Pelan-pelan, Kepalsuan Itu Terbukti, Mereka Bagian dari Misteri
IMNEWS.ID – MEMANG benar sebuah pertanyaan singkat yang pernah dilontarkan Gusti Moeng kepada penulis : “Menurut anda (sampeyan) gimana?”. Pertanyaan yang disampaikan kira-kira mendekati menara Panggung Sangga Buwana itu mulai direvitalisasi tahun 2025 lalu, tertuju pada alamat tertentu. Dan alamat itu kini semakin jelas “titik lokasinya”, dan jelas pula profil identitas aslinya.
Penulis yang mendapat pertanyaan tiba-tiba, tak langsung menjawab meskipun sudah tahu alamat yang dimaksud. Setelah beberapa saat kemudian, pertemuan singkat di teras Nguntarasana itu penulis hanya menjawab :”Sekarang belum jelas (samar-samar). Tetapi nanti bisa dilihat dan dibuktikan, seiring dengan waktu”. Setelah wawancara singkat itu, hingga kini belum pernah bertemu membahas soal itu.
Tentu saja, membahas soal tokoh yang ada di balik misteri dukungannya terhadap Sinuhun PB XIV. Gusti Moeng selaku Pangageng Sasana Wilapa/Ketua LDA, tentu punya referensi yang begitu banyak soal siapa saja di balik peristiwa suksesi tahun 2004. Walau hanya melihat dari luar kraton, penulis juga punya referensi dan pemahaman berdasar hasil diskusi berbagai sumber terutama di dalam kraton.

Dari hasil berbagai diskusi yang didapat, tentu menjadi bahan yang cukup untuk menganalisis peran para tokoh yang berada di balik peristiwa pergantian tahta di tahun 2004. Terutama, tokoh yang berkait dengan pertanyaan singkat Gusti Moeng di atas. Dari hasil berbagai diskusi itu pula, kini bisa melahirkan analisis soal peran tokoh yang ternyata telah membuat banyak orang “kecelik”.
Analisis yang melukiskan kepalsuan peran seorang tokoh utama, analoginya mirip sejumlah tokoh lain yang pernah tampak mendukung tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi. Artinya, beberapa tokoh lain yang pernah tampak itu memang tidak semenonjol tokoh utama itu, karena peran mereka tidak sepenting tokoh utama. Tetapi, analogi itu diberlakukan karena mereka semua “menghilang bersama-sama”.
Karena sudah terbongkar kepalsuan tokoh utamanya, maka ketika ditimbang bobot dukungan para tokoh generasi kedua Sinuhun PB XII yang sejak awal (13/11/2025) sudah tampak di muka publik, kini bisa dianalogikan sama, “tidak mendukung”. Kalau tokoh utamanya membungkus kepalsuan dengan pura-pura, tetapi para tokoh yang lain hanya sekadar menunjukkan diri masih ada, tetapi punya agenda lain.

Dengan begitu, maka ada kesimpulan sementara, bahwa satu-satunya putra-dalem Sinuhun PB XII yang bisa disebut tulus-ikhlas lahir-batin mendukung Sinuhun PB XIV Hangebehi hanya KGPH Madu Kusumonagoro. Ia adalah satu-satunya putra-dalem Kanjeng Ratu Ageng yang hadir menyematkan bross di dada Sinuhun PB XIV, sebagai tanda kesungguhannya ikut “memuliakan” keponakan menjadi “pemimpin baru”.
Karena hanya satu-satunya lelaki dari belasan putra-dalem Sinuhun PB XII yang mewakili “sesepuh”, maka KGPH Madu Kusumonagoro-lah satu-satunya paman yang pantas “dimuliakan”. Mereka yang menghilang bersama-sama itu jelas “tidak mau” dimuliakan, kalau tidak boleh disebut “tak layak”. Padahal, kemuliaan datang dari berbagai penjuru, yang ikhlas diberikan berbagai elemen masyarakat adat.
Dengan menghilangnya sebagian besar tokoh “sesepuh” yang pernah dihadirkan mulai awal perjalanan “menuju tahta” itu, maka sisi misterius di balik dukungan untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi sudah terbuka/terbongkar. Kini sudah tak ada lagi misteri, karena dukungan legitimasi beberapa gelintir tokoh itu, “palsu”. Dukungan berbagai elemen masyarakat adat jauh lebih besar, tulus dan nyata.

Dalam pengetahuan komunikasi modern, seseorang bisa menjadi terkenal karena “trending topic” pemberitaan di berbagai media (teknologi informasi) karena hal baik, ideal dan positif, ataupun sebaliknya. Semakin seseorang tampil di media, apalagi menjadi “trending topic” hal-hal baik/ideal, akan semakin tersimpan di memori/opini publik. Tetapi, belum tentu sesering itu bagi yang tak ideal (buruk).
Di era teknologi internet digital sekarang ini, memang sudah terbukti banyak yang memanfaatkan untuk mengunggah konten video berisi informasi yang melawan “mainstream” (buruk, negatif/tak ideal). Tetapi, publik umumnya punya pedoman dan takaran. Hal-hal baik/postif/ideal akan lebih banyak diterima dan dikenang, tetapi dirinya membatasi informasi yang sifatnya bertentangan dengan kewajaran.
Dalam psikologi informasi juga menyebut, seseorang yang semakin jauh dari media (komunikasi mainstream) atau tak punya jejak eksistensi, akan semakin tidak dikenal dan hilang dari memori publik. Dia akan dianggap asing dan tak akan mendapat perlakuan yang memuliakannya, meskipun pantas dimuliakan. Terlebih, bagi yang pernah terkenal/dikenal karena hal-hal buruk, negatif dan tak ideal. (Won Poerwono-habis/l1)
