Semua Bersiap-siap Mahargya Jumenengan-nata Sinuhun PB XIV Hangabehi (seri 1-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:August 31, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Semua Bersiap-siap Mahargya Jumenengan-nata Sinuhun PB XIV Hangabehi (seri 1-bersambung)
LEBIH 10 TAHUN : Bale Rata (kandang kereta) di kompleks Kamandungan Kraton Mataram Surakarta, adalah wajah depan bangunan utama kraton. Sudah lebih satu dekade tak terurus, kini mendapat giliran direnovasi Bebadan Kabinet 2004. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Bagian yang Terlewatkan di Tahun 2004, Bisa Diwujudkan Kali Ini

IMNEWS.ID – TIGA agenda upacara adat penting yang menjadi target Bebadan Kabinet 2004 dan semua elemen masyarakat adatnya, secara umum sudah terlaksana dengan aman, lancar dan sukses. Tiga target itu seakan menjadi pertaruhan Bebadan kabinet yang dipimpin Gusti Moeng itu, sebagai reaksi atas munculnya peristiwa 5 November 2025, deklarasi figur yang mengklaim sebagai penerus tahta.

Rabu Kliwon, 12 Mulud Tahun Be 1960 atau 26 Agustus 2026, adalah upacara adat Sekaten Garebeg Mulud yang menjadi agenda penting “terakhir” dari tiga target upacara yang harus diwujudkan Bebadan Kabinet 2004. Karena, tiga target penting itu seakan menjadi syarat sekaligus strategi, untuk mewujudkan agenda lebih penting bahkan maha penting, yaitu upacara adat jumenengan-nata Sinuhun PB XIV.

Memang benar, agenda tahapan terakhir awal “perjalanan” yang menjadi syarat genap dan lengkapnya gelar SISKS Paku Buwana XIV (Hangabehi), adalah upacara adat jumenengan-nata dengan simbol-simbol kelempakan penanda keabsahannya. Dan upacara itu harus dilakukan di depan “majelis” atau semua elemen adat penting yang melegitimasinya, yang salah satunya adalah gelar beksan Bedhaya Ketawang.

Upacara adat jumenengan-nata yang dilengkapi gelar tarian sakral, simbol  perjanjian antara Kangjeng Ratu Kencanasari dengan Sinuhun Panembahan Senapati (pendiri Mataram Islam) itu, adalah target maha penting di awal perjalanan yang harus dilakukan Sinuhun PB XIV Hangabehi. Karena upacara itu menjadi penegasan resmi kepada publik secara luas, maka tentu dipersiapkan dengan baik (cermat).

17-AGUSTUSAN : Renovasi ringan tembok Baluwarti sejak Panggung Sangga Buwana direvitalisasi dari medio 2025, tetap berlanjut sampai suasana 17 Agustusan habis masih berlangsung. Itu karena begitu banyak bangunan dan luasnya kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Persiapan dengan baik dan cermat untuk keperluan upacara adat jumenengan-nata, sampai saat ini memang belum tampak aktivitasnya secara khusus. Yang ada hanya kegiatan renovasi ringan di berbagai titik lokasi kawasan kraton, yang sudah dimulai sejak ada proyek revitalisasi museum, sebelum November 2025. Pekerjaan renovasi ringan, tampaknya mendesak dilakukan karena memang sudah saatnya.

Renovasi ringan berupa pengecatan ulang, tambal-sulam bagian atap yang bocor, kerangka konstruksi yang putus atau lapuk, pengerukan saluran sanitasi yang tersumbat, rupanya menjadi keharusan sebagai bagian dari perawatan rutin. Jadi, pekerjaan ringan dengan biaya kecil-kecilan hasil swadaya murni itu, sangat sulit disebut sebagai sebuah “persiapan”, apalagi di momentum 17-Agustusan.

SRI MANGANTI : Lingkungan bangunan di Sri Manganti Lor, juga tak luput dari renovasi ringan, sekadar menghilangkan kesan kusam tak terurus. Karena sudah lebih satu dekade, seluruh kawasan kraton tak terawat, apalagi selama 2017-2023. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Di satu sisi, perlunya persiapan yang baik dan cermat untuk kebutuhan gelar upacara adat “jumenengan-nata” itu sangat perlu dan penting, tetapi agenda itu adalah maha penting yang ditunggu-tunggu berbagai elemen masyarakat adat kraton dan jajaran Bebadan Kabinet 2004 di sisi lain, memang itulah fakta yang tampak. Karena, memang belum ada pengumuman resmi soal kepastian yang dijanjikan Gusti Moeng.    

Dalam berbagai kesempatan pertemuan/upacara adat sebelum Sekaten Garebeg Mulud, Gusti Moeng pernah menyebut, pada saatnya akan diumumkan hari dan tanggal upacara adat jumenengan-nata itu. Tetapi hingga Sekaten Garebeg Mulud 2026 terlaksana, belum ada tanda-tanda akan diumumkan waktu pelaksanaan upacara adat tersebut. Meskipun ada aktivitas “spesifik”, bisa disebut mengindikasikan itu.

TAMBAL-SULAM : Karena saat hubungan kraton dengan pemerintah pusat membaik dalam kondisi ekonomi “tidak baik-baik saja”, maka renovasi tambal-sulam adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan kraton, sesuai kemampuan swadayanya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Terlepas dari tanda-tanda fisik adanya persiapan upacara adat jumenengan-nata itu, bagi tokoh “Lembaga Kapujanggan” sekaliber KP Budayaningrat itu tidak menjadi masalah. Bagi “dwija” Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta itu, tampilnya seorang pemimpin baru Dinasti Mataram (Surakarta) yang seperti lazimnya, ada keharusan melalui upacara adat itu dan “kelengkapannya”.

“Kalau sudah hadir (jumeneng) di tengah pisowanan agung upacara adat jumenengan-nata yang dilengkapi beksan Bedhaya Ketawang, itu persyaratan yang tinggal diwujudkan Sinuhun. Tapi saya lebih menitikberatkan pada prosesi persiapan upacaranya, kalau dulu ada dawuh kepada abdi-dalem Pengageng Bedhaya. La, sekarang siapa Pengageng Bedhayanya?, Apa sudah mendapat dawuh untuk itu?”.

SAMPAI PATAH : Apalagi, ada satu “saka” (tiang) penyangga Bangsal Pradangga yang patah, tetapi selama 2017-2023 tak terurus sampai akhir hayat Sinuhun PB XIII, menjadi kewajiban Sinuhun PB XIV Hangabehi untuk mengurusnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Karena, kalau sudah ada dawuh kepada abdi-dalem Pengageng Bedhaya, pasati ada hal-hal prinsip yang akan dilakukan dan harus dilatih terlebih dulu. Melihat pengalaman ‘pihak sebelah’ (sejak 2017-kini-Red), setiap pisowanan agung terutama tingalan jumenengan, tidak ada Pengageng Bedhaya atau Bupati Gantung-seba. Tugasnya melapor Sinuhun, dengan cara ‘ngombang’,” ujar KP Budayaningrat.

Hal yang ditekankan KP Budayaningrat itu, hanya satu di antara banyak persiapan upacara adat jumenengan-nata, yang levelnya lebih tinggi dari ritual “tingalan jumenengan”. Karena, sejak “Bupati Gantung-seba” terakhir (almh istri KGPH Puger) tiada, selama Gusti Moeng bersama Bebadan Kabinet 2004 disingkirkan dari 2017, ritual tingalan-jumenengan Sinuhun PB XIII tanpa tata-cara “ngombang”. (Won Poerwono-bersambung/i1)