Cara Ideal Berbhakti “Mikul Dhuwur, Mendhem Jero” Sinuhun PB IV
IMNEWS.ID – PENTAS pakeliran untuk mengaktifkan atau membangkitkan kembali tradisi wayangan “selapan” sekali tiap “malem” Anggara Kasih, sudah terwujud Senin Wage malam (19/1). Bahkan, malam itu justru jatuh pada “malem” Anggara Kasih Ageng yang termasuk paling istimewa dari ukuran kesakralannya. Sinuhun PB XIV Hangabehi sudah berhasil menjalankan “misi” utamanya, mengaktifkan tradisi.
Aktivasi atau membangkitkan kembali tradisi wayangan tiap “selapan” atau 35 hari sekali pada weton “malem” Anggara Kasih (Selasa Kliwon), sudah terwujud dilakukan Sang Pemimpin baru, Sinuhun PB XIV di awal era kepemimpinannya. Dari sisi pertunjukannya, “cekelan” yang ditampilkan termasuk halus dan berkualitas, yang tampak sejak memulai “ndhodhog” kotak hingga “mucuki jejeran pathet enem”.

Dari sisi pembelajaran, memang beda prosesnya antara yang sama sekali tidak ernah mengenal atau dekat kesenian apalagi berbakat. Sinuhun PB XIV Hangabehi cepat memahami dan mengeksekusi dengan tepat, walau durasi belajarnya “kursus kilat”. Itu karena sejak remaja sudah bergaul dengan berbagai jenis kesenian khas kraton, khususnya seni tari, di lingkungan habitatnya, yaitu kraton.
Maka, ketika edukasi “kursus kilat” tentang penyajian pakeliran dilakukan, Sinuhun PB XIV begitu cepat menyesuaikan makna konotasi yang dimaksud dari teori maupun praktiknya. Oleh sebab itu, “kursus kilat” yang dijalaninya hanya 3-4 kali “gladen”, sudah mampu diwujudkan mulai dari pengambilan saat yang tepat untuk “ndhodhog” kotak dengan benar, lalu mewujudkan “pisowanan jejeran”.

Semua tokoh yang menjadi isi “pisowanan jejeran” pertama “pathet enem” di Kraton Amarta dalam lakon “Dewa Ruci”, dihadirkan satu-persatu dengan luwes dan tepat. Kalau ada kekurangan misalnya dalam ketrampilan menata “sikap tangan” (sabet), ketika tokohnya dihadirkan ke “kelir” (layar), bukan persoalan berarti karena belajarnya “dadakan”. Seandainya dipelajari 1-2 tahun, pasti memukau.
Tetapi, esensi penampilan Sinuhun PB XIV Hangabehi pada wayangan “malem” Anggara Kasih Ageng malam itu, bukan soal “kesempurnaan” penyajian. Melainkan “pesan” tentang seorang pemimpin baru Dinasti Mataram, peduli seni-budaya dan ingin “Mikul dhuwur, mendhem jero” dan memuliakan tokoh leluhurnya, Sinuhun PB IV (1788-1820). Yaitu memuliakan tradisi wayangan tiap “malem Anggara Kasih”.

Esensinya terletak pada pesan soal kepedulian seorang pemimpin baru, terhadap pentingnya pelestarian pusaka peninggalan para leluhur Dinasti Mataram. Kerja nyata memberi tanda dan contoh, sekaligus menggerakkan kebangkitan kembali seni pertunjukan “ringgit wacucal sedalu natas” tiap “malem Selasa Kliwon”. Melalui momentum pentas “malem Anggara Kasih Ageng” itu, Sinuhun PB XIV “menegaskan”.
Sang Pemimpin baru itu “menandaskan” sekaligus memberi isyarat, baha tradisi wayangan “malem weton” yang kali pertama muncul di kraton atas inisiasi Sinuhun PB IV itu, harus kembali dijalankan rutin dan terus berlanjut sebagai tradisi. Inilah esensi dari momentum upacara adat pentas wayang lakon “Dewa Ruci”, di Bangsal Parasedya, malem Anggara Kasih dan disaksikan 300-an masyarakat adat itu.

Bila dicermati lebih dalam dari peristiwa yang dijadikan momentum kebangkitan itu, juga diisyaratkan bahwa eksistensi Kraton Mataram Surakarta bukan hanya berupa struktur bangunan fisik. Bukan hanya wujud bangunan yang berada dalam kawasan 90-an hektare, dari Gapura Gladag Di utara hingga Gapura Gading di selatan. Tetapi juga berbagai aset peninggalan non-fisik karya para leluhurnya.
Menjaga kelangsungan/eksistensi Kraton Mataram Surakarta, kalau hanya menjaga lestarinya wujud bangunan fisik, maka tidak ubahnya hanya memelihara museum “mati”. Kraton terasa hidup, bernyawa dan punya denyut nadi, jika ada berbagai aktivitas upacara adat dan menjalankan tradisi menggelar karya-karya seni dan budaya pusaka leluhur, seperti yang dicontohkan di malem Anggara Kasih itu. (Won Poerwono-bersambung/i1)
