Menempatkan Gusti Moeng Sebagai Maestro Tari, Memberinya Penghargaan Award
IMNEWS.ID – DI mata lembaga masyarakat kampus Fukuoka University, Jepang, Prof Fumiko Tamura (70) tahun bukan hanya seorang anggota sivitas akademinya seperti kalangan mahasiswa, dosen dan para intelektual keluarga besarnya. Profesor yang satu ini, dianggap telah berjasa bagi kampus dan masyarakat Jepang pada umumnya. Karena, berjasa menjadikan Indonesia sebagai penyumbang “peradaban” bagi “Jepang”.
Mengapa demikian?. Dengan perkenalan melalui pertukaran pelajar/mahasiswa di tahun 1980-an, Fumiko Tamura yang masih berstatus mahasiswa bisa belajar banyak tentang kesenian Jawa khas Kraton Mataram Surakarta. Porsi pengetahuan yang didapat dari tugas belajar itu, materi pengetahuan tentang kesenian Jawa dari kraton paling banyak di antara yang didapat dari tempat-tempat lain di Indonesia.

Bahkan, Fumiko Tamura dipercaya untuk menjalankan tugas penelitian secara khusus di Kraton Mataram Surakarta, yang membuatnya ditetapkan sebagai dosen pengajar, peneliti dan ditetapkan sebagai profesor karena hasil penelitiannya. Karena, hasil penelitiannya ditetapkan menjadi pengetahuan dan mata kuliah di jurusan baru yang dibuka Fukuoka University, yaitu jurusan Seni Budaya Jawa (Indonesia).

Proses belajar yang sampai sejauh itu, tentu ada faktor pendukung yang luar biasa dari internal maupun eksternal. Dan dukungan luar biasa itu, diperoleh karena Prof Fumiko Tamura mendapat suami KP Saptonodiningrat, seorang abdi-dalem karawitan senior di kraton. Dan dukungan luar biasa dari eksternal yang paling dominan, adalah keterbukaan Gusti Moeng menerima Fumiko Tamura untuk bekerjasama.

Hubungan kerjasama yang menghasilkan karya-karya penelitian ilmiah itu, selain bermanfaat bagi Fukuoka University, tentu bermanfaat bagi Prof Fumiko Tamura. Dan sebaliknya, kerjasama itu tentu bermanfaat bagi Kraton Mataram Surakarta dan Gusti Moeng (GKR Koes Moertiyah Wandansari). Bagi masing-masing bangsa dan negara, kerjasama itu secara tidak langsung menjadi ajang promosi kebudayaan.
Setidaknya, bangsa Jepang bisa belajar seni budaya Jawa khususnya gamelan, karawitan, tari dan wayang di Fukuoka University, seperti yang pernah diteliti di beberapa masyarakat adat, termasuk Kraton Mataram Surakarta dan Jogja. Dan sebaliknya, Gusti Moeng dianggap berjasa telah begitu banyak mempresentasikan karya-karya koreografinya, hingga ditetapkan sebagai Maestro Tari oleh kampus.

Penetapan sebagai Maestro Tari dan tokoh yang peduli pada pelestatrian seni budaya khas kraton, berlangsung dalam sebuah pergelaran kunjungan yang dilakukan di tahun 2012 di Kota Fukuoka, Jepang. Gusti Moeng yang memimpin tim kesenian, telah mempresentasikan beberapa seni tari khas kraton dan mempergelarkannya. Dan dalam kesempatan itu pula, Fukuoka University menyerahkan sebuah penghargaan.
Penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award, diberikan kepada Gusti Moeng yang diyakini sebagai tokoh pelestari seni budaya khas Kraton Mataram Surakarta. Ia bahkan disebut sebagai Maestro Tari khas kraton, karena kemampuannya menguasai hampir seluruh tarian, sangat peduli pelestariannya dan bisa mengajarkan kepada orang lain melalui Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton Mataram Surakarta yang diasuh.

Karena hubungan kerjasama antara kraton dan Fukuoka University dianggap sangat penting bagi pemerintah Jepang, maka presentasi karya-karya koreografis Gusti Moeng kembali dipergelarkan di Jakarta, tahun 2012 itu. Kedubes Jepang di Jakarta menjadi sponsor yang mendukung penuh pergelaran itu. Dan bangsa Indonesia wajib bangga, karena ada anak bangsa berprestasi mendapat penghargaan di luar negeri.
Dari penuturan Prof Fumiko Tamura dan pengamatan iMNews.id (juga Suara Merdeka-Red), kerjasama antara Fukuoka University dan kraton terus berlanjut hingga kini. Selain penelitian “gong” yang dilakukan di sejumlah negara di Asia, di Indonesia juga dilakukan penelitian tentang tari khas kraton, karawitan, upacara adat dan pedalangan. Selain gamelan, dia juga banyak membantu pendataan ulang wayang kulit. (Won Poerwono – habis/i1)
