Ikrar dan Bedhaya Ketawang, Menggenapi Tatacara Adat SISKS Paku Buwana XIV

  • Post author:
  • Post published:September 5, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Ikrar dan Bedhaya Ketawang, Menggenapi Tatacara Adat SISKS Paku Buwana XIV
MEMBACA IKRAR : SISKS Paku Buwana XIV saat membaca ikrar di Bangsal Manguntur Tangkil kompleks Pendapa Sitinggil Lor, dalam upacara adat "njengkebi tatacara jumenengan-nata-nya selaku pemimpin baru, Sabtu pagi (5/9) pukul 08.WIB. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Disaksikan Ribuan Masyarakat Adat, Termasuk Keluarga Besar Catur Sagatra

SURAKARTA, iMNews.id – Disaksikan ribuan masyarakat adat dari berbagai elemen, termasuk unsur-unsur utusan kraton anggota Catur Sagatra dan perwakilan raja-raja Nusantara, Sinuhun PB XIV Hangabehi “menggenapi” tata-cara adat jumeneng-nata untuk gelar yang disandangnya sebagai pemimpin baru Mataram Surakarta. Ikrar dan gelar upacara “njumenengaken’ Bedhaya Ketawang”, berlangsung Sabtu (5/9) siang tadi.

Dengan berikrar meneruskan tanggung-jawab dan kewajiban sebagai sebagai pemimpin baru Kraton Mataram Surakarta dan Dinasti Mataram di Bangsal Pangrawit dan Bangsal Manguntur Tangkil, pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB, gelar SISKS Paku Buwana XIV resmi dan sah disandangnya. Terlebih, setelah itu duduk di singgasana (dampar) tanpa sandaran dalam gelar tari Bedhaya Ketawang, lengkap sudah secara adat.

Sumpah dan ikrar di kedua lokasi yaitu di Pendapa Pagelaran sasana Sumewa (Bangsal Pangrawit) dan Pendapa Sitinggil Lor (Bangsal Manguntur Tangkil), adalah tradisi yang harus dilakukan seorang pemimpin Dinasti Mataram Surakarta dan penerus penyandang SISKS Paku Buwana. Sedangkan duduk di dampar saat gelar Bedhaya Ketawang, meneruskan tradisi perjanjian Sinuhun Panembahan Senapati.

Tradisi ini adalah meneruskan perjanjian antara Sinuhun Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kencana Adisari sampai turun-tumurun, yang disimbolkan gelar tarian sakral Bedhaya Ketawang dalam pisowanan di Pendapa Sasana Sewaka, yang terlaksana Sabtu siang (5/9) mulai pukul 11.00 WIB. Tahap terakhir urutan njangkebi tatacara adat itu, berlangsung setelah dua ikrar dilakukan sebelumnya.

BEDHAYA KETAWANG : Upacara adat pindah lokasi di Pendapa Sasana Sewaka, Sabtu pagi (5/9) mulai pukul 11.00 WIB. Di pisowanan agung upacara adat “njengkebi tatacara jumenengan-nata selaku pemimpin baru itu, digelar Bedhaya Ketawang. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selain ikrar di duar bangsal dan siniwaka di tengah gelar beksan Bedhaya Ketawang, gelar SISKS Paku Buwana secara agama (khalifatullah) juga sudah sah saat melakukan ikrar di Kagungan-dalem Masjid Suranatan, Jumat malam sekitar pukul 23.00 WIB. Sumpah dan ikrar selaku pemimpin agama ini, disaksikan di hadapan para sesepuh perwakilan trah darah-dalem dan unsur Bebadan Kabinet 2004.

Selain wilujengan “keblat papat lima pancer dhukutan” yang dilakukan Bebadan Kabinet 2004 sebelum ikrar di Masjid Suranatan, semalam juga berlangsung kirab Bedhaya Ketawang atau latihan terkahir tarian sakral untuk persiapan sajian tunggal pada upacara adat pisowanan di Sasan Sewaka, Sabtu (5/9) siang tadi. Dan sore sebelum itu, Sinuhun PB XIV Hangabehi, menjalani ruwatan di Pagelaran.

Ruwatan dilakukan dalam bentuk pentas wayang yang disajikan dalang Ki sri Susilo Thengkleng (Nogosari, Boyolali) dengan lakon “Sudamala”, di sisi barat Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa yang dilengkapi uba-rampe wilujengan sangat komplet. Setelah gelar wayang ruwatan 90-an menit sejak pukul 15.00 WIB, dilakukan siraman air dari berbagai sumber untuk “ngruwat memala” sang pemimpin.

Siraman di lakukan beberapa pinisepuh trah darah-dalem, di antaranya oleh Gusti Moeng (Pengageng sasana Wilapa/Ketua Umum LDA). Di tempat siraman di salah saru bangsal yang ad adi belakang Pendapa Pagelaran, tampak lengkap sekali uba-rampe wilujengan, di antaranya beberapa jenis daging mahesa. Siraman tanda ruwatan ini, untuk menghilangkan “sukerta” dan “memala”, karena akan menerima beban sebagai pemimpin dinasti.

