Minggu (6/2) siang kemarin menggelar rapat organisasi dengan menghadirkan Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta, GKR Wandansari Koes Moertiyah. Rapat yang diikuti beberapa utusan pengurus cabang/daerah secara langsung sekitar 40 orang, digelar di ndalem Kayonan, Baluwarti, yang juga bisa diikuti sejumlah pengurus dari daerah lain di Jateng dan Jatim secara zoom.

Dari diskusi dan tanya-jawab antara KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Punjer (Ketua Pusat) Pakasa dengan para pengurus cabang, secara umum membahas perkembangan organisasi mulai dari tingkat pusat ke cabang-cabang. Saran GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng selaku Ketua LDA sekaligus Pengageng Sasana Wilapa, juga memberi pandangan dan saran terhadap upaya-upaya pengembangan terutama di tingkat cabang.

”Karena Pakasa bukan organisasi politik, atau sekadar organisasi budaya, maka pengembangannya menggunakan tatacara budaya. Jangan menggunakan tatacara politik. Jadi, mungkin proses dan bentuknya tidak sama dengan organisasi politik. Karena itu tadi, Pakasa bukan organisasi politik,” tandas KPH Edy Wirabhumi saat memberi jawaban atas pertanyaan dan usul beberapa pengurus cabang yang kebanyakan melalui zoom virtual, Minggu siang itu.

PAKASA KEBUMEN : Ketua Pakasa Cabang Kebumen, melalui zoom mengusulkan adanya sosialisasi tentang titik hubungan kekerabatan antara daerah Kabupaten Kebumen dengan Keraton Mataram Surakarta, agar masyarakat luas di wilayah itu paham betul dan mendatangkan kekuatan bagi upaya pelestarian budaya dan peradaban. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Usul, saran dan pertanyaan ada datang dari para pengurus yang hadir secara langsung dan rata-rata dari wilayah Solo Raya atau eks Karesidenan Surakarta, di antaranya Pakasa Cabang (Kabupaten) Klaten, Grobogan, Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Sukoharjo serta Cabang Trenggalek dan Ponorogo (Jatim). Sedang yang mengikuti secara zoom virtual, rata-rata dari luar Solo Raya yaitu Jepara, Cilacap, Kebumen dan Magelang untuk wilayah Jateng, sedang dari Jatim yaitu Pakasa Cabang Sidoarjo, Nganjuk, Blitar, Kediri, Malang dan Tulungagung.

Dari Cabang Sidoarjo meminta saran soal keberadaan sekretariat yang masih menumpang, Pangarsa Punjer memberi kewenangan kepada pengurus cabang untuk merembug keperluan-keperluan organisasi di tingkat cabang, termasuk pengembangan organisasinya. Pengurus cabang memiliki keluwesan dan ”keprigelan” untuk melakukan hal-hal yang sesuai karakter daerah setempat, dalam mengembangkan organisasi.

”Dalam hal seperti itu, saya kira pengurus cabang lebih paham. Tetapi perlu diingat, Pakasa bukan organisasi politik. Jadi, tatacara pengembangan dan penataannya yang luwes saja, jangan menggunakan tatacara politik. Karena, Pakasa organisasi budaya,” tandas KPH Edy Wirabhumi.  

Tiap Minggu Kliwon

MENGIKUTI LANGSUNG : Para pengurus Pakasa Cabang yang mengikuti langsung di tempat pertemuan yang digelar Pakasa Pusat, Minggu (6/2) siang. Ada pengurus Pakasa dari Ponorogo, bahkan Trenggalek yang naik motor menempuh waktu sekitar 4 jam, untuk sampai di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, dalam saran dan penjelasannya, Gusti Moeng selaku Ketua LDA menambahkan, pengembangan organisasi Pakasa memang lebih longgar atau sederhana dibanding pengembangan anggota Pasipamarta atau paguyuban lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara. Menurutnya, dua hal itu agak beda prosesnya ketika sama-sama ada anggota baru yang ingin mendapatkan ”label kekerabatan”, karena Pakasa lebih longgar dan yang lewat Sanggar Pasinaon Pambiwara harus melalui proses studi kursus yang lebih ketat selama 8 bulan.

Di tempat terpisah, Ketua Pakasa Cabang Jepara KRAT Bambang Setiawan Hadipuro yang dihubungi iMNews.id meminta maaf Cabang Jepara tidak bisa mengikuti rapat melalui zoom virtual maupun datang langsung ke Kayonan, Baluwarti, Minggu siang (6/2). Namun cabangnya punya harapan, untuk mempererat antara Pakasa Pusat (Punjer) dengan cabang, perlu diadakan pertemuan rutin sebulan sekali, dan secara tidak langsung Gusti Moeng menjawab, pertemuan Pakasa rutin digelar di Solo tiap Minggu Kliwon atau 35 hari sekali.

KRAT Bambang juga berharap, ada program kerja atau kegiatan yang bisa menyinergikan antara Pakasa Punjer dan cabang, di antaranya melalui informasi jadwal kegiatan upacara adat yang digelar di keraton rutin tiap tahunnya. Sementara itu, Melalui Sekretaris Cabang, KRT Ola, Pakasa Trenggalek (Jatim) mengharap bantuan bimbingan/tenaga untuk pengembangan potensi karawitan dari Pakasa pusat, agar sewaktu-waktu Pakasa Trenggalek bisa tampil di Keraton Mataram Surakarta. (won-i1)