Kamis Hari Ini, Gamelan Sekaten Ditabuh “Sampai Siang”, Libur Sampai Besok

  • Post author:
  • Post published:August 20, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Kamis Hari Ini, Gamelan Sekaten Ditabuh “Sampai Siang”, Libur Sampai Besok
"MERAK SUBAL" : Tari "Merak Subal" sajian Sanggar Tari Danudara, memberi sajian keindahan komposisi warna menarik karna warna-warni kostumnya mencolok saat terkena cahaya lampu panggung di Pendapa Sitinggil Lor, Rabu malam (19/8). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pentas Seni Sekaten Art Festival Juga Libur, Besok Malam Dilanjutkan

SURAKARTA, iMNews.id – Kamis Wage (20/8) hari ini, gamelan Sekaten Garebeg Mulud 2026 hanya ditabuh “setengah hari” sampai pukul 15.00 WIB atau saat salat Asar. Sehabis sore hingga malamnya itu ditiadakan dan baru ditabuh lagi setelah salat Jumat (21/8) besok siang. Perubahan waktu penyajian gamelan Sekaten di awal era Sinuhun PB XIV Hangebehi ini, dikembalikan ke tradisi yang berlaku sebelumnya.

Dengan upaya Bebadan Kabinet 2004 mengembalikan tradisi baku yang sudah berlaku jauh sebelumnya, maka sajian gamelan Sekaten yang sempat berlangsung dalam perubahan cukup lama sebelumnya akan berkurang. Indikasi sajian gamelan Sekaten di Masjid Agung yang berubah atau tetap berlangsung utuh sepanjang hari Kamis dan Jumat itu, tak banyak dirasakan aneh oleh publik karena sudah berlangsung lama.

“Betul. Hari ini, Kamis, gamelan hanya ditabuh sampai (menjelang) salat Asar. Sore hingga malam tidak ditabuh. Jumat pagi juga tidak ditabuh, baru siang setelah salat Jumat baru ditabuh lagi. Pentas tarinya (Sekaten Art Festival) juga sama, nanti malam (Kamis malam-Red) juga libur. Besok Jumat baru dilanjutkan lagi. Di kraton, rutin tiap Kamis tidak nabuh gamelan,” ujar KRT Rawang Gumilar.

Pengembalian tatacara baku libur kegiatan “menabuh” gamelan Sekaten tiap Kamis hingga Jumat siang, disesuaikan dengan paugeran adat baku Kraton Mataram Islam sejak ditetapkan Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusumua (1613-1645). Karena di lingkungan internal kraton, Kamis sehari penuh hingga lepas Jumatan, libur dari kegiatan menabuh gamelan dan acara yang menyajikan segala bentuk pertunjukan .

“SRIMPI DYAH CATUR” : Tari “Srimpi Dyah Catur” sajian Sanggar Pawiyatan Beksa kraton, menjadi sajian menarik bagi penonton kategori “sutresna budaya”. Walaupun pengunjung perdana Sekaten Art Festival semalam, tak semuanya “pandemen”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Walau sajian gamelan untuk keperluan syi’ar agama dan pentas seni Sekaten Art Festival libur, tetapi kegiatan persiapan upacara adat dan jenis kegiatan lain tetap berjalan di kraton, siang tadi. Yaitu, proses merakit dua pasang Gunungan yang tampak di Pendapa Magangan, dan pekerjaan fisik renovasi kecil-kecilan di berbagai titik lokasi di kawasan kraton, yang berjalan bersamaan Sekaten 2026.

Pekerjaan renovasi ringan dan pengecatan ulang tampak di menara Kori Brajanala Lor, tembok dan saluran di depan kantor Badan Pengelola (BP) kompleks Kamandungan, semua pintu Bale Rata (kandang kereta), kompleks Sri Manganti Lor, sisi barat teras museum dan salah satu Bangsal Pradangga halaman Sasana Swaka. Khusus Bangsal Pradangga, memakan waktu agak lama karena banyak ornamen rusak.

TARI “ENDAH” : Tari “Endah” sajian Sanggar Danudara, melukiskan sepasang muda-mudi yang sedang membangun kasih-sayang di antara mereka. Jenis tarian halus dan serius seperti ini, perlu diapresiasi saat disajikan di panggung bersejarah. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, pentas seni “Sekaten Art Festival 2026” di Pendapa Sitinggil Lor, semalam dibuka resmi Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA. Pentas seni di malam pertama semalam menyajikan 8 repertoar (judul) tari, yang disajikan sejumlah sanggar tari termasuk dari Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton Mataram Surakarta. Sanggar dari luar, di antaranya Sanggar Tari Danudara.

Kedelapan judul tari yang disajikan semalam, adalah tari “Srimpi Dyah Catur” (Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton), tari “Semut”, tari “Mancing”, tari “Endah”, tari “Merak Subal”, tari “Golek” dari Sanggar Tari Danudara, tari “Kiprah Ratu Sewu” (UGJ GS UGM-Jogja) dan tari “Bandayuda” (Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton). Durasi sajian dari 5-15 menit tiap judul tari, penyajinya rata-rata 1-6 orang.

RENOVASI RINGAN : Selain kegiatan Sekaten Garebeg Mulud dan semua rangaiannya termasuk pentas tari, Bebadan Kabinet 2004 juga punya kegiatan renovasi ringan yang dilakukan di berbagai titik lokasi, sebelum revitalisasi total usai Sekaten. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dibanding tahun 2025 lalu, event pentas seni “Sekaten Art Festival 2026” pada malam pertama atau pembukaan, diperkirakan sedikit berkurang jumlah penontonnya. Suasana ini sangat rasional karena pengunjung pentas seni banyak ditentukan oleh jumlah keterlibatan peserta, yang biasanya membawa keluarga atau orang tuanya saat tampil. Jumlah peserta stan dan pengunjung stan, juga ikut berpengaruh.

Dalam situasi dan kondisi ekonomi nasional bahkan global yang sedang tidak baik-baik saja, tentu juga sangat berpengaruh pada sajian “Maleman Sekaten” yang bisa menentukan jumlah pengunjung. Kondisi ini yang secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap animo menjadi peserta pentas dan suporternya, juga animo masyarakat berkunjung ke stan pameran, dagang dan jasa yang menonton pentas.

MERANGKAI GUNUNGAN : Kegiatan yang berkait dengan Sekaten, juga terjadi di Pendapa Magangan, ujung selatan kraton. Di sana ada sepasang abdi-dalem sedang merangkai dua pasang Gunungan yang disiapkan untuk puncak Sekaten Garebeg Mulud.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Walau dalam suasana ekonomi lesu, Sanggar Giri Alit (Wonogiri) yang dipimpin Sulistyowati SPd (Ketua) masih bersemangat ingin tampil di ajang “Sejaten Art Festival” yang digelar Bebadan Kabinet 2004 Kraton Mataram Surakarta. KRT Wahid Nugroho Reksotoyo Adipura (Pembina) menjelaskan, sanggarnya akan berpartisipasi tampil di event itu, Sabtu malam (22/8) untuk menyajikan “Sendratari Ramayana”.

“Sanggar Giri Alit akan menyajikan Sendratari Ramayana versi Kraton Mataram Surakarta. Karena waktu penyajian dibatasi, maka durasi pentas kami padarkan hanya 14 menit. Jadi, ada banyak adegan yang terpaksa dipangkas, tetapi masih tampak kaitannya runtut. Karena, ya memang harus berbagai dengan sanggar penyaji lain. Kami memaklumi itu,” ujar KRT Wahid menjawab pertanyaan iMNews.id, semalam. (won-i1)