Sabtu Besok, 102 Siswa Semua Babaran Sanggar Pasinaon Kraton Surakarta Diwisuda

  • Post author:
  • Post published:May 22, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Sabtu Besok, 102 Siswa Semua Babaran Sanggar Pasinaon Kraton Surakarta Diwisuda
KETERANGAN PERS : Dr KPH Raditya Lintang Sasangka (Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara) memberi keterangan pers dalam konferensi yang diadakan bersama para dwija dan pamong sanggar di rumah makan Kusuma Sari, Jumat (22/5) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Walau Kecil, Trend Animo Peminat Terus Naik. Tetapi Kehilangan Dua Cabang

SURAKARTA, IMMnews.id – Dalam situasi dan kondisi yang tak menguntungkan bagi pelestarian Budaya Jawa, yang ditandai penggerusan budaya asing yang makin masif, tetapi trend animo peminat belajar di Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Surakarta malah naik. Walau angkanya kecil, tetapi terus bertambah. “Kehilangan” dua “pang” (cabang) sanggar yaitu di Tulung Agung dan Malang (Jatim) jadi tantangan serius.

“Yaitu, walau situasi dan kondisi secara umum semakin banyak tantangannya, tetapi trend animo peminta belajar di Sanggar Pasinaon Pambiwara kraton terus naik. Walau angka kenaikannya kecil. Tetapi terus naik. Memang aneh. Padahal, ada lembaga kursus lain yang masih eksis dan beroperasi. Tetapi, sanggar di kraton tetap tinggi peminatnya,” ujar Dr KPH Raditya Lintang Sasangka menjelaskan.

TANYA-JAWAB : Dr KPH Raditya Lintang Sasangka (Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara) melayani tanya-jawab para wartawan, dalam konferensi pers yang digelar bersama para dwija dan pamong di rumah makan Kusuma Sari, Jumat (22/5) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta yang bernama kecil BRM Bambang Irawan itu, menegaskan hal di atas saat menjelaskan berbagai hal di acara konferensi persnya. Pertemuan yang melibatkan “dwija” (guru) dan pamong sanggar di rumah makan Kusuma Sari (Solo), siang tadi, juga dijelaskan soal eksistensi, sejarah berdiri sanggar dan rencana wisuda lulusan di Bangsal Smarakata, besok.

Dalam tanya-jawab dengan para wartawan diungkapkan Dr KPH Raditya Lintang Sasangka, bahwa wisuda siswa lulusan (purnawiyata) sanggar Babaran (angkatan) 43 tahun 2026 akan tetap digelar di Bangsal Smarakata. Dalam pelepasan lulusan saja, disebut tak bisa dilakukan di luar kraton, karena protokol acara wisuda memakai tatacara “laku dhodok”, sesuai mata pelajaran yang telah diajarkan di sanggar.

Dalam kesempatan itu dijelaskan rinciannya, jumlah 102 siswa yang lulus dan akan diwisuda di Bangsal Smarakata, Sabtu malam (23/5) mulai pukul 19.00 WIB itu, terdiri dari lulusan angkatan 43 di Punjer (Kraton Mataram Surakarta) sebanyak 53 orang. Mereka itu lulus “pendadaran” (ujian) “tumindak” (praktik) yang diadakan sanggar di Bangsal Smarakata, dalam dua hari berturut-turut, belum lama ini.

Bersamaan dengan itu, juga lulus dan akan diwisuda 6 siswa “Babaran” 31 “pang” (Cabang Semarang) dan 43 siswa “Babaran 26 dari “pang” Blitar. Sedangkan “Babaran” 10 dari “pang” (Kabupaten) Malang, mengirimkan siswa. Cabang ini menyusul Cabang sanggar di Tulung Agung, yang lebih dulu tidak aktif alias vakum karena akibat masalah organisasi yang mengalami kesulitan rutinitas operasional.

UJIAN TUMINDAK : Suasana saat berlangsung ujian “tumindak” (praktik) para siswa sanggar di Bangsal Smarakata, yang digelar dwija dan pamong Sanggar Pasinaon Pambiwara di akhir “babaran”. Tampak Gusti Moeng ikut menguji peserta ujian. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Memang untuk menjalankan kegiatan pendidikan di bidang ini, kendalanya banyak sekali. Teruta, yang menyangkut upaya perekrutan calon siswanya. Karena, ada wilayah yang memang sulit mendapatkan karena faktor biasa peminatnya. Tetapi, kalau dilihat kelas sosial masyarakat dari daerah itu, masih banyak yang mampu tetapi tidak berminat. Sementara, ada daerah lain yang besar animonya dan mampu”.

