Gamelan Diakui Unesco Menjadi Benda Budaya Warisan Dunia (seri 2 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:September 20, 2022
  • Post category:Budaya
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:8 mins read

Ada yang Untuk Iringan, Ada “Gamelan Pakurmatan”

IMNEWS.ID – KETIKA menyaksikan event Festival Kraton Nusantara (FKN), mulai dari yang pertama di Surakarta tahun 1996 hingga yang ke-13 di Kesultanan Luwu, Sulawesi Selatan tahun 2020, adalah saat-saat bangsa Indonesia dan mungkin bangsa-bangsa di dunia ikut menyaksikan sekaligus membuktikan bahwa gamelan adalah asli milik bangsa Indonesia. Karena, sekitar 50-an kontingen peserta event FKN, adalah utusan lembaga kraton/kesultanan/kedatuan/pelingsir adat dari 250-an lembaga adat yang memiliki aset seni budaya peninggalan leluhur masing-masing, antara lain berupa gamelan.

Lembaga adat yang merupakan sumber-sumber kebudayaan lokal itu, sangat diyakini telah menyebarluaskan banyak sekali produk peradaban di antaranya berupa musik gamelan ke lingkungan warga peradaban di sekitarnya, seperti yang berlangsung secara masif nyaris di daratan Pulau Jawa sejak zaman Kraton Kediri (abad 12). Oleh sebab itu, tidak aneh apabila hampir di semua wilayah di Nusantara ini, punya koleksi instrumen musik gamelan yang bervariasi sesuai kebhinekaan yang menjadi cirikhas budaya lokal di masing-masing daerah.

Seorang pejabat Dirjen dari kemendikbud bernama Dr Restu Gunawan memang tidak terang-terangan menunjuk koleksi gamelan (gaya) Surakarta menjadi model gamelan yang paling tua usianya dan segala kelebihannya sebagai alasan yang “serba kebetulan” ketika menunjuk Kota Bengawan ini menjadi ajang resepsi untuk memeriahkan diterimnya sertifikat pengakuan dari Unesco (iMNews.id, 18/9/2022). Tetapi, secara tersirat dari yang “serba kebetulan” itu ada unsur ketepatan sangat presisi, bila melihat proses perkembangan terbentuknya gamelan Jawa pada masa Mataram Surakarta yang sudah sampai di puncaknya, hingga banyak tokoh (termasuk seniman/budayawan) di zaman Orde Baru semisal Prof Dr Umar Kayam (alm) menyebut bahwa gamelan dan kesenian tradisional yang berkait dalam budaya Jawa, adalah puncak-puncak kebudayaan di Nusantara.

Tidak Lazim Dipakai

MENGIRINGI TARI : Gamelan sebagai instrumen musik karawitan iringan sendratari Kilapawarna yang dilakukan tim abdidalem Kraton Mataram Surakarta pimpinan Gusti Moeng (Ketua LDA), pada event Festival Borobudur sebelum 2017. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Memang, seperangkat gamelan Kiai Sukasih (Slendro) dan Kiai Pamedarsih (Pelog), gamelan Kiai Kaduk Manis (Slendro) dan Kiai Manis Rengga (Pelog) milik Kraton Mataram Surakarta dan sejumlah “gamelan pusaka” lainnya secara fisik tidak jauh berbeda dengan gamelan perangkat Slendro dan Pelog yang dimiliki masyarakat luas sampai di luar negeri, karena memang jenis gamelan itulah yang bisa digunakan sesuai fungsinya sebagai instrumen musik. Gamelan gaya Surakarta sebagai instrumen musik yang dimiliki masyarakat luas itu, sebagai fungsinya masih terbagi menjadi dua, yaitu untuk konser oskestra musik gamelan yang berdiri sendiri dan instrumen musik iringan seni tari, seni pakeliran wayang kulit, seni drama/sandiwara ketoprak, ludruk, wayang wong dan sebagainya.

Gamelan sebagai instrumen musik iringan seni pertunjukan tari, wayang kulit, ketoprak, wayang wong dan sebagainya, juga dimiliki lembaga adat seperti Kraton Jogja, Pura Pakualaman dan Pura Mangkunegaran yang merupakan keturunan Dinasti Mataram yang sering disebut Catur Sagatra bersama Kraton Mataram Surakarta. Bahkan, Balipun punya gamelan yang fungsinya mirip yang ada di Jawa, termasuk yang ada di Kraton Kasepuhan dan Kraton Kanoman (Cirebon) yang punya seni pertunjukan wayang golek.

“Betul. Kalau di Kraton Surakarta dan Kraton Jogja, gamelan tidak bisa dipisahkan dari kegiatan upacara adat. Meskipun ada juga nilai manfaat di luar itu, yaitu fungsi hiburan. Di kraton, gamelan sudah menjadi bagian dari kehidupan adat. Bahkan, kraton punya koleksi gamelan yang tidak lazim dimiliki masyarakat di luar kraton. Karena, fungsinya hanya untuk penghormatan atau ‘pakurmatan’. Yaitu gamelan Kodhok -Ngorek, gamelan Monggang dan Monggang Patalon serta gamelan Cara Balen. Ini yang mungkin ikut menjadi pertimbangan penetapan gamelan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco. Dan dalam kesempatan ini, sebagai salah seorang kerabat Kraton Surakarta, saya mengucapkan selamat dan penghargaan atas pengakuan Unesco itu. Saya ikut senang sekaligus bangga,” tandas KPH Raditya Lintang Sasangka, salah seorang cucu Sinuhun PB X yang sehari-hari menjadi dosen di FEB UNS, saat dihubungi iMNews.id, semalam.