PROSESI “PINDAHAN” : Iringi-iringan prosesi saat Sinuhun PB XIV dan abdi-dalem yang membawa uba-rampe upacara, sedang “pindahan” meninggalkan kompleks Pendapa Sitinggil Lor hendak menuju ke Pendapa Sasana Sewaka, Sabtu (5/9) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Jalannya upacara adat “njangkebi tatacara jumenengan-nata” sejak pagi pukul 08.00 WIB hingga seluruh rangkaian upacara berakhir di dalam kraton sekitar pukul 13.00 WIB, benar-benar seperti sebuah rangkaian perjalanan spiritual yang gayung-bersambut, silih berganti, “mbanyu mili” hampir tanpa putus. Apalagi, hanya dipandu suara gamelan yang menyajikan gendhong-gendhing khusus jumenengan.

Sajian gendhing-gendhing khusus tanpa putus oleh satu dengan gamelan Monggang lain mulai dari dua Bangsal Pemandengan di depan Pendapa Pagelaran, gamelan Kiai Lokananta di Bangsal Gandek Kiwa dan gamelan Kodhok Ngorek di Bangsal Angun-angun, mengiringi tatacara demi tatacara, terutama ikrar di dua bangsal itu. Ketika berakhir dan semua pindah ke Sasana Sewaka, juga diiringi gamelan.

Hamparan karpet dominan warna merah, menyambung sejumlah tempat yang menjadi lokasi tatacara “njangkebi” jumenengan nata, dari dalam kraton sampai ke kompleks Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Bahkan, hamparan karpet bertabur kembang setaman, juga menyambung dari Kori Kamandungan sampai kompleks Pendapa Sitinggil Lor. Lalu-lintas di Jalan Supit Urang ditutup saat peserta upacara pindah lokasi.

Baik ketika rombongan Sinuhun PB XIV hendak melintas menuju kompleks Pendapa Sitinggil Lor, sepasang gamelan Monggang di dua Bangsal Wimanasara juga menjadi “penghubungnya” agar tidak putus. Yaitu menghubungkan antara gamelan Monggang dan Sekaten yang ada di Bangsal Pradangga halaman Pendapa Sasana, dengan yang ada di Dua bangsal di kompleks Pendapa Sitinggil Lor.

RIBUAN ABDI-DALEM : Ribuan abdi-dalem berbagai elemen masyarakat adat dari berbagai elemen, tampak mulai menempati ruang Paningrat Sasana Sewaka, dalam pisowanan agung “njangkebi” tatacara jumenengan nata, Sabtu (5/9) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Upacara adat “njangkebi tatacara jumenengan nata” itu benar-benar menunjukkan keagungan dan kebesaran kraton, serta urutan acara tanpa henti yang mengalir dan tepat “tanpa bantuan” pengatur lalu-lintas acara atau master ceremony (MC). Semua diatur dan dihubungkan oleh sajian gendhing-gendhing gamelan di sejumlah titik lokasi itu, yang sudah ditata urut sesuai paugeran adat jumenengan Sinuhun PB X.

Abdi-dalem karawitan Mandra Budaya KRT Dr Joko Daryanto yang menyusun sajian gamelan berdasar dokumen manuskrip saat jumenengan-nata Sinuhun PB X (1893-1939) itu. Dialah pula dosen lulusan ISI Surakarta yang suwita di kraton dan ikut menangani sajian gendhing-gendhing gamelan “pakurmatan” pada suksesi 2004. Saat jumenengan-nata Sinuhun PB XIV ini, dia pula yang menyusun skenario sajian gendhing itu.

“Ini memang luar biasa. Tantangan besar dan berat yang harus saya hadapi dalam tugas pasuwitan di Kraton Mataram Surakarta. Semua gendhing dan gamelam pengiringnya, adalah persis menggunakan paugeran adat dari dokumen lampah-lampah saat Sinuhun PB X jumeneng-nata. Maka, gamelan yang dikeluarkan dan sajian gendhingnya sangat banyak, rapat dan ‘matundha-tundha ungelipun”.

“Jadi, antara semua gamelan yang ada di dalam kraton (selatan) dai kompleks Pendapa Sitinggil Lor dan Pendapa Pagelaran (utara), tetap tersambung menjadi rangkaian oleh sajian gendhing gamelan yang ada di Bangsal Wimanasara Wetan dan Kulon halaman Kamandungan (tengah). Semua tersambung, silih berganti tanpa putus, persis yang disebut ‘matundha-tundha’ (berlipat-lipat) itu,” ujar KRT Joko.

KENDANG PUSAKA : Dua atau sepasang kendang pusaka yang hanya dikeluarkan saat berlangsung jumenengan-nata, tampak ikut diarak kembali menuju ke dalam kraton karena lokasi upacara pindah ke Pendapa Sasana Sewaka, Sabtu (5/9) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pekerjaan KRT Dr Joko Daryanto yang memimpin orkestrasi game;lan “pakumatan” di tiga kawasan lokasi upacata jumenengan-nata itu, melukiskan kesibukan sekaligus kepiawaian seorang abdi-dalem petugas dalam upacara besar “pisowanan agung” njangkebi tatacara jumenengan nata itu. Hampir semua pergantian acara, termasuk pergantian tempat upacara, hanya dipandu gamelan, tak perlu MC dan gelegar sound system.

Berakhirnya upacara adat itu, semua persyaratan perjalanan bagi pemimpin baru Dinasti Mataram dan Kraton Mataram Surakarta lengkap, final dan meyakinkan. Ada ribuan masyarakat adat terutama Pakasa dari 30-an cabang, warga Pasipamarta dan berbagai elemen lain menjadi saksi. Termasuk GBPH Yudaningrat dan GBPH Prabukusumo sebagai representasi kraton warga keturunan Dinasti Mataram, Catur Sagatra. (won-i1)