Punya Ritual Andalan, Eksistensi Kepengurusan Cabang Sangat Berdinamika
SLAWI/TEGAL, iMNews.id – Kabupaten Slawi/Tegal akhirnya memiliki susunan kepengurusan Pakasa cabang lagi yang baru dan eksis, yang akan mengabdi selama 5 tahun hingga 2031. Kepengurusan baru yang dipimpin KMT drg Fitri Nursapti Arini Sp BMM MPH selaku Ketua Umum ini, ditetapkan dan dilantik resmi oleh KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Pakasa Punjer), sekaligus peresmian kantor sekretariatnya.
Pelantikan pengurus baru (2026-2031) yang dilanjutkan peresmian sekretariat Pakasa, berlangsung di kantor baru Galeri Budaya “Jatayu” Brigif 4 Kostrad Dewa Ratna, Jalan RA Kartini, Kelurahan Slawi Kulon, Kecamatan Slawi, Kabupaten Slawi/Tegal. Pelaksanaan dua acara sekaligus mulai pukul 14.00 WIB Minggu (12/7), karena sekitar sejam sebelumnya ada “jamasan makam” Sinuhun Amangkurat Agung.
Dalam sehari, Minggu (12/7) itu, rombongan utusan-dalem dari kraton yang dipimpin Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA) melakukan perjalanan ke Kabupaten Slawi/Tegal dan menghadiri beberapa acara sekaligus di tempat terpisah (iMNews.id, 12/7). Yang pertama siang sekitar pukul 11.00, berupa “jamasan makam” atau “larab langse” makam di Astana Tegalarum, Desa Paseban, Kecamatan Adiwerna.
Acara itu diakhiri dengan penyerahan buku biografi Sinuhun Amangkurat Agung setebal 700 halaman, ditulis sejarawan Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat) dan dipersembahkan KMT drg Fitri Nursapti Arini Sp BMM MPH selaku Ketua Pakasa Cabang Slawi/Tegal kepada Gusti Moeng. Penyerahan di pendapa makam, disaksikan KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Pakasa Punjer), GKR Ayu Koes Indriyah dan penulis buku itu.

Berlangsungnya acara di makam yang sepenuhnya didukung pengurus dan warga Pakasa Cabang Slawi/Tegal, agak berbeda dengan beberapa tahun lalu yang dihadiri unsur utusan/perwakilan dari Pemkab Slawi/Tegal. Acaranyapun juga sudah tidak seperti beberapa tahun silam, dimeriahkan pasar malam, pentas seni, pengajian akbar dan wayang kulit seperti saat Ki Enthus Susmono (alm) masih menjabat Bupati setempat.
Perubahan suasana saat berlangsungnya ritual “jamasan makam” di Astana Pajimatan Tegalarum, tidak bisa dilepaskan dari situasi dan kondisi di kraton yang memberi efek berdinamika secara langsung/tidak di ajang upacara adat itu. Karena  sebelumnya, pengurus Pakasa Cabang Tegal yang diketuai KRA Soebagyo (alm) sempat “direbut” kelompok pengikut Sinuhun PB XIII yang punya akses ke Pemkab setempat.
Efek berdinamika yang termasuk tajam hingga dalam bentuk insiden mencabut papan nama dari BP3 Cagar Budaya untuk kompleks makam, sempat mewarnai kekosongan dan kevakuman kepengurusan Pakasa Cabang Slawi/Tegal hingga otoritas kepengurusan makam Tegalarum. Menyikapi itu, di sela-sela penutupan ritual “jamasan makam”, Ketua Umum Pakasa cabang berharap bisa menata kembali hubungannya dengan Pemkab Slawi/Tegal.
Harapan itu disambut baik KPH Edy Wirabhumi dalam sambutannya selaku Pangarsa Pakasa Punjer, saat melantik dan menetapkan susunan kepengurusan baru Pakasa Cabang Slawi/Tegal periode 2026-2031. Kepengurusan baru dilengkapi beberapa organ penanggungjawab pengembangan kesenian, di antaranya sastra daerah. Bahkan KPH Edy Wirabhumi menyinggung ritual “jamasan makam” bisa dikembalikan ke format lama.

Format lama dimaksud, adalah dilakukannya kembali tradisi potong kuku dan rambut jenazah Sinuhun Amangkurat Agung seperti yang selalu digelar sebelum 4 dekade lalu. Menurutnya, ritual “jamasan makam” isinya selain ganti “langse” yaitu tradisi potong kuku dan rambut Sinuhun Amangkurat Agung. Namun, gagasan itu baru usulan yang perlu pertimbangan, dan otoritasnya ada pada Pengageng Sasana Wilapa.
“Saya secara pribadi setengah heran. Kenapa jasad Eyang Amangkurat Agung yang sudah ratusan tahun, masih bisa terus tumbuh rambut dan kukunya. Ini sungguh ‘kaelokaning’ jagat. Andai kata dengan pertimbangan yang matang nanti bisa diwujudkan tradisi itu, saya yakin akan makin menambah daya tarik wisata Astana Pajimatan Tegalarum. Ini pasti akan menambah kesejahteraan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Dalam “tetepan” pengurus Pakasa Cabang Slawi/Tegal, berlangsung dua kali antara pengurus inti dan pengurus lengkap yang jumlahnya cukup banyak. Namun, banyak yang tak bisa hadir dalam pelantikan siang itu, karena waktunya upacara yang sesuai undang mulai pukul 15.00 WIB, maju sekitar sejam karena dipercepat agar segera selesai. Setelah pelantikan, masih ada peresmian kantor Sekretariat Pakasa.
Kantor sekretariat yang diresmikan, bersebelahan dengan tempat upacara yang masih satu kompleks di Galeri Budaya “Jatayu” Brigif 4 Kostrad Dewa Ratna, Jalan RA Kartini, Kelurahan Slawi Kulon, Kecamatan Slawi. Jaraknya dari lokasi Astana Pajimatan Tegalarum sekitar 5 KM atau 15 menit perjalanan. Kantor itu menempati bangunan lama yang disebut KRA Kusworo Adi Susatyoningrat bekas pabrik gula.

Karena armosfernya benar-benar terasa nuansa bangunan kunonya, maka Gusti Moeng begitu masuk ke ruang utama sekretariat langsung berkomentar benar-benar memasuki bangunan bekas pabrik gula. Dan bangunan itu disebut Ketua Harian Pakasa Cