Juga Dilumuri Minyak “Campur-bawur” dan Beberapa Jenis Lain, Agar Awet
SURAKARTA, iMNews.id – Tepat dua hari menjelang puncak Sekaten Garebeg Mulud 2026 atau sebelum hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, 12 Sapar (Tahun Be 1960) diperingati, Bebadan Kabinet 2004 Kraton Mataram Surakarta menggelar ritual jamasan Meriam Nyai Setomi. Jamasan meriam yang dibawa Sinuhun Amangkurat Agung ke Kraton Kartasura itu, dipusatkan di Bangsal Witana, Senin (24/8), siang tadi.
Upacara adat jamasan yang dipimpin langsung Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA) itu, dimulai pukul 10.00 WIB lebih di Bangsal Witana, kompleks Pendapa Sitinggil Lor. Hampir semua Pengageng dan unsur pimpinan Bebadan serta para abdi-dalem jajarannya, hadir dalam “pisowanan” kecil ritual jamasan itu. Ritual didahului doa yang dipimpin RT Irawan Wijaya Pujodipuro.

Selesai “donga wilujengan” yang diantarkan abdi-dalem juru-suranata itu, segera dilanjutkan dengan membuka pintu Bangsal Witana yang dilakukan KRMH Suryo Kusumo Wibowo. Wakil Pengageng Sasana Prabu itu juga memimpin petugas yang menyisihkan ke samping selambu penutup meriam. Di saat itulah Gusti Moeng minta disiapkan minyak “Campur-bawur” dan air kembang setaman untuk memandikan meriam.
Ada lebih 50 orang dari berbagai jajaran Bebadan Kabinet 2004 yang hadir saat donga wilujengan berlangsung, tetapi kemudian berpencar menjalan tugas masing-masing. Selain membantu Gusti Moeng menjamasi meriam Nyai Setomi dan mengolesi minyak “Campur-bawur”, minyak cendana dan beberapa jenis lainnya, juga ada tim yang bertugas memandikan dan mengolesi minyak 10 meriam lain di kompleks itu.

“Jadi, seharusnya setiap tahun ada upacara adat Sekaten Garebeg Mulud, harus dilengkapi dengan jamasan Nyai Setomi. Setidaknya dua hari sebelum (menjelang) puncak Sekaten, hajad-dalem Garebeg Mulud, seperti hari ini. Dan selain Nyai Setomi, 10 meriam lain yang ada di kompleks Sitinggil Lor dan Pendapa Pagelaran juga dijamas. Setelah dijamasi, diolesi minyak beberapa jenis itu agar awet”.
“Dari dulu ya begitu itu tata-cara perawatannya. Kalau selama saya berada di luar (kraton) sejak 2017, saya tidak tahu apakah tatacara seperti itu juga dilakukan. Minyak campur-bawur, minyak cendana dan beberapa jenis minyak lain itu dioleskan, antara lain tujuannya agar menjaga unsur logamnya bisa tambah awet, baunya juga harum,” ujar Gusti Moeng menjawab pertanyaan para wartawan.

Sejak ritual dimulai, sejumlah wartawan mengikuti berbagai peristiwa yang menjadi bagian dari ritual jamasan Nyai Setomi. Termasuk, adanya kegiatan para pekerja bangunan yang sedang melakukan renovasi ringan di beberapa sudut di sekitar Bangsal Witana, kompleks Pendapa Sitinggil Lor. Yaitu pekerjaan fisik menambal bagian pilar yang berlubang, mengelupas cat lama lalu mengecat ulang.
Para wartawan juga mengikuti tatacara merawat 10 meriam “anakan” yang dipajang di pagar komleks Pendapa Sitinggil Lor, belakang kompleks Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa dan yang ada di halaman depan. Ada KP Siswantodiningrat (Wakil Pengageng Sasana Wilapa), KPP Wijoyo Adiningrat (Wakil Pengageng Mandra Budaya), para pejabat Kusuma Wandawa bersama abdi-dalem merawat tiap meriam.

Ada enam meriam selain Nyati Setomi di kompleks Pendapa Sitinggil Lor, yang dimandikan bersama-sama, lalu diseka dengan lap dan diakhiri dengan olesan beberapa macam minyak, termasuk minyak “Campur-bawur”. KRMH Suryo Kusumo Wibowo, KPP Bambang Sudarsono, KPP Wijoyo Adiningrat, KP Puspitodiningrat dan KP Siswanto Adiningrat tampak bersemangat saat mengoles meriam Kiai Kemburawi.
Mereka juga tampak antusias saat melakukan “treatment” pusaka Kiai Pantjawara yang ada di sisi timur halaman Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Karena menurut Gusti Moeng, 10 meriam pusaka di dua kompleks pendapa itu ibarat anak-anak dari Nyai Setomi yang dianggap induk meriam. Meriam induk itu disebut hasil rampasan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, dari prajurit Portugis saat masuk Batavia.

“Ya, anggap saja meriam Nyai Setomi itu induknya, dan 10 meriam yang lain itu anak-anaknya. Nyai Setomi itu adalah hasil rampasan (Sultan Agung) dari tentara Portugis, saat pasukan Mataram masuk Batavia. Meriam itu lalau dibawa Sinuhun Amangkurat Agung ke Kraton Kartasura,” ujar Gusti Moeng sambil menepis adanya pihak yang merasa kehilangan gamelan, padahal hilangnya sebelum Garebeg Besar.
Sementara itu, ritual Sekaten yang ditandai dengan sajian gendhing khas seperti “Rambu” dan “Rangkung” serta gendhing-gendhing karya Sinuhun PB V, terus berlanjut hingga Gunungan Garebeg Mulud dikeluarkan, Rabu pagi (26/8). Selama gamelan Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu ditabuh, RT Irawan Wijaya tak pernah absen memimpin wilujengan. Pentas senipun, nanti malam masih disajikan. (won-i1)
