Iri, Dengki dan Sifat-sifat Jahat, Bisa Tampak dari Caranya “Memuliakan”
IMNEWS.ID – CONTOH perbedaan yang tak diduga karena tak sengaja terjadi dalam gelar puncak upacara hajad-dalem Gunungan Sekaten Garebeg Mulud 2026, Rabu (26/8) lalu, terkesan muncul begitu saja layaknya spontanitas. Padahal, sangat diyakini kegiatan ritual adat, tradisi dan budaya sebesar itu, pasti sudah direncanakan “lama”, disiapkan “matang” dan “diperhitungkan” semua “risikonya”.
Namun, justru karena sudah melalui “perencanaan” itu, menjadi tampak sekali ada perbandingan yang gampang dikenali dan diidentifikasi letak titik perbedaannya. Karena, “perencanaan” yang disusun masing-masing pihak jelas tidak sama, jika melihat eksekusi/pelaksanaan di lapangan ada perbedaan yang mencolok. Terlebih, perbedaan perencanaan sangat ditentukan “siapa” figur/kelompok yang menyusun.

Tetapi, faktor siapa (individu/kelompok) memang sangat menentukan eksekusi dan pelaksanaan upacara adat secara riil di lapangan. Meskipun, persoalan upacara adat khas simbol ikonik Kraton Mataram Surakarta sudah terbakukan ratusan tahun, dan dipandu oleh kaidah paugeran adat. Tetapi letak perbedaan itu jelas ditentukan seberapa jauh pemahaman terhadap materi, tata-nilai dan komitmennya.
Ketika memahami tiga hal terakhir itu, barulah bisa dimengerti alasan kenapa bisa berbeda hasil atau eksekusi di lapangan?. Padahal “dua pihak” yang menggelar upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026, sama-sama dari lingkungan masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta. Tetapi faktanya, ada perbedaan mencolok antara produk/karya “pihak sebelah” dengan “yang sebelah lainnya”.

Produk/karya “pihak sebelah”, terkesan hanya “asal-asalan” atau sekadar “ada” atau sekadar menjalankan kegiatan upacara secara formalitas, tanpa ada “ukuran” dan “idealisme” kewajaran. Maka, produk/karya pihak ini tentu banyak abai dari standar ideal wajar karena “kesengajaan”, hanya ingin sekadar terlihat ada. Tetapi, juga bisa karena sama-sekali tidak memahami semua “persyaratannya”.
Maka, jika sering terdengar ada hal-hal yang timpang atau ganjil bahkan sampai berbentuk kejadian (accident), itu karena kegiatan upacara adat produk/karya “pihak sebelah” yang dijalankan dengan kualitas akibat dua kemungkinan itu. Di luar dugaan, Rabu (26/8) ada dua kegiatan upacara adat serupa yang digelar “dua pihak” berbeda, tetapi masing-masing dijalankan dengan “standar kualitasnya”.

Maka dari situlah publik secara luas yang berada di luar kraton langsung bisa melihat, kemudian beranggapan dan memberi penilaian atas dua peristiwa upacara adat yang sama, di waktu hampir bersamaan dan di tempat yang sama. Sementara, Bebadan Kabinet 2004 bersama berbagai elemen masyarakat adat yang dipimpin Gusti Moeng menampilkan “peristiwa” ritual puncak hajad-dalem Gunungan di awal.
Karena upacara Sekaten Garebeg 2026 dengan berbagai rangkaiannya, benar-benar dijalankan sesuai kaidah tata-nilai paugeran adat sepenuhnya, maka bagian-bagian yang tampil/mudah dilihat publik menjadi tampak berbeda. Apalagi, semua kegiatan adat, tradisi dan budaya di kraton, dilakukan berdasar kesadaran, kepedulian, kecintaan yang tulus-ikhlas, pemahaman tinggi dan penghayatan penuh.

Berdasar kelengkapan sikap dan perilaku itu, Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA selalu menempatkan setiap upacara adat, kegiatan tradisi dan budaya (Jawa) di kraton sebagai sesuatu yang wajib “dimuliakan”. Karena, hal yang layak dan wajib dimuliakan itu, diakui, disadari dan dihormati sebagai “pusaka” warisan leluhur dinasti yang wajib dilestarikan dan dijaga eksistensinya sampai akhir hayat.
Sikap dasar dan perilaku Bebadan Kabinet 2004 bersama semua elemen masyarakat adat yang dipimpin Gusti Moeng inilah, yang melahirkan cara-cara menjalankan semua upacara adat di kraton dengan semangat “memuliakan” secara ideal. Elemen para sentana-dalem, sentana-garap dan para Ketua Pakasa Cabang mengenakan busana kebeseran upacara adat pada puncak Sekaten itu, menunjukkan “kemuliaan”.

“Kemuliaan” upacara adat Sekaten 2026 dan ritual puncak berupa prosesi hajad-dalem Gunungan Garebeg Mulud menjadi tampak jelas sekali, dan tampak beda sekali dengan ritual sejenis yang digelar “kelompok sebelah”, yang terkesan hanya sebagai “formalitas asal ada”. Publik mungkin malah bisa menyimpulkan, upacara adat mana yang benar-benar meyakinkannya sebagai “asli milik kraton”.
Kesimpulan “liar” ini bisa saja terjadi, karena biasanya hanya berdasar citra visual atau yang tampak “kasat-mata”. Kesimpulan dan anggapan keliru besar atau sesat ini bisa lahir, karena ada pemandangan “duplikasi” asal-asalan seperti itu. Maka, secara tidak langsung, keganjilan/keanehan yang bersumber dari rasa iri/dengki dan sifat-sifat jahat, bisa ditunjukkan melalui momentum seperti itu. (Won Poerwono-bersambung/i1)
