Inilah Makna Lahirnya Pemimpin Baru Sinuhun PB XIV Itu
IMNEWS.ID – TAMPILNYA GRAy Putri Purnaningrum di setiap gelar tari Bedhaya Ketawang, baik dalam “gladen” tiap Anggara Kasih (Selasa Kliwon) dan diawali saat ritual “njangkepi jumenengan-nata”, Sabtu (5/9), adalah bagian dari adanya tanda-tanda gerak kehidupan nyata di kraton. Dan tanda-tanda itu berlanjut bergerak terus, yang salah satunya terwujud pada rangkaian gladen gelar wayang.
Peristiwa gladen dalam dua malam (Sabtu-Minggu, 3-4/9) yang dipantau iMNews.id, tak sekadar menggelar latihan karawitan iringan wayang kulit yang dipadukan Ki KRT Dr Joko Daryanto, Ki KRT Suwito (pengendang), Ki KRT Dr Bambang Suwarno (instruktur) dan Ki KPH Raditya Lintang Sasangka yang sedang berlatih. Tetapi, ada sejumlah tokoh di antara mereka yang sedang merasakan “semangat baru”.

Mereka di antaranya adalah Ki KRT Dr Joko Daryanto, yang baru saja mendapat tambahan “semangat baru”, karena naik pangkat dari “Bupati Anom” (RT) menjadi “Bupati Sepuh” (KRT). Ia bersama 20 abdi-dalem seniman karawitan di jajaran Reh Karawitan Kadipaten Keparak Mandra Budaya, diwisuda di Bangsal Smarakata di antara 400-an abdi-dalem dan sentana-dalem baru dan mendapat kenaikan pangkat.
Termasuk pula “pimpinan” atau Pengageng Lembisana baru untuk mengisi kekosongan sekitar saru dekade, yaitu KRMH Rizki Baruna. Suami GRAy Putri Purnaningrum ini diwisuda di Bangsal Kasentanan Sidikara, naik dari Kanjeng Raden Harya (KRH). Pada waktu yang hampir sama, Ki KRT Rawang Gumilar Lebdodipuro dari jajaran abdi-dalem (dalang) Lembisana, diwisuda di Bangsal Smarakata menjadi “KRAT”.

Masih banyak lagi abdi-dalem seniman di bawah Kadipaten Keparak Mandra Budaya yang menerima gelar baru dan kenaikan pangkat. Karena, abdi-dalem di bawah kendali Kadipaten Keparak Mandra Budaya eneng Reh Karawitan, Reh Lembisana, Reh Langentaya dan Reh Prajurit. Dan ada tiga nama dalang yang masuk Reh Lembisana ikut diwisuda, adalah Ki “KRA” Purbo Asmoro MHum tetapi dua lainnya tak hadir.
Dua dalang profesional selain Ki KRA Purbo Asmoro yang Minggu pagi itu disebut namanya tetapi yang bersangkutan tidak muncul, adalah putra bungsu Ki Anom Suroto (alm) yaitu Ki MPP Bayuaji dan putra bungsu Ki Warseno Slenk (alm) yaitu Ki Amar Pradopo. Keduanya adalah profesi dalang usia muda, yang menurut KRAT Rawang Gumilar, diharapkan menjadi daya dukung kegiatan pedalangan di kraton.

Perihal gelar yang diterima para tokoh penting di beberapa elemen lembaga di kraton, memang menjadi “tambahan” semangat baru yang diterima para abdi-dalem dari berbagai elemen itu. Tetapi bagi KRT Dr Joko Daryanto, baginya gelar bukan rujuan dari pengabdiannya sejak lebih 20 tahun lalu. Mendedikasikan pengetahuan yang sumbernya dari kraton, menurutnya adalah kewajiban yang harus dilakukan.
“Saya tak pernah memikirkan soal gelar. Punya pengalaman membantu persiapan iringan jumenengen-nata Sinuhun PB XIII (2004), adalah peristiwa besar bagi pengabdian saya. Pengabdian penuh tantangan dan tekanan itu, baru saja terulang pada jumenengan-nata Sinuhun PB XIV tahun 2026. Ini pengalaman sangat berharga, pelajaran yang jauh lebih bermakna dari sekadar gelar,” tandas KRT Dr Joko.

Dari penjelasannya saat “ngobrol” dengan iMNews.id, tampak terlukis semangat baru dari sisi elemen khas daya dukung legitimasi kraton, yang sudah lama tak bisa muncul eksis leluasa. Kebangkitan generasi muda abdi-dalem seniman di hampir semua lini seni-budaya kraton, sepertinya sedang memperkuat kuda-kuda, menyusun kekuatan dan mengambil ancang-ancang untuk memancarkan cahaya kuat.
Momentum kebangkitan seperti inilah yang sudah ditunggu-tunggu Ki KRT Dr Joko Daryanto bersama para generasi muda abdi-dalem seniman karawitan, yang mulai bersinergi dengan kalangan generasi muda abdi-dalem seni pedalangan dan seni tari. Itulah satu di antara beberapa makna lahirnya pemimpin baru Sinuhun PB XIV, walaupun di awal eranya berada di tengah suasana dunia penuh tantangan. (Won Poerwono-bersambung/i1)
