Pentas Sinuhun PB XIV Hangabehi, Cara Memuliakan Pusaka Leluhur (seri 5-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Pentas Sinuhun PB XIV Hangabehi, Cara Memuliakan Pusaka Leluhur (seri 5-bersambung)
SALAM HORMAT : Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka memberi salam hormat saat datang hendak menunaikan tugas melanjutkan "jejeran" berikut pentas wayang "malem Anggara Kasih", melanjutkan tradisi Sinuhun PB IV, belum lama ini. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tepat Sekali, Melanjutkan Tradisi Wayangan Anggara Kasih, Karya Sinuhun PB IV

IMNEWS.ID – JIKA melihat dari sisi kekaryaannya, Sinuhun PB IV jumeneng-nata (bertahta) selama 32 tahun (1788-1820) terkesan “untuk membayar utang” yang dimiliki dua leluhurnya, yaitu Sinuhun PB II (kakek) dan Sinuhun PB III (ayah). Dari sisi kekaryaan itu, tampak sekali Sinuhun PB IV benar-benar “memanfaatkan waktunya” untuk berproduksi karya sebanyak-banyaknya agar utang terbayar lunas.

Perjalanan kekaryaan itu memang baru terbaca dan bisa dimaknai seperti itu di saat sekarang. Tetapi sejatinya Sinuhun PB IV sendiri tidak mungkin mengenal punya waktu (jumeneng-nata) panjang dan harus memanfaatkannya dengan produksi karya sebanyak-banyaknya. Ini hanya sekadar istilah, penilaian, pengkategorian dan pemaknaan atas produktivitas seorang pemimpin Dinasti Mataram Surakarta.

PATUT DIAPRESIASI : Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka melalui adegan “Limbuk-Cangik” menyampaikan apresiasi kepada Sinuhun PB XIV Hangabehi yang kembali melanjutkan tradisi wayang “malem Anggara Kasih”, rutin tiap 35 hari sekali. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Penilaian, pemaknaan dan berbagai istilah lain untuk memaknai itu, sebagai upaya untuk memudahkan generasi anak-cucunya, termasuk generasi bangsa yang hidup sekarang dan kelak, bisa mengenali dan mengidentifikasi tempatnya berdiri (hidup). Dengan mengasah daya nalar dan kritisnya, bisa belajar, meneladani dan mendorong semangat berkarya, lalu membandingkan dengan karya-karya leluhurnya.

Oleh sebab itu, di sinilah letak posisi penting dan ideal kebangkitan cabang-cabang seni di Kraton Mataram Surakarta yang diinisiasi Sinuhun PB XIV. Kegiatan melanjutkan tradisi wayangan tidap “seton selapan” (35 hari) sekali pada “malem Anggara Kasih” (Selasa Kliwon), memiliki banyak fungsi dan makna. Salah satunya, mengedukasi cara mengukur di mana produk kekaryaan dirinya?.

IKUT MENANDAI : Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka sebagai dalang utama pentas wayang tradisi “malem Anggara Kasih”, Senin (19/10) lalu, ikut menandai sejarah kebangkitan tradisi rutin wayangan yang pernah dicanangkan Sinuhun PB IV. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Fungsi dan makna lain, untuk meletakkan karya-karya para leluhur pendahulu yaitu karya Sinuhun PB IV sebagai pembanding atau tolok-ukur karya-karya yang dihasilkan kini, juga para generasi pemimpin penerusnya kelak. Dengan cara itu, Sinuhun PB XIV Hangabehi bisa dipahami punya tujuan mendorong generasinya dan generasi masyarakat adat serta bangsanya kini dan kelak, untuk terus produktif.

Produktif dalam berkarya di berbagai bidang yang bermanfaat bagi kehidupan secara luas, maupun produktif untuk memaknai kelanjutan eksistensi dan perjalanan Dinasti Mataram khususnya Kraton Mataram Surakarta. Dengan membaca gebrakan Sinuhun PB XIV Hangabehi menggelar wayangan Anggara Kasih itu, tujuan yang dicapai jelas ingin memuliakan karya-karya leluhur utamanya Sinuhun PB IV.

DISKUSI PENYAJIAN : Sebagai tokoh sentral peristiwa bersejarah melanjutkan tradisi wayang tiap “malem Anggara kasih”, Sinuhun PB XIV Hangabehi yang akan “mucuki” berdiskusi dengan Ki KPH Dr Lintang yang selaku dalang utamanya. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selama 32 tahun Sinuhun PB IV bertahta, terbaca sebagai waktu yang panjang dan ternyata diisi dengan begitu banyak kekaryaan tokoh pemimpin Dinasti Mataram Surakarta ini. Yang jelas, era kepemimpinannya merupakan era yang sudah lepas dari tugasnya melengkapi bangunan infrastruktur Ibu Kota Mataram Surakarta. Oleh sebab itu, Sinuhun PB IV sangat leluasa berkarya utamanya di bidang seni.

Baik peneliti sejarah Dr Purwadi maupun penelaah buku “Sinuhun PB V; Sinuhun Sugih” KPP Nanang Soesilo Sindoeseno Tjokronagoro, banyak mendapati karya-karya Sinuhun PB IV terutama karya di bidang seni-budaya. Ternyata dari kajian sejarah Sinuhun PB IV itu, ada analisis yang menyebut masa 32 tahun Sinuhun PB IV sangat produktif dalam berbagai karya, karena dibantu Pangeran Adipati Anom.

MENYAKSIKAN BERSAMA : Setelah “mucuki” pentas, Sinuhun PB XIV Hangabehi menyaksikan bersama seluruh yang hadir pada malam kebangkitan tradisi wayangan “malem Anggara Kasih”, Senin malam (19/10) lalu. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ketika dianalisis lebih lanjut, masa jumeneng-nata Sinuhun PB V yang hanya tiga tahun (1820-1823), ternyata waktunya “dihabiskan” membantu ayahandanya berkarya. Saat masih berstatus “putra mahkota”, Pangeran Adipati Anom yang terlahir dengan nama “RNG Sugandi” itu, seperti sudah ditakdirkan lebih banyak berkarya saat muda dibanding saat bergelar Sinuhun PB V menggantikan ayahnya.

Dengan perkembangan fakta seperti ini, maka sangat wajar Sinuhun PB IV disebut benar-benar banyak karyanya, produktivitasnya sangat tinggi karena masa tahta panjang, dan masih dibantu sang putra mahkota, RMG Sugandi. Oleh sebab itu, Sinuhun PB XIV Hangabehi tidak salah menjatuhkan prioritas pilihan program yang di awal eranya, yaitu melanjutkan tradisi “wayangan weton” Anggara Kasih. (Won Poerwono-bersambung/i1)