Layanan Cek Kesehatan Gratis Memberi Manfaat dan Multi Makna
IMNEWS.ID – MOMENTUM gelar upacara adat “Garebeg Besar” perdana di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi (iMNews.id, 28/5), selain banyak memberi sinyal positif dan membanggakan, juga memberi banyak makna dan manfaat secara langsung. Karena, Bebadan Kabinet 2004 juga menggelar layanan cek kesehatan gratis di Pendapa Pagelaran, untuk semua elemen masyarakat adat yang hadir dalam “pisowanan” itu.
Layanan cek kesehatan gratis yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta ini, sudah dua kali dilakukan dalam format kerjasama sejak pertama, akhir tahun 2025. Layanan cek kesehatan ini menjadi hal baru bagi masyarakat adat kraton, setelah lama kehilangan kesempatan melakukan tugas layanan di bidang itu. Maklum, fasilitas kesehatan di kraton sudah lama lumpuh tak punya “kemampuan”.

Fasilitas gratis cek kesehatan sederhana yang meliputi “update” tinggi badan, panjang lingkar dan berat badan, kini termasuk “barang langka” di republik ini. Apalagi, ada rangkaian cek kesehatan kadar gula, tensi, kolesterol dan asam urat yang melengkapi. Rangkaian pemeriksaan kesehatan itu penting dalam menjaga ketahanan budaya, karena berpengaruh pada kerja adat dan pelestarian budaya.
Satu manfaat dari layanan cek kesehatan gratis sudah tampak, yaitu adanya korelasi antara ketahanan fisik dan kesehatan masyarakat adat dengan kerja adat dan kerja pelestarian budaya. Manfaat berikut tentu dirasakan lembaga kraton yang sudah tidak memiliki “kedaulatan” dalam menjaga dan memenuhi kebutuhan kesehatan secara mandiri. Kerjasama di bidang ketahanan kesehatan, mutlak dibutuhkan.

Manfaat kerjasama dalam layanan cak kesehatan gratis yang dilakukan Kraton Mataram Surakarta dan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta, juga terletak citra dan opini/kesan yang terbentuk di mata publik secara luas. Bahwa kemitraan antara kraton dan pemerintah (negara), kini kembali terhubungn manis dan ideal. Negara hadir menjalankan tugas dan fungsinya, kraton bisa mengakomodasi dengan baik.
Model kerjasama di bidang layananan cek kesehatan, akan semakin dibutuhkan secara periodik di waktu-waktu mendatang oleh masyarakat adat kraton. Karena, masyarakat adat rata-rata memiliki jaminan kesehatan sangat rendah. Kondisi ini akibat kraton sudah tidak mampu menanggung jaminan kesehatan, karena sudah tidak punya kedaulatan di bidang itu. Tuntutan standar umum layanannyapun, juga makin mahal.

Maka, ketika sebelumnya pernah terdengar di sekitar penetapan pengurus Pakasa Cabang Tegal/Slawi akan ditindaklanjuti dengan kegiatan gelar bhakti kesehatan bersama, tentu sangat dinanti-nanti kalangan masyarakat adat. Karena, model kerjasama di bidang itu yang diperankan secara bergantian oleh kalangan Pakasa cabang, menjadi hal yang rasional, ideal dan mulia sekali ketika diwujudkan.
Kamis (28/5) lalu di saat berlangsung upacara adat Garebeg Besar peringatan Hari Raya Idul Adha, kraton dan DKK Pemkot memberi layanan cek kesehatan gratis di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Tetapi layanan yang disiapkan sejak pukul 08.30 WIB, “dibiarkan nganggur”. Karena masyarakat adat utamanya warga Pakasa cabang dari Kota Surakarta, langsung terkonsentrasi pada kesibukan “pisowanan”.

Sementara itu, dalam aktivitas layanan yang mulai terjadi sekitar pukul 11.30 WIB bersamaan dengan selesainya seluruh rangkaian upacara adat Garebeg Besar, kesibukan mulai tampak di semua meja layanan yang ditunggi petugas DKK. Tampak di situ, KMT Susanti (istri KP Bambang S Adiningrat) bersama rombongan Pakasa Jepara langsung antre mendaftar. Layanan ukur tinggi dan berat badan, langsung didapat.
“Saya tadinya mau periksa kesehatan lebih awal. Tetapi, menjelang pukul 09.00 WIB utusan Pakasa cabang sudah diharuskan masuk kraton. Apalagi rombongan dari Kudus, yang memang biasa mengisi kebutuhan abdi-dalem Kanca-Kaji. Sebelum pukul 09.00 WIB, sudah harus menata barisan pada prosesi yang disiapkan di halaman Sasana Sewaka. Akhirnya, kami semua baru periksa kesehatan setelah upacara selesai”.

“Kudus mengajak rombongan 12 orang, semua bisa dilayani cek kesehatan lengkap. Istri dan anak saya, juga ikut dilayani semua. Ini sangat membantu kraton dan juga masyarakat adatnya. Mudah-mudahan bisa diagendakan secara periodik. Dan warga Pakasa Cabang Kudus menunggu pengumuman penting. Kapan jumenengan-nata Sinuhun PB XIV Hangabehi digelar,” ujar KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro.
Pertanyaan Ketua Pakasa Cabang Kudus itu memang baru terdengar disampaikan kepada iMNews.id, saat melakukan komunikasi sebelum “sowan” ke kraton dan sesudah Kamis (28/5). Itu bukan berarti tidak ada pimpinan Pakasa cabang lain yang tidak ingin tahu soal itu. Juga bukan berarti yang lain diam tidak peduli, hanya berharap-harap cemas. Sesungguhnya, semua sudah tidak sabar menunggu peristiwa itu.

Sampai kini, memang belum ada kabar soal penentuan waktu kapan akan dilaksanakan upacara adat jumenengan-nata Sinuhun PB XIV Hangabehi. Karena, sejak rapat koordinasi (rakor) panitia besar pertama (iMNews.id, 12/5), hingga kini belum ada kabar baru soal itu lagi. Tetapi seperti yang sudah ditegaskan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan dan disepakati rakor, Kirab Pusaka 1 Sura menjadi agenda penting.
Melihat agendanya, sinergitas semua kekuatan yang sudah terbangun dengan Bebadan Kabinet 2004, tentu akan berkonsentrasi untuk mewujudkan upacara adat kirab pusaka malam 1 Sura. Semua akan mempertaruhkan kewibawaan, harkat dan martabat kraton demi sukses dan terjaganya segala persyaratan ritual itu. Karena, itulah agenda paling dekat sangat penting, yang sudah saatnya “dijaga” kehormatannya. (Won Poerwono-habis/i1)
