Kamis, 2 Desember 2021
Regional "Gong" Terakhir Nyadran Gede Pakasa Banjarnegara, Jumat Hari Ini

“Gong” Terakhir Nyadran Gede Pakasa Banjarnegara, Jumat Hari Ini

Baca Juga

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...

Istana Maimun Medan Akan Dikembalikan Menjadi Ikon Kota

Dikunjungi Ketua DPD RI dan Disaksikan Ketua MAKN MEDAN, iMNews.id – Ketua DPD RI AA LaNyala Mahmud Mattalitti yang belakangan...
~Pariwara~

Ketua Pakasa Jepara Sumbang Papan Nama untuk Makam

BANJARNEGARA, iMNews.id – Meski masih dalam suasana pandemi Corona, namun tidak menjadi penghalang bagi warga Pakasa Cabang (Kabupaten) Banjarnegara untuk tetap menjalankan ritual tradisi Nyadran Gede di sejumlah makam leluhur yang ada di wilayah kabupaten itu. Walau terbatasi protokol Covid 19, warga Pakasa setempat bisa menggelar ritual itu di beberapa titik secara serentak Kamis (8/4), dan akan ditutup dengan Nyadran Gede di makam Sunan Kalijaga, Jumat (9/4) hari ini, sebagai ”gong” atau penutup.

”Jumat (9/4) besok (hari ini-Red), nyadran di makam Ki Ageng Giring. Nyadran di Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan itu jadi gong, penutup rangkaian kegiatan nyadran Pakasa cabang dan anakcabang di masing-masing kecamatan. La, yang nyadran Kamis (8/4) hari ini (kemarin-Red), serentak di tiga tempat. Pengurus cabang harus berpencar berbagi tugas, agar semua titik lokasi makam bisa dihadiri,” ujar KRAT Eko Budianto Tirtonagoro selaku Ketua Pakasa Cabang Banjarnegara, menjawab pertanyaan iMNews.id, semalam.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya (iMNews, 18/3), ritual Nyadran Gede yang diselenggarakan dalam suasana normal sebelum ada pandemi Corona sejak 5 tahun silam, dipusatkan di kompleks makam Adisara tempat bersemayam Sunan Kalijaga di Desa Glempang, Kecamatan Mandiraja.

Ritual itu sudah sejak lama digelar masyarakat setempat, tetapi kemudian dikemas menjadi objek wisata spiritual religi sejak ada pengurus Pakasa Cabang, yang bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Pemkab, dan didukung dana APBD sebesar Rp 25 juta.

Tetapi berhubung ada pandemi Corona, tutur KRAT Eko, Nyadran Gede di kompleks Makam Adisara atau makam Sunan Kalijaga tahun 2020, terpaksa ditiadakan. Meliburkan ritual yang biasanya mengundang pengunjung sampai ribuan orang di makam Sunan Kalijaga itu, tahun ini juga masih ditiadakan, agar tidak terjadi kerumunan yang bisa memicu penularan atau klaster baru.

SELALU MENARIK : Pemandangan saat warga Pakasa menggelar menggelar aneka menu makanan khas setempat dari tenggok yang mereka bawa dari rumah, Jumat tadi pagi, selalu menjadi pemandangan menarik setiap berlangsungnya event Nyadran Gede di bulan Ruwah menjelang Ramadhan. (foto : iMNews.id/dok)

”Sebagai gantinya, bantuan APBD senilai Rp 25 juta itu dialihkan untuk Nyadran Gede di makam Ki Ageng Giring, di Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Jumat (9/4) hari ini. Juga di tiga titik lokasi lain secara serentak, pada Kamis (8/4) kemarin”. Di antara tiga titik yang bersamaan, termasuk Makam Adisara (makam Sunan Kalijaga). Tetapi tidak dijadikan pusat kegiatan, untuk menghindari datangnya pengunjung atau kerumunan dalam jumlah besar,” jelas KRAT Eko.

Pemindahan pemusatan event Nyadran Gede itu, menurut KRAT Eko berhasil memberlakukan protokol kesehatan, karena hanya dihadiri sekitar 50 orang yang kebanyakan pengurus Pakasa Anak Cabang. Sementara, Nyadran Gede di dua makam lainnya yaitu Makam Trenggiling, Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan dan makam Ki Sepang di Desa Kemranggon, Kecamatan Susukan, juga bebas dari kunjungan peziarah, karena masing-masing juga hanya dihadiri sekitar 50-an orang.

Seperti biasa, pelaksanaan event ritual Nyadran Gede itu, intinya adalah berziarah, berdoa tahlil dan dzikir di makam leluhur, sekaligus bersantap bersama aneka menu khas tradisi setempat yang dibawa dari rumah untuk didoakan di makam. Aneka menu yang diwadahi tenggok dan dibawa peserta itu, selain disantap bersama-sama di tempat, sisanya dibawa pulang untuk disantap sekeluarga masing-masing.

”Meski masih prihatin, karena animo masyarakat luas yang biasanya berdatangan berziarah belum bisa diakomodasi pada Nyadran Gede tahun ini, tetapi insya Allah semua berjalan lancar dan aman. Bahkan ada kejutan yang menggembirakan kami semua. Karena Ketua Pakasa Cabang Jepara menghadiahkan sepasang papan nama Makam Adisara, yang diserahkan kepada Kades Glempang (Mandiraja). Sekarang, sudah terpasang di dinding tembok makam,”jelas KRAT Eko seraya menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan itu. (won)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

More Articles Like This