GRAy Putri Purnaningrum Tampil Melayani Wawancara Para Wartawan
SURAKARTA, iMNews.id – Upacara pembukaan ritual tradisi Sekaten Garebeg Mulud 2026 yang ditandai dengan suara gamelan yang ditabuh kali pertama, Rabu (19/8) siang tadi, tetap berjalan sesuai agenda yang sudah direncanakan. Meskipun, menjelang gamelan Kiai Guntur Madu ditabuh sekitar pukul 11.00 WIB, tetap saja diwarnai insiden kecil “pihak seberang” hendak menduduki Bangsal Pagongan Kidul.
Insiden yang dilakukan tiga orang oknum dari “seberang” sekitar 15 menit itu akhirnya gagal, saat mereka dihalangi sejumlah petugas keamanan internal karena memaksa hendak masuk ke ruang Bangsal Pagongan tempat gamelan Kiai Guntur Madu disiapkan. Masyarakat pengunjung yang belum begitu banyak menyaksikan momentum “ngnang” bersama, sempat menyaksikan teriakan dan adu mulut di antara mereka.

Insiden kecil itu cepat berlalu, sehingga ketika berlangsung upacara pembukaan di pendapa kagungan-dalem Masjid Agung, nyaris tak ada kendala dan berjalan lancar serta singkat. Upacara pembukaan di masjid agung dimulai sekitar pukul 13.00 WIB, yang ditandai dengan pembacaan ayat suci Alqur’an, pembacaan riwayat singkat lahirnya tradisi Sekaten yang berlanjut dengan pemberian “dhawuh” menabuh gamelan.
“Karena, saya sudah berjaga-jaga untuk mengantisipasi terulangnya insiden di tahun-tahun lalu, maka saya membentuk tim untuk berkoordinasi. Yaitu ada yang bersiap di pendapa Masjid Agung untuk memberi isyarat kepada saya, sebagai tanda untuk saya segera memberi dhawuh menabuh gamelan. Pengalaman sebelumnya, sound system disabotase, sehingga saya tidak bisa mendengar dhawuh dari utusan-dalem”.

“Sebagai antisipasi, begitu sudah ada dhawuh, ada tim dari Senapati Mataram yang memberi isyarat ke Bangsal Pagongan. Karena jarak antara pendapa dengan Bangsal Pagongan lumayan jauh, saya tidak mendengar dhawuh kalau sound system dimatikan. Maka, saat ada isyarat itulah saya lalu memberi dhawuh kepada tindhih abdi-dalem karawitan untuk mulai menabuh gamelan,” ujar KPP Haryo Sinawung Waluyoputro.
Wakil Pengageng Karti Praja itu, saat ditanya iMNews.id lebih lanjut menyatakan, dengan antisipasi yang dilakukan, sejak upacara berlangsung hingga proses kali pertama gamelan ditabuh atau “ungeling gangsa sepisanan” bisa berjalan lancar tanpa kendala. Walaupun dia tetap menyayangkan, insiden tetap terjadi dan mewarnai awal ritual Sekaten ini, terjadi beberapa saat sebelum upacara dimulai.

Terjadinya kembali insiden kecil mewarnai pembukaan upacara adat Sekaten di lokasi gamelan ditabuh di kagungan-dalem Masjid Agung, nyaris berlangsung tiap kegiatan itu digelar rutin tiap tahun selama periode “kraton remang-remang” mulai 2017 hingga kini. Dan yang terjadi di Sekaten tahun 2026 ini, dari sisi kualitas potensi kekerasan/perusakannya jauh menurun, tetapi pengamanannya meningkat.
Peningkatan sistem pengamanannya sangat kelihatan saat berlangsung pengusungan sepasang gamelan Kiai Sekati dari kraton ke dua Bangsal Pagongan Kidul (selatan) dan Lor (utara), pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB. Tetapi saat terjadi insiden hingga gamelan terdengar kali pertama ditabuh, pasukan polisi bersenjata laras panjang sudah tak kelihatan sesuai saran untuk menguatkan petugas pengamanan internal.

Begitu kedua gamelan pusaka selesai menyajikan gendhing Rambu (Kiai Guntur Madu) dan “Rangkung” (Kiai Guntur Sari), rombongan Gusti Moeng bersama GRAy Putri Purnaningsih dan beberapa pejabat jajaran bebadan Kabinet 2004 meninggalkan Masjid Agung. Mereka tak melewatkan momentum “nginang” bersama, saat gamelan Kiai Guntur Madu menyajikan gendhing “Rambu” kali pertama beruasara “jenggleng”.
Saat rombongan bertolak kembali ke kraton itu, para wartawan mencegat untuk wawancara. Di kesempatan gamelan Sekaten ditabuh kali pertama itu, GRAy Putri Purnaningrum yang akrab disapa Gusti Putri, memberi layanan wawancara yang diminta wartawan. Di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi ini, berturut tentang makna filosofi “nginang” di saat gamelan Sekaten kali pertama ditabuh “jenggleng”.

Walau sempat dibantu Gusti Moeng, keberaniannya melakukan wawancara dengan wartawan pada momentum Sekaten akan menjadi catatan sejarah penting. Mengingat, yang bersngkutan adalah adik kandung seibu dengan Sinuhun PB XIV Hangabehi. Peristiwa itu juga menjadi momentum penting, bahwa Gusti Putrilah tokoh yang “sedang magang” dna diharapkan menjadi pengganti peran Gusti Moeng di kraton, kelak.
Selain peristiwa “ungeling gangsa sepisanan” atau kali pertama suara gamelan Sekaten diperdengarkan sebagai tanda dimulainya upacara adat Sekaten 2026, masih ada lanjutan dari keseluruhan rangkaian ritual menyambut hari besar Maulud Nabi Muhammad SAW itu. Yaitu pentas seni “Sekaten Art Festival” yang mulai digelar malam ini di Pendapa Sitinggil Lor, hingga tanggal 26 Agustus mendatang. (won-i1)
