Kalangan “Putra-Wayah” Agar di Depan Menjadi Contoh Pelestarian
IMNEWS.ID – PERISTIWA penuh makna dan bersejarah, pentas wayangan menandai malam sakral “malem Anggara Kasih ageng” yang digelar Senin malam (19/10) lalu, salah satunya adalah mengembalikan tradisi “ngisis ringgit” dalam bentuk pentas wayang kulit tiap weton selapan sekali yang pernah dilakukan Sinuhun PB IV. Di kesempatan itu, dalang Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka juga melempar “pesan”.
Pesan penting itu disampaikan dalam adegan “parekan Limbuk-Cangik” menutup “jejer pisowanan” Kraton Amarta. Melalui dua tokoh “abdi-dalem” itu, Ki KPH Dr Lintang menyentil kalangan “wayah-dalem” secara luas, untuk menjadi contoh teladan dalam upaya pelestarian Budaya Jawa dan menjaga kelangsungan kraton. Mereka diharapkan menjadi contoh rajin resik-resik, membersihkan/merawat kraton.

“…Ndhisik, zaman Sinuhun PB X, putra/putri-dalem orang mung kepenak thenguk-thenguk, mangan, turu diladosi. Ning ya duwe kewajiban padha karo para abdi-dalem yang gaweane resik-resik. Para putra/putri-dalem wajib nyekel sapu karo sulah, resik-resik kraton saben dina sing ditentokne, rutin. Dadi, kabeh papan ing kraton saben dina karon resik terus,” tandas Ki KPH Dr Lintang menyentil.
Sentilan dalam bahasa pedalangan Jawa “ngoko” saat terjadi percakapan atau “antawecanan” antara mbok Cangik dan Limbuk (anaknya) di forum pertunjukan wayang kulit itu, sungguh terasa menyentil daun telinga agak pedas. Namun, gaya kritik dan lemparan pesan edukasi yang disampaikan Ki KPH Dr Lintang itu, tak begitu terasa karena terbungkus dalam nada bercanda atau “guyon” ringan, segar.

Tetapi, pesan edukatif yang dilempar Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta itu bisa dimaknai sebagai suatu peringatan keras. Tujuannya untuk merubah suasana mapan yang terjadi begitu lama di lingkungan kraton, yang dianggap sudah menjadi bagian karakter dasar insan di dalam lingkungan kraton. Bahkan, bagian itu dianggap identik dengan masyarakat adat di dalam kraton.
Pesan keras Ki KPH Dr Lintang itu bisa dikategorikan “auto critic” atau kritik yang disampaikan dari dalam lingkungannya sendiri, untuk tujuan perubahan ke arah kebaikan. Kritik itu disampaikan, tentu karena ada bagian dari karakter dasar yang dinilai kurang baik dan perlu dirubah. Bahkan, aksi perubahan itu bisa dijadikan contoh teladan bagi orang lain, berbagai elemen masyarakat adat.

Ki KPH Dr Lintang adalah seorang cucu Sinuhun PB X yang mengenyam pendidikan tinggi, dan banyak berada di lingkungan pegawai pemerintah mengingat tugas fungsionalnya sebagai dosen pengajar di FEB UNS. Oleh sebab itu, ia banyak mendapat pelajaran karakter dasar tentang tertib dan disiplin dalam bertugas, juga edukasi tentang keteladanan dan bagaimana menjaga kebersihan.
Kesadaran yang datang dari dirinya, mungkin dirasa belum cukup untuk memulai sebuah perubahan besar. Karena diperlukan momentum dan contoh dari dalam yang bisa diteladani. Maka, melalui media pentas wayang itu, tradisi “resik-resik” kraton sebagai kewajiban para “wayah-dalem” Sinuhun PB X, dijadikan contoh teladan gagasan melakukan perubahan di lingkungannya, masyarakat adat kraton. (Won Poerwono-bersambung/i1)