Hari Besar Islam

KONSER KARAWITAN : Gamelan sebagai instrumen dalam konser musik karawitan ringan atau “klenengan” yang disuguhkan sekelompok seniman pimpinan Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat), menjelang upacara adat labuhan di pantai Parangkusuma, Bantul (DIY), belum lama ini. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam pandangan Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta itu, kini gamelan masih ikut dipelihara masyarakat di wilayah peradaban Jawa, bahkan menasional sampai jauh di luar Jawa dan luar negeri. Dalam fungsinya sebagai instrumen iringan yang bersifat menghibur, gamelan malah sudah menjadi miliki masyarakat. KPH Lintang menunjuk masyarakat di wilayah Jateng dan Jatim bahkan Jogja, hampir tiap hari ada warganya yang menggelar hajadan apa saja dengan suguhan musik gamelan, baik dalam format karawitan “klenengan”, iringan wayang kulit, ketoprak, ludruk, tari-tarian, wayang wong dan sebagainya.

Melihat fungsi gamelan sebagai instrumen musik, memang terkesan kelengkapannya saat melihat Kraton Mataram Surakarta sebagai sumber budaya Jawa, karena di situ ada sejumlah nama gamelan khusus untuk “Pakurmatan”, dari Kodhok-Ngorek hingga Monggang Seton yang khusus untuk memberitahu masyarakat luas karena menunjuk waktu hari memasuki Sabtu atau “Setu” dan gamelan yang ditabuh pada hari itu dinamakan gamelan “Monggang Seton”. Sedangkan gamelan Cara Balen, tidak lazim dimiliki masyarakat di luar kraton karena ragam aransemennya hanya bisa untuk mengiringi langkah baris-berbaris Bregada Prajurit Panyutra.

“Gamelan itu memang hanya diperdengarkan saat memandu langkah prajurit dalam upacara adat Garebeg Mulud, Garebeg Syawal dan Garebeg Besar. Semuanya untuk menyambut hari besar Islam, Maulud Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Lebaran (Idhul Fitri) dan Hari Raya Idhul Adha. Gamelan itu untuk  mengiringi Bregada Prajurit Panyutra yang mengawal prosesi kirab hajaddalem gunungan tiga hari besar Islam itu. Selain itu, tidak pernah dikeluarkan dari tempat penyimpanan atau ditabuh. Kecuali, saat untuk melakukan penghormatan jumenengan nata seorang raja Paku Buwana. Banyak jenis gamelan dikeluarkan dan ditabuh, sesuai urutan prosesi jumenengan nata,” sebut Joko Daryanto, abdidalem karawitan yang kini tinggal menunggu wisuda gelar doktornya (S3) di FKIP UNS, saat dihubungi iMNews.id di tempat terpisah, kemarin.

Gamelan Ageng

CARA BALEN : Gamelan Cara Balen, sebagai musik pakurmatan yang dipikul berjalan untuk memandu langkah Bregada Prajurit Panyutra dalam ritual Garebeg Mulud di Kraton Mataram Surakarta, sebelum 2017. Kandidat doktor Joko Daryanto, salah satu penabuh kendangnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gamelan yang sudah menjadi milik warga peradaban Jawa khususnya, selain yang disebut beberapa fungsi di atas dengan kelengkapannya, ternyata juga berkembang sampai ke bentuk satuan paling kecil yang bisa dimanfaatkan sesuai fungsi masing-masing sampai jauh ke pelosok desa. Yaitu gamelan yang digunakan untuk mengiringi seni pertunjukan tari rakyat seperti reog, jathilan, jaran kepang di berbagai daerah yang punya kekhasan berbeda, hingga yang fungsinya hanya untuk alat instrumen publikasi atau pengumuman yang disebut “bendhe”. Dalam pertunjukan dengan satuan kecil atau format ringkas, gamelan juga masih bisa berdiri sendiri dalam seni “Cokekan”, “janggrung” hingga campursari yang diramu dengan instrumen musik modern.

Melihat perkembangan musik gamelan sebagai instrumen musik campursari, adalah wujud tranformasi, inovasi sekaligus adaptasi gamelan menjadi bagian instrumen musik modern. Karena di situ, sering masih ada beberapa jenis gamelan seperti demung, saron, kendang dan slenthem atau lebih banyak lagi yang bisa dipadukan dengan instrumen musik modern seperti keyboard, suling/fluete, gitar (melodi, ritem, bas), drum dan sebagainya seperti yang sering tampak dalam pertunjukan musik campursari, keroncong dangdut atau dangdut campursari.

“Dengan pengakuan Unesco ini, sungguh menjadi tantangan Kraton Surakarta yang menjadi sumbernya budaya Jawa, karena gamelan Jawa ada di dalamnya. Yaitu bagaimana menyikapi pengakuan Unesco ini, karena kraton akan memiliki peran penting dalam memberdayakan keragaman jenis gamelan koleksinya. Seperti ‘gamelan ageng’ misalnya, sama dengan yang di luar kraton. Tetapi di dalamnya ada bonang panembung, gambang dan gamelan Cara Balen. Bagaimana kraton bisa memberi edukasi tentang kekayaan itu kepada masyarakat luas sebagai pengetahuan dalam rangka pelestarian. Karena gamelan ageng yang di luar kraton, tidak memiliki kelengkapan itu karena berbagai pertimbangan,” jelas KPH Raditya Lintang Sasangka. (Won Poerwono-bersambung/i1)  

Leave a Reply