UNS dan Kraton Bekerjasama Membentuk Lembaga Studi Kebudayaan

  • Post author:
  • Post published:May 10, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing UNS dan Kraton Bekerjasama Membentuk Lembaga Studi Kebudayaan
POTONGAN TUMPENG : Potongan tumpeng diserahkan Gusti Moeng kepada Prof Dr Ir Ahmad Yunus disaksikan KPH Edy Wirabhumi. Peristiwa itu menandai wilujengan kerjasama pembentukan lembaga studi kebudayaan UNS dan kraton, Minggu (10/5) tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Melengkapi Konservasi Seni Tari yang Dilakukan Komunitas Karangjati

SURAKARTA, iMNews.id – Lembaga Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan Kraton Mataram Surakarta, kini sedang memproses kerjasama untuk melahirkan Lembaga Studi Kebudayaan yang kelak terbuka bagi masyarakat secara umum. Kerjasama dilakukan oleh otoritas yang mewakili dua lembaga tersebut dan ditandai dengan potong-tumpeng, pada pertemuan yang digelar di kraton, Minggu (10/5).

Dalam “deklarasi” kerjasama yang berlangsung di eks kantor Sinuhun PB XI siang tadi, dari UNS diwakili Prof Dr Ir Ahmad Yunus selaku Ketua Badan Pengembangan Kebudayaan UNS dan tuan rumah diwakili GKR Wandansari Koes Moertiyah (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA). Usai potong tumpeng dan menikmati nasi tumpeng bersama-sama, dilanjutkan seminar Konservasi Seni Tari Srimpi karya para raja.

MEMBERI SAMBUTAN : KPH Edy Wirabhumi (Pimpinan Eksekutif LHKS) selaku Pangarsa Pakasa Punjer juga memberi sambutan pada kerjasama UNS dan kraton serta seminar konservasi seni tari Srimpi yang digelar di eks kantor Sinuhun PB XI, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sambutan sekaligus pengantar materi seminar, secara singkat diberikan Prof Dr Ir Ahmad Yunus yang mantan PR I UNS. Menurutnya, sejak awal UNS berdiri sudah disadari dan dipahami bahwa semua ilmu pengetahuan yang diajarkan harus diamalkan berdasar nilai-nilai kebudayaan. Yang mengurus semua bidang ilmu sesuai fakultasnya sudah ada, tetapi yang mengurus nilai-nilai kebudayaannya belum ada.

“Maka, dengan dilakukan kerjasama dan terbentuknya lembaga studi kebudayaan nanti bisa mewujudkan kebutuhan itu,” ujar Prof Dr Ir Ahmad Yunus. Sambutan dan juga materi seminar (sarasehan), diberikan Gusti Moeng. Selain pemimpin otoritas di kraton (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA dan Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan), dia adalah maestro tari kraton, koreografer dan mantan penari kraton.

KERABAT PEMERHATI : BJ Riyanto, kerabat kraton yang juga pemerhati budaya, juga mendapat potongan tumpeng dari Gusti Moeng. Eks aktivis FSRD UNS yang aktif dalam kerjasama itu, pernah beberapa kali tampil dalam film komedi Warkop Prambos 80-an. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sambutan berikutnya diberikan KPH Edy Wirabhumi (Pimpinan Eksekutif LHKS) selaku Pangarsa Pakasa Punjer. Dia berharap, dengan lahirnya lembaga studi kebudayaan hasil kerjasama UNS dan kraton, akan bisa menampung kegiatan pelestarian Budaya Jawa yang bersumber dari kraton. Karena, jenjang lembaga pendidikan yang ada kini, belum mampu menampung kegiatan pendidikan ke arah pelestarian/konservasi.

Materi seminar berikutnya, secara singkat disampaikan Oni Andi Asmara selaku pimpinan teknis proyek konservasi seni tari Srimpi karya raja-raja di Kraton Mataram Surakarta. Proyek konservasi terhadap lima tari, Srimpi Lobong, Srimpi Anglir Mendung, Srimpi Ludiramadu, Srimpi Wursitarukmidan tari Srimpi Ganda Kusuma dalam bentuk video dan buku sudah selesai di tahun 2025.

CERDAS DAN SANTUN : BRA Lung Ayu tampil berkisah soal pengalamannya berlatih tari di bawah pengawasan ketat ibundanya, Gusti Moeng. Penari aktif Bedhaya Ketawang hingga saat ini, adalah sosok anak muda yang cerdas dan santun dalam berbicara. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Konservasi lima repertoar tari rumpun “Srimpen” karta para raja Kraton Mataram Surakarta itni, dalam bentuk video dan buku adalah hasil kerjasama antara Komunitas Karangjati Nyawiji (Semarang) dengan Dirjen Kebudayaan (Kemenbud) dan kraton. Selain Oni Andi, ketua Komunitas Karangjati selaku penggagas konservasi juga memberi sambutan. Ada sesi tanya-jawab dibuka untuk para peserta yang hadir.

Dari sesi tanya-jawab, seorang guru dari Kabupaten Nganjuk bernama Dewi menyatakan, dirinya adalah lulusan SKMN 8 Surakarta dan mantan penari Bedhaya Ketawang di Kraton Mataram Surakarta sekitar 5 tahun lalu. Pengakuannya memberi gambaran menggembirakan pada sisi lain, yang beda dari penjelasan BRA Lung Ayu, penari anggota Sanggar Beksa kraton yang bisa melukiskan cara mencapai “wirasa”.

BERFOTO BERSAMA : Seminar konservasi dan wilujengan kerjasama UNS dan kraton, diakhiri dengan foto bersama di ruang seminar, eks kantor Sinuhun PB XI Kraton Mataram Surakarta, Minggu (10/5) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Puteri sulung Gusti Moeng yang sedang menempuh S2 bidang ilmu hukum itu mengaku, belajar tari di kraton yang notabene di bawah asuhan sang maestro, Gusti Moeng, tidak sama belajar menari di luar kraton. Yang berusaha dilakukannya selama ini, harus memulai dengan mengosongkan semua yang ada di pikiran dan hati, untuk fokus dan konsentrasi pada berakan tari sambil mendengarkan alunan gendhingnya.

Menurut Gusti Moeng, semua jenis tarian di kraton harus bisa mencapai “wirasa” sebagai puncak dari yang dicapai sebelumnya yang meliputi “wiraga” dan “Wirama”. Kalau sudah bisa melihat “wirasa” pada semua jenis tari di kraton, pasti mudah membedakan dengan tari Gambyong, karena tidak membutuhkan unsur itu. Di kraton, tari Srimpi dan Bedhaya sudah terurus, tetapi jenis Wireng dan Lawung belum. (won-i1)