“Padahal, kami selama ini sejak awal berdiri tahun 1993, yang terjadi adalah bekerja hanya berdasar pengabdian, karena rasa cinta melestarikan Budaya Jawa. Selama puluhan pengurus yayasan tombok, karena memang pemasukan dari siswa tidak sesuai operasional sanggar. Baru beberapa tahun belakangan ini, bisa menabung. Tidak untung lo. Karena sanggar ini adalah kegiatan sosial,” ujar Dr KPH Lintang.

Sanggar pasinaon yang berdiri sejak tahun 1993, disebutkan diawali dengan permintaan Sinuhun PB XII untuk mencari “kanca”. Kata “kanca” dalam konotasi teman yang bisa diajak melestarikan Budaya Jawa, yang dimaksud adalah warga masyarakat yang berminat untuk keperluan itu dengan belajar tentang Budaya Jawa di sanggar. Lama belajarnya 6 bulan dalam setahun, di kraton dan “cabang-cabang”.

Pelajaran yang diajarkan, 60 persen praktik atau “tumindak” dan hanya 40 persen teori. Ujiannyapun, yang tertulis dan paling banyak memakan waktu adalah ujian tumindak. Seperti yang tiap tahun digelar, ujian selalu dipusatkan di kraton, hingga kini baru bisa berlangsung dalam Sabtu dan Minggu untuk semua lulusan dari “punjer” dan “pang”. Karena mereka hanya punya waktu libur dua hari itu.

LAKU DHODHOK : “Laku dhodok” (jalan jongkok), adalah salah satu ciri pelajaran praktik yang diujikan kepada setiap siswa. Karena mata uji ini identik dengan tatacara adat khas kraton, maka ujian dan wisuda harus tetap di dalam kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sedangkan pelajaran yang diberikan selama 6 bulan itu, adalah Pancasila, kawruh Kabudayan Jawi, Basa Jawi, Tatakrama, lan Kasusilan (subasita), kawruh Gendhing lan kawruh beksan. Mata pelajaran praktik, yaitu menulis aksara Jawi, tata-busana Jawi, tatacara lan upacara mantu, hamicara ing pasamuan dan nembang Macapat. Pengenalan leluhur di Astana Pajimatan Imogiri dan sebagainya, sebelum masuk kelas.

“Karena di lingkungan kraton sering ada upacara adat yang berlangsung pas jadwal belajar sanggar, yang kadang sering terpaksa pindah. Tetapi ya sulit cari tempat untuk kebutuhan itu, karena sifatnya kegiatan belajar. Begitu pula kalau di Imogiri sedang ada upacara pemakaman, ya terpaksa diundur berdasar kesepakatan atau libur. Kelasnya ya di Bangsal Marcukunda itu,” tunjuk BRM Bambang Irawan.

MOMENTUM WISUDA : Momentum wisuda yang membanggakan bagi semua peserta seperti ini, akan digelar besok malam ini Bangsal Smrakata. Konon, ada Kades yang pernah belajar di sanggar dan diwisuda, memasang foto wisuda saat berkampanye Pilkades. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kini, lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton sejak pertama dibuka tahun 1993, sudah terkumpul 2.978 orang dari yang pernah mengikuti sebanyak 3.788. Bila dibagi rata perangkatan (babaran), ada 69 orang yang memang sesuai dengan daya tampung dan kemampuan mengajar para “dwija” dan pamongnya. Karena, jumlah “dwija” dan pamongnya total hanya 13 orang yang berasal dari berbagai lembaga “serupa”.

Seperti yang dijelaskan pimpinan dan dwija sebelumnya, belajar Budaya Jawa di sanggar kraton memang agak berbeda dengan sanggar-sanggar serupa di tempat lain. Salah satunya adalah ziarah ke leluhur pemimpin Mataram di Astana Pajimatan Imogiri, Kutha Gedhe, Banyusumurup dan sebagainya. Nama Pambiwara juga menjadi nama yang dikenal luas karena dipakai Persatuan Pambiwara Indonesia (Pepari). (won-i1).