Pentas Wayang Ruwatan “Njangkebi Tata-cara Jumenengan-Nata” Sinuhun PB XIV

  • Post author:
  • Post published:September 4, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Pentas Wayang Ruwatan “Njangkebi Tata-cara Jumenengan-Nata” Sinuhun PB XIV
BANGSAL WIMANASARA : Sepasang gamelan Monggang sudah terpasang di dua Bangsal Wimanasara di kanan-kiri Kori Brajanala Lor Kamandungan. Gamelan ini untuk menyambut tamu yang hadir, juga saat Sinuhun PB XIV "tedhak dan "jengkar". (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hari Ini Puncak Persiapan, Besok Pagi 25 Raja Nusantara Berdatangan

SURAKARTA, iMNews.id – Jumat siang (4/9) hingga sore ini merupakan puncak persiapan gelar silaturahmi raja-raja Nusantara, yang diagendakan digelar Bebadan Kabinet 2004 selaku tuan rumah acara pertemuan tahunan DPP MAKN dan FKIKN itu. Sinuhun PB XIV Hangabehi turut mengundang para raja itu, sebagai kesempatan untuk memperkenalkan diri sebagai pemimpin baru di Kraton Mataram Surakarta.

“Jadi, acara besok itu Upacara adat ‘njangkebi tata-cara jumenengan-nata’ yang sudah berlangsung pada 13 November 2025. Digenapi dengan kekurangan tahap akhir yaitu pisowanan agung dengan gelar tari Bedhaya Ketawang. Raja-raja Nusantara diundang Sinuhun PB XIV untuk memperkenalkan diri sekaligus menjadi saksi. Juga menjadi kesempatan bertemu sebagai agenda rutin tahunan DPP MAKN,” ujar KPH Edy.

KPH Edy Wirabhumi selaku Ketua Harian Lembaga Dewan Adat menegaskan hal di atas, menjawab pertanyaan iMNews.id, kemarin. Hal yang sama juga ditegaskan berbagai unsur panitia internal kraton, misalnya KPP Hayo Sinawung Waluyoputro selaku Wakil Pengageng Karti Praja. KRMH Suryo Kusumo Wibowo (Wakil Pengageng Sasana Prabu), juga menyebutkan hal yang sama yaitu ritual “njangkebi jumenengan”.

“Karena, tanggal 13 November 2025 itu adalah wilujengan jumenengan-nata untuk Pangeran Adipati Anom resmi menyandang SISKS Paku Buwana XIV. La, besok Sabtu (6/() itu adalah ‘kepyakan’ atau pengenalan secara umum dalam sebuah upacara adat yang menjadi tradisi kraton. Yaitu ‘njakebi’ atau melengkapi tata-cara Jumenengan nata, dengan menggelar tari Bedhaya Ketawang,” jelas KPP Haryo Sinawung.

MENYIAPKAN UBA-RAMPE : Seorang abdi-dalem keparak Mandra Budaya, bertugas menyiapkan uba-rampe ritual untuk pentas wayang ruwatan yang digelar mulai pukul 15.00 WIB di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena, wujud kelengkapannya berupa upacara adat, seperti halnya jumenengan-nata yang sudah menjadi paugeran adat dan tradisi kraton, maka harus disertai kelengkapan segala uba-rampenya. Menurut KRMH Suryo Kusumo Wibowo, semua kelengkapan upacara adat “njakebi tata-cara” ini, secara keseluruhan diwujudkan melebihi jumenengan-nata yang pernah digelar Bebadan Kabinet pada tahun 2004 lalu.

“Dulu saya sudah mendapat tugas membantu, jadi masih ingat secara umum apa saja yang disiapkand an dilakukan. Tampaknya, Gusti Wandan selaku pimpinan Bebadan Kabinet 2004 berusaha menjalankan dan menggenapi segala persyaratan upacara adat ini, jangan sampai ada yang ‘kecer’ (tertinggal). Sekarang saya merasakan sendiri mendapat tugas persiapan yang begitu banyak. Luar biasa,” ujarnya.

Selama sehari sampai sore bahkan hingga malam nanti, persiapan terus dilakukan di lokasi yang akan menjadi pusat upacara, yaitu kompleks Pendapa Sitinggil Lor hingga kompleks Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Sebagai rute pintu masuk para tamu termasuk para raja Nusantara, sejak gapura Gladag sudah mulai dipasang hiasan penjor hingga jalan tengah Alun-alur Lor dan memasuki Pendapa Pagelaran.

Di ruang Pendapa Pagelaran terbagi dua, di sisi timur untuk jamuan makan para tamu yang hadir Sabtu 5 September besok mulai pukul 09.00 WIB. Sedangkan di sisi barat, dimanfaatkan untuk menggelar pentas wayang kulit “ruwatan” dengan lakon “Sudamala”. Pentas wayang ruwatan “tolak balak”, menjauhkan anasir jahat, digelar pukul 15.00 WIB sore ini oleh Ki Susilo Thengkleng (Nogosari, Boyolali).

