Tanpa Gelar “Bedhaya Ketawang”, Gelar SISKS Paku Buwana (XIV) Belum Genap
IMNEWS.ID – MESKIPUN berbagai bentuk aktivitas yang bisa disebut sebagai “tata-tata” yang menunjukkan persiapan upacara adat jumenengan-nata Sinuhun PB XIV, belum ada jadwal yang jelas dan tegas, tetapi suasana ke arah terwujudnya peristiwa itu sudah bisa dirasakan. Apalagi, tiga agenda upacara adat penting sudah terwujud sukses, dan suasana menuntun ke peristiwa berikut yang rasional.
Suasana yang menuntun ke arah peristiwa “maha” penting berupa upacara adat jumenengan-nata Sinuhun PB XIV Hangabehi, sedikit-banyak sudah mulai terasa oleh aktivitas dan bahasa bersayap yang disampaikan beberapa tokoh yang kepada iMNews.id. Setidaknya, “dwija” Sanggar Pasinaon Pambiwara KP Budayaningrat yang memandang perlunya figur “Bupati Gantung-seba” disiapkan untuk upacaranya.

Guru (dwija) Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta yang juga tokoh “Lembaga Kapujanggan” kraton itu, kemarin mengaku ditilpun abdi-dalem yang minta penjelasan soal tugas “Bupati Gantung-seba”. Namun, persoalan yang berkait upacara jumenengan-nata atau tingalan jumenengan itu, tak menyebut hari dan tanggal peristiwanya. Begitu pula, KP Budayangingrat saat ditanya iMNews.id.
Apa yang disebut pengurus paguyuban pambiwara nasional itu, memang bisa mengarah atau mengindikasikan akan adanya peristiwa jumenengan nata dalam waktu dekat. Tetapi, hingga kemarin belum ada pengumuman resmi dari pihak otoritas Bebadan Kabinet 2004 dan Lembaga Dewan Adat (LDA) soal agenda upacara adat itu. Meskipun, banyak tanda-tanda secara fisik yang mengarah ke rencana upacara itu.

Di sisi lain, staf kantor Sasana Wilapa yang biasanya mendapat tugas untuk mempersiapkan susunan acara atau tata-cara/lampah-lampah upacara adat, sampai kemarin mengaku belum mendapat dawuh untuk itu. KRT Darpo Arwantodipuro, salah satu abdi-dalem staf setempat, saat suksesi 2004 dirinya yang ditugaskan mencari bahan dan menyusun tata-cara/lampah-lampah upacara adat jumenengan-nata.
‘Sekarang saya belum mendapat tugas untuk itu. Mungkin sudah dilakukan orang lain. Karena, untuk mendapatkan seluruh materi untuk upacara itu atau kebutuhan ritual lain, harus melakukan studi kepustakaan di Sasana Pustaka. Di sana tersedia komplet, tetapi butuh waktu untuk mendapatkan. Karena, naskah dokumen yang menjadi sumbernya banyak, ragam yang dibutuhkan juga banyak,” ujar KRT Darpo.

Sementara itu, KPP Sinawung Waluyoputro (Wakil Pengageng Karti Praja) di tempat terpisah membenarkan, rapat membahas masalah jumenengan-nata dan hal-hal yang berkait dengan revitalisasi dilakukan belum lama ini. Namun, diakui belum ada keputusan tentang hari dan tanggal pelaksanaannya. Gusti Moeng selaku pimpinan Bebadan Kabinet 2004 hanya menegaskan, upacara adat itu akan segera dilakukan.
Sedangkan KPP Nanang Soesilo Sinduseno Tjokronagoro (trah Sinuhun PB V dan PB X), menyebutkan, siapa saja tokohnya bila belum mengikuti upacara jumenengan-nata dengan menggelar “Bedahaya Ketawang”, berarti belum genap syarat adatnya sebagai SISKS Paku Buwana (XIV). Maka, kalau ada rencana Bebadan Kabinet 2004 akan menggelar upacara adat itu, berarti itulah penggenapan persyaratannya.

“Menurut saya, siapapun tokohnya, kalau tidak menggelar dan mengikuti upacara adat jumenengan-nata dan njumenengaken Bedhaya Ketawang, itu berarti belum genap, belum lengkap dan belum sah menyandang gelar SISKS Paku Buwana (XIV). Tetapi kalau saya mendengar ada rencana dalam waktu dekat Bebadan Kabinet 2004 akan menggelar upacara adat itu, maka genap dan lengkaplah persyaratannya”.
“Maka, KGPH Hangabehi sah menyandang gelar SISKS Paku Buwana XIV. Saya kira, ini yang menjadi doa dan harapan semua sentana darah-dalem trah Sinuhun PB I-XIII, termasuk saya. Ini yang menjadi doa dan harapan semua kerabat Dinasti Mataram hingga Surakarta, serta seluruh keluarga besar masyarakat adat. Saya sudah menanti-nanti saat yang bersejarah yang membanggakan itu,” jelasnya. (Won Poerwono-bersambung/i1)
