Nanti Malam, Pentas “Sekaten Art Festival 2026” Dimulai di Sitinggil Lor
SURAKARTA, iMNews.id – Rabu Pon (19/8) mulai sekitar pukul 13.30 WIB siang ini, upacara adat dilakukan Bebadan Kabinet 2004 di kagungan-dalem Masjid Agung untuk menandai dimulainya ritual Sekaten Garebeg Mulud 2026. Melalui upacara itu, sekaligus memberi “dhawuh” kepada utusan-dalem yang dipimpin KPP Haryo Sinawung Waluyoputro, untuk menyampaikan aba-aba ditabuhnya gamelan Sekaten kali pertama.
Ketika gamelan Sekaten Kiai Guntur Sari di Bangsal Pagongan (Pradangga) Kidul halaman Masjid Agung kali pertama ditabuh atas perintah utusan-dalem, suara yang akan terdengar “jenggleng” keras, akan menjadi “tengara” atau tanda dimulainya upacara adat Sekaten Garewbeg Mulud 2026. Dengan suara “jenggleng” itu pula, menjadi pertanda untuk mengunyah sirih atau kinang yang sudah siap di tangan.

Ritual mengunyah sirih atau “nginang” bersama inilah, merupakan kesempatan dan momentum yang ditunggu-tunggu para pengunjung untuk “ngalab berkah”, termasuk masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta yang hadir. Momentum “nginang” adalah pengalaman hidup dalam “ngalab berkah”, mengikuti suara atau ungeling gamelan Sekaten sepisanan, yang menjadi tradisi rutin dan sudah ada sejak ratusan tahun.
“Jadi, jam 12.00 WIB semua abdi-dalem yang bertugas di Bangsal Pagongan Kidul sudah harus siap, seperti yang saya tegaskan tadi. Para petugas di Bangsal Pagongan Kidul, tentu akan berkoordinasi dengan upacara dan wilujengan yang ada di pendapa masjid Agung. Dan, pukul 13.30 WIB, harus sudah ada aba-aba untuk menabuh atau ngungelaken gangsa sepisanan,” ujar Gusti Moeng menjawab iMNews.id.

GKR Wandansari Koes Moertiyah (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA) secara singkat menjawab pertanyaan iMNews.id, seusai “wilujengan midadareni” Sekaten yang digelar di teras “gedhong” Sasana Handrawina, Selasa (18/8), semalam. Ritual yang digelar Bebadan Kabinet 2004 itu, dimulai pukul 20.00 WIB dan berakhir pukul 21.00 WIB, diikuti sekitar 70 abdi-dalem dan sentana-dalem jajaran Bebadan.
Donga wilujengan dipimpin abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Wijaya Pujodipuro, dan sambutan tunggal yang berisi pesan-pesan penting disampaikan Gusti Moeng. Karena “wilujengan midadareni” menyangkut persiapan upacara pembukaan dan ritual menabuh gamelan Sekaten kali pertama, semalam para abdi-dalem karawitan Mandra Budaya yang hadir mendominasi, sebagai penanggungjawab sajian gamelan Sekaten.

Semalam, tampak hadir “abdi-dalem anggong” KRT Sukadi, yang menyangkut tatacara mengusung gamelan dari tempat penyimpanan ke Bangsal Pagongan Masjid Agung. KPP Wijoyo Adiningrat (Wakil Pengageng Mandra Budaya) yang membawahi “abdi-dalem anggong” dan “abdi-dalem karawitan” berharap, agar pukul 09.00 WIB tepat mulai bersama-sama mengusung gamelan Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu ke masjid.
“Kalau pukul 09.00 WIB tepat bisa berangkat bersama-sama mengusung gamelan ke Masjid Agung, selesainya menata di dua Bangsal Pagongan bisa serentak dan singkat. Karena, pengusungan gamelan Sekaten untuk satu kali upacara adat tidak bisa diulang, karena memang tidak boleh. Salah satu alasan rasionalnya, komponen gamelan Sekaten berukuran jumbo dan bijiannya sangat berat,” ujar KPP Wijoyo.

KPP Wijoyo Adiningrat ingin memastikan benar rencana pangangkutan sepasang gamelan Sekaten besok pagi, agar bisa siap bersama para abdi-dalem penabuhnya pukul 12.00 WIB, sesuai saran dan permintaan Gusti Moeng. Salah satu tokoh yang selalu diajak berkoordinasi soal teknis penataan dan penyajian gamelan Sekaten, adalah KPH Dr Raditya Lintang Sasangka, seorang sentana-dalem wayah Sinuhun PB X.
Semalam, KPH Raditya yang sejak beberapa bulan lalu dikukuhkan gelar doktoralnya sebagai dosen pengajar di FEB UNS, semalam tampak juga berkoordinasi dengan Gusti Moeng. Di antara para abdi-dalem karawitan yang hadir, juga tampak KRT Dr Joko Daryanto, dosen pengajar di FKIP UNS. Selain itu, KPP Haryo Sinawung yang akan bertugas sebagai pimpinan utusan-dalem juga hadir dan menyatakan siap bertugas.

“Mudah-mudahan, mulai Sekaten tahun 2026 ini sudah tidak dihiasi insiden seperti tahun-tahun lalu. Tetapi kalau memang ada yang tetap berniat mengganggu, saya sudah siap. Saya sudah siap menjalankan tugas dengan segala risikonya, ujar KPP Haryo Sinawung, singkat. Sinyalemen yang dilukiskan sentana-dalem trah Sinuhun PB IX itu, seakan menjawab pernyataan Gusti Moeng dalam sambutannya, semalam.
Menurutnya, hingga kini pihaknya masih merasakan ada potensi “gangguan” sebagai ekses pergantian tahta di kraton. Ia menyatakan risih, karena banyak respon atas kondisi itu sebagai konflik kraton tanpa pernah ada selesainya. Dia berjanji akan menyelesaikan persoalan itu hingga tuntas, dengan tindakan tegas. Dia tak lupa mengingatkan iMMNews,id, mulai nanti malam ada pentas Sekaten Arti Festival.(won-i1)
