Busana “Sikepan Ageng Dodotan Sampir Kunca”, Menjadi Pembeda dengan “Sebelah”
IMNEWS.ID – TANGGAL 26 Agustus 2026 pada hari Rabu Kliwon, 12 Sapar Tahun Be 1960 (kalender Jawa) yang baru saja berlalu, menjadi hari sangat penting bagi Kraton Mataram Surakarta. Hari bersejarah dan hari lanjutan sejarah perjalanan Dinasti Mataram Surakarta, dari Mataram Islam Kartasura, Mataram Islam Plered dan Mataram Islam Kutha Gedhe tempat Sinuhun Sultan Agung Hanyakrakusuma bertahta.
Sebuah upacara adat perayaan keagamaan menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW, Sekaten Garebeg Mulud 2026, digelar Bebadan Kabinet 2004 Kraton Mataram Islam Surakarta. Ritul itu menjadi momentum penting penanda proses perjalanan sejarah di era awal tampilnya pemimpin baru Dinasti Mataram, Sinuhun PB XIV Hangabehi. Peristiwa itulah yang menegaskan Dinasti Mataram dan kelembagaannya berlanjut.

Yaitu, peristiwa adat, budaya dan tradisi yang membalut peristiwa religi dalam format akulturasi (Jawa-Islam) yang diformulasikan dan “disempurnakan” Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, Raja ke-3 “nagari” Mataram (monarki) Islam yang didirikan Sinuhun Panembahan Senapati (Raja ke-1). Peristiwa upacara adat terbesar dan paling bergengsi itu, sang pemimpin baru “menegaskan” semangatnya.
Selain menjadi penegasan semangat baru untuk melanjutkan dan menjaga eksistensi Dinasti Mataram dan kelembagaan masyarakat adat yang terwadahi dalam Kraton Mataram (Islam) Surakarta, momentum upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026 juga ada beberapa sinyal lain. Karena, secara tidak langsung fakta di lapangan telah menunjukkan adanya peristiwa serupa yang dilakukan “kelompok” lain.

Peristiwa serupa yang mirip dan juga “disebut” Sekaten itu, juga digelar pada waktu yang hampir bersamaan, Rabu (26/8) yang boleh disebut “duplikasi” di sesi kedua hari itu. Inilah sinyal yang secara langsung tetapi di luar dugaan muncul sebagai petunjuk adanya perbedaan yang sangat mencolok, antara upacara adat yang benar-benar memakai dasar kelengkapan tata-nilai dengan yang asal-asalan.
Publik secara luas yang berada di luar kraton, terutama yang mencermati di sepanjang rute prosesi dari halaman Kamandungan hingga Masjid Agung, tentu bisa membandingkan jalannya dua upacara sejenis berurutan antara pukul 09.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB itu. Dari situ ada perbedaan jauh yang sangat mendasar, yang bisa dianalisis, dan bisa disimpulkan dari hal-hal beda antara keduanya.

Sinyal yang arif untuk membandingkan dan mengambil kesimpulan atas dua upacara adat yang digelar dua pihak berbeda itu, menjadi fenomena menarik yang punya nilai sejarah untuk generasi 50 tahun hingga seabad kemudian. Karena, di alam republik yang menjadi wadah Kraton Mataram Surakarta dan sejumlah kraton lain di Nusantara, peristiwa mirip masa lalupun tetap saja terjadi, bahkan lebih “ngawur”.
Unsur-unsur yang bisa disebut “lebih ngawur” itu sangat gampang ditangkap mata publik di luar kraton, apalagi yang mengikuti/terlibat dalam upacara “budhalan” atau pelepasan prosesi Gunungan di dalam kraton. Dan unsur elemen pembeda yang sangat mencolok dan gampang dilihat publik, adalah tampilnya sejumlah sentana-dalem, sentana-garap dan para ketua Pakasa yang mengenakan busana kebesaran.

“Busana kebesaran upacara adat yang dipakai pada Sekaten Garebeg Mulud ini, adalah puncak upacara kebesaran milik Kraton Mataram Surakarta yang ditampilkan sejak Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. Lebih-lebih pada era Sinuhun PB X, kelengkapan upacara adat berupa busana kebesaran Sikepan Ageng Dodotan Sampir Kunca ini, sampai pada puncaknya. Karena, Sinuhun PB X waktu itu kaya-raya”.
“Jadi, busana kebesaran upacara adat, puncaknya di zaman Sinuhun PB X. Lengkap sekali, dari Sinuhun sendiri hingga abdi-dalem pangkat Lurah, ada busana kebesarannya. Sekarang, sudah lumayan Gusti Wandan (Bebadan Kabinet 2004) yang menginisiasi penampilannya di upacara-upacara besar. Upacara adat Garebeg Mulud seharusnya seperti ini,” ujar KP Budayaningrat, tokoh “lembaga kapujanggan”.

KP Budayaningrat, “dwija” Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta, selalu hadir di saat Bebadan Kabinet 2004 menggelar upacara adat, apalagi Sekaten Garebeg Mulud bahkan “tingalan jumenengan”. Dan beberapa saat sebelum “budhalan” prosesi hajad-dalem Gunungan Garebeg Mulud, Rabu (26/8) pagi itu, KPH Dr Raditya Lintang Sasangka (Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara) juga tampak.
Bagi kedua tokoh “Lembaga Kapujanggan” itu, beberapa hal wajib yang menjadi paugeran upacara adat seperti “busana kebesaran”, sudah sangat dipahami jajaran Bebadan Kabinet 2004 untuk dipatuhi. Kalangan pimpinan Pakasa yang 2-3 tahun ini juga sering tampil mengenakan “busana kebesaran” itu, sangat mengesankan. Ini yang membedakan dengan upacara adat yang sering digelar “pihak sebelah”. (Won Poerwono-bersambung/i1)