BANGSAL PEMANDENGAN : Bangsal Pemandengan Wetan yang biasanya untuk nongkrong para pedagang sandang dalam kesehariannya, Sabtu siang (4/9) tadi sudah berhias gamelan Monggang untuk menyambut para tamu yang hadir di kraton, besok. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Wayang “ruwatan” unik yang tidak sama dengan “ruwatan sukerta” seperti yang digelar untuk masyarakat umum, beberapa bulan lau di Pendapa Sitinggil Lor. Wayang “ruwatan” itu sebagai upaya dalam spiritual kebatinan Jawa, untuk menjauhkan dari segala potensi anasir jahat. Selain pentas wayang ruwatan, doa  secara spiritual kebatinan juga digelar di belakang Pendapa Pagelaran.

Untuk keperluan doa itu, di sebuah bangsal di belakang Pandapa Pagelaran, dihiasi aneka macam uba-rampe upacara yang begitu banyak ragam dan macamnya. Selain itu, dipersiapkan tempat untuk sirawaman terhadap beberapa uba-rampe, di antaranya daging mahesa (kerbau) dari berbagai jenis menurut asalnya. Semua sudah di belakang Pendapa Pagelaran, tepatnya di belakang lokasi santap bersama.

Selain pentas wayang “ruwatan” sore ini, persiapan tempat upacara silaturahmi para raja Nusantara di kompleks Pendapa Sitinggil Lor juga masih berlangsung. KRMH Suryo Kusumo Wibowo menyebutkan, akan sampai malam ini masih melengkapi kekurangan perlengkapan di Bangsal Manguntur Tangkil. Selain tenda yang hampir menutup seluruh halaman, juga berbagai jenis gamelan Pakurmatan disiapkan.

Gamelan Pakurmatan di Bangsal Wimanasara Wetan dan Kulon di Kori Brajanala Lor,  juga dipasang siang tadi sebagai instrumen untuk menyambut tamu. Gamelan serupa juga dipasang di Bangsal Pemandengan Wetan dan Kulon halaman kompleks Pendapa Pagelaran. Sedangkan gamelan “manguyu-uyu” digelar di Bangsal Pradangga.

BERBAGAI JENIS : Daging berbagai jenis kerbau menjadi bagian dari sesaji uba-rampe ritual secara spiritual kebatinan di Bangsal Martalulut kompleks Pendapa Pagelaran, sebagai bagian dari “njangkebi tata-cara jumenengan-nata”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Kalau ada kesibukan tugas seperti ini, saya jadi ingat peristiwa suksesi tahun 2004. Karena, saya juga mendapat tugas untuk menyiapkan dan merakit semua gamelan yang diperlukan untuk upacara adat jumenengan nata Sinuhun PB XIII, waktu itu. Sekarang, untuk Sinuhun PB XIIV. Gamelannya lebih banyak, tantangan (terornya) juga banyak,” ujar KRT Dr Joko Daryanto, abdi-dalem Mandra Budaya.

Dosen pengajar di FKIP UNS itu memimpin 20-an seniman abdi-dalem karawitan Mandra Budaya, termasuk abdi-dalem “anggong” yang khusus bertanggung-jawab soal gamelan di kraton. KRT Dr Joko mendapat tugas menyusun urutan sajian gamelan tiap tahapan upacara adat jumenengan-nata, mulai penyambutan tamu, tanda-tanda Sinuhun hadir dan meninggalkan tempat hingga iringan untuk akhir upacara.

MEMIMPIN ROMBONGAN : KP Siswantodiningrat (Wakil Pengageng Sasana Wilapa), saat memimpin ritual ke “kiblat” utara yaitu di Alas Krendawahana, belum lama ini, sebagai bagian dari ritual “njangkebi tata-cara jumenengan-nata” Sabtu besok. (foto : iMNews.id/Dok)

Di belakang layar, sejak seminggu lalu Gusti Moeng berbagi tugas dengan jajaran Bebadan Kabinet 2004 untuk menjalankan ritual di berbagai titik lokasi sebagai persiapan upacara “njangkebi tatacara jumenengan nata” itu. Yaitu, memimpin tim kecil untuk ziarah ke Astana Pajimatan Imogiri (Jogja) dan Pantai Parangkusumo, yang di dalamnya ada GRAy Putri Purnaningrum untuk berziarah di kiblat selatan.

KP Siswantodiningrat (Wakil Pengageng Sasana Wilapa) menyebutkan, wilujengan dan ziarah di 4 lokasi “kiblat papat” sudah dilakukan untuk persiapan. Dirinya bersama tim, mendapat tugas berziarah ke Alas Krendawahana di Krendowahono, Gondangrejo (Karanganyar) untuk “kiblat” utara dan Desa Selo, Boyolali untuk “kiblat” barat”, sedang KGPH PA Tedjowulan disebutk ke Gunung Lawu kiblat timur. (won-i1)