Kalau Hanya Menjaga Fisik Bangunan Kraton, Ibarat Memelihara Museum Mati
IMNEWS.ID – PENAMPILAN Sinuhun PB XIV Hangabehi sebagai dalang penyaji pentas wayang kulit “malem weton Anggara Kasih ageng”, Senin malam (19/10), pasti punya makna dan tujuan ideal simbolik untuk banyak hal. Selain keteladanan bagi kalangan generasi muda untuk mencintai seni-budaya Jawa, juga mempelopori dimulainya kembali tradisi wayangan tiap “selapan” pada “weton” Selasa Kliwon.
Selain itu, secara simbolik pula, pemimpin baru Dinasti Mataram Surakarta itu hendak menggelorakan kebangkitan cabang-cabang seni kekayaan khas kraton, agar nafas kehidupan di sana nampak nyata. Berikut, adalah makna yang sangat esensial dan hakiki yang ingin ditunjukkan, bahwa Kraton Mataram Surakarta bukan “museum mati”. Tetapi museum hidup yang harus selalu memberi daya hidup.

Untuk keperluan itulah, Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka dalam “antawecanan” adegan “parekan Limbuk-Cangik” (pathet sanga) sangat menandaskan bahwa kraton punya makna di atas. Sinuhun PB X (1893-1939) disebut yang menandaskan dalam sabdanya, bahwa kraton jangan dilihat sekadar wujud bangunannya saja. Tetapi harus dipahami maknanya, sebagai tuntunan bagi manusia di dunia, hingga akhir hayat.
Sabda “Pandhita, Brahmana, Raja sepisan dadi, datan wola-wali” yang keluar dari Sinuhun PB X, sangat tinggi makna filosofinya dan bisa menuntun manusia dalam kehidupannya dan mempersiapkan diri menuju akhiratnya. Dengan dasar sabda ini, patut dipahami bahwa kalau ingin melihat kraton, jangan hanya wujud struktur bangunannya yang tampak terhampar dari Gapura Gladag hingga Gapura Gading.

Di setiap bagian dari keseluruhan struktur bangunan kraton, masing-masgin punya makna yang menjadi tuntutnan kehidupan di dunia. Inilah makna tersirat di balik yang bisa ditangkap dengan indera mata. Tetapi, hal yang disebut “tuntunan” maknanya sangat luas, bukan hanya disimbolkan oleh bangunan yang ada, tetapi banyak benda pusaka yang memiliki mankan filosofi serta tuntuna kehidupan.
Benda pusaka itu adalah gamelan, wayang, pusaka (tosan aji) dan sebagainya yang masuk kategori “tangible” (bisa diraba). Sedang pengetahuan yang ada di balik benda budaya pusaka kraton itu, adalah ilmu tentang kesenian tari, pedalangan, karawitan, bahasa (tata bahasa), sastra, aksara dan berbagai pengetahuan turunannya misalnya “hamicara”, “paes”, donga, wilujengan dan sebagainya.

Masih banyak sekali turunan dari pusaka “intangible” (tak bisa diraba) yang berasal Budaya Jawa dan bersumber dari Kraton Mataram Surakarta. Di sana ada ilmu pengetahuan tentang kuliner, jamu (herbal), “petung” atau astrologi untuk pertanian dan perjodohan dan sebagainya. Semua, tertulis di lebih seribu judul naskah manuskrip yang dan terdokumentasi di perpustakaan Sasana Pustaka.
Oleh sebab itu, satu hal yang ditandaskan Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka dalam sesi “parekan Limbuk-cangik” malam itu, sebenarnya mengingatkan kepada semua pihak. Bahwa semua pusaka kraton berupa ribuan naskah yang tersimpan di Sasana Pustaka, sama pentingnya dengan wujud bangunan kraton. Keduanya adalah pasangan tuntunan yang tak boleh dipisahkan, dan harus dipastikan “terawat”.

Ketika dicermati lebih lanjut, antara sabda Sinuhun PB X yang disebut Ki KPH Dr Lintang dan semangat kebangkitan yang digelorakan Sinuhun PB XIV Hangabehi itu, sangat bersinergi dan merupakan satu-kesatuan pusaka penting yang harus dirawat. “Ndilalah”, hal-hal yang disinggung kedua tokoh itu, adalah simbol penting yang kini diprioritaskan Bebadan Kabinet 2004 untuk direvitalisasi.
Dan “ndilalah” pula, kedua simbol ideal kraton yaitu wujud bangunan (tangibel) dan ilmu pengetahuan (tuntunan-intangible), kini sedang “dikerjakan” bersama-sama/beriringan dalam proyek revitalisasi. Bangunan fisik kini mulai dikerjakan di beberapa titik lokasi, bantuan dari Kemenbud RI. Sedangkan digitalisasi dan katalogisasi naskah, didanai British Library yang dikerjakan para ahli “Manasa”. (Won Poerwono-bersambung/i1)
