Kamis, 2 Desember 2021
Regional GKR Retno Dumilah Meninggal, Keraton Mataram Surakarta Kembali Berkabung

GKR Retno Dumilah Meninggal, Keraton Mataram Surakarta Kembali Berkabung

Baca Juga

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...

Istana Maimun Medan Akan Dikembalikan Menjadi Ikon Kota

Dikunjungi Ketua DPD RI dan Disaksikan Ketua MAKN MEDAN, iMNews.id – Ketua DPD RI AA LaNyala Mahmud Mattalitti yang belakangan...
~Pariwara~

Mengeluh Badan Lemas di Tengah Menikmati Gerhana Bulan

SOLO, iMNews.id – Satu lagi, adik kandung Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII yang bernama GKR Retno Dumilah  SH MKn meninggal dunia di usianya yang ke-67 tahun pada Rabu malam (26/5) sekitar pukul 19.00 WIB. Kakak kandung GKR Wandansarti Koes Moertiyah atau Gusti Moeng yang sehari-hari berprofesi sebagai notaris itu, mengeluh badannya lemas saat makan malam di sebuah rumah makan di Tawangmangu, di sela-sela menikmati gerhana bulan total di kawasan objek wisata di Kabupaten Karanganyar itu, tadi malam.

”Karena lokasinya lebih dekat menjangkau Puskemas Plaosan, Magetan (Jatim), maka Gusti Retno dilarikan ke sana agar segera mendapatkan pertolongan. Rupanya, Puskesmas tidak punya peralatan lengkap dan dokternya hendak merujuk ke rumah sakit terdekat. Tetapi dalam hitungan menit, almarhumah menghembuskan nafas terakhir. Jadi, langsung dibawa ke Solo, masuk RS Dr Moewardi dan baru sekitar pukul 02.00 WIB, jenazah tiba di Pendapa Sasanamulya,” jelas KRMH Kusumo Wibowo (45), menjawab pertanyaan iMNews.id yang meminta konfirmasi kabar duka tersebut, tadi siang.

MENGAJAK BERDOA : Pemerhati keraton dan budaya Jawa bidang spiritual KRT Hendri Rosyad Wrekso Puspito, tampak melayat dan mengajak KGPH Puger untuk mendoakan jenazah GKR Retno Dumilah di Pendapa Sasanamulya, menjelang dilepas menuju tempat pemakammnya di Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY). (foto : iMNews.id/dok)

Meninggalnya GKR Retno Dumilah yang bernama kecil GRAy Koes Isbandiyah itu, kembali membuat sedih kalangan kerabat dan seluruh masyarakat adat yang terwadahi dalam Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta, karena belum lama kehilangan KRAy Retnodiningrum (iMNews.id, 16/5). Istri Sinuhun PB XII yang paling terakhir meninggal dari enam garwa ampilnya itu, meninggal di usia 93 tahun dan dimakamkan kompleks makam keluarga raja-raja Mataram Surakarta atau Pakubuwanan di Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY), Jumat (14/5).

Jenazah GKR Retno Dumilah, Kamis (27/5) siang tadi sekitar pukul 11.00 WIB, dilepas ratusan pelayat dengan sebuah upacara adat yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertiyah di Pendapa Sasanamulya, kawasan Keraton Mataram Surakarta, Baluwarti. Seterusnya, siang tadi jenazah dibawa dalam iring-iringan mobil jenazah ke Astana Pajimatan Imogiri, untuk dimakamkan sekompleks dengan makam beberapa tiga kakak kandung yang sudah mendahului yaitu GKR Galuh Kencana, GKR Sekar Kencana dan KGPH Kusumoyudo.
Kepergian GKR Retno, adalah duka beruntun yang dialami keluarga besar Keraton Mataram Surakarta dan dirasakan khususnya yang masih tersisa dari 10 bersaudara yang lahir dari garwa ampildalem KRAy Pradapaningrum. Duka beruntun bahkan bertubi-tubi, terutama dialami Gusti Moeng selaku adik kandung sekaligus pimpinan LDA dan Pengageng Sasana Wilapa, yang selama ini ebrada satu barisan dengan almarhumah, tetap konsisten dan berjuang terus untuk menegakkan paugeran adat, walau sampai ”disingkirkan” dan berjuang di luar sejak insiden April 2017.

MENYUSUL DUA PENDEKAR : GKR Retno Dumilah (ketiga dari kiri) adalah satu di antara enam wanita pendekar penegak paugeran adat yang menyusul dua kakak kandungnya yang lebih dulu meninggal, yaitu GKR Galu Kencana (dua dari kanan) dan GKR Sekar Kencana (pertama dari kiri).(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Di Pendapa Sasanamulya, memang tampak melayat kakak kandung tertua yang tidak lain adalah Sinuhun PB XIII. Tetapi, kakak-kakak yang lain seperti KGPH Benowo dan KGPH Madu Kusumoagoro tak kelihatan hadir, kecuali KGPH Puger yang ikut mendampingi Gusti Moeng selaku tuan rumah atau keluarga yang berduka. Namun di Astana Pajimatan, kalangan putra-putri Sinuhun PB XII lebih banyak yang tampak melayat, termasuk Sinuhun PB XIII.

Kini, dari 10 bersaudara yang lahir dari KRAy Pradapaningrum itu tinggal tersisa 6 orang masing-masing Sinuhun PB XIII (tertua), KGPH Puger, KGPH Benowo, KGPH Madu Kusumonagoro, Gusti Moeng dan sibungsu GKR Ayu Koes Indriyah.  Namun, friksi yang mendera kalangan putra/putridalem Sinuhun PB XII sejak suksesi 2004 dan diperparah insiden 2017, telah memisahkan mereka antara Gusti Moeng, KGPH Puger, Gusti In (GKR Ayu Koes Indriyah) dan empat saudara kandung dalam satu barisan, sementara Sinuhun PB XIII bersama semua yang lain berada dalam satu barisan di seberang.

Almarhumah GKR Retno yang akrab disapa Gusti Retno atau Gusti Is, selain posisinya sebagai Pengageng Pasiten, sehari-hari berprofesi sebagai notaris yang berkantor di kawasan sisi timur Alun-alun Lor. Ia meninggalkan dua anak lelaki yang semuanya sudah berkeluarga, yaitu KRMH Herjuno Suryo Wijoyo dan KRMH Aditya Suryo Harbanu SH. Sejak ”diusir” bersama Gusti Moeng dan seluruh barisannya dalam insiden ”mirip operasi militer” April 2017, ia tinggal bersama keluarga salah seorang puteranya. (won)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

More Articles Like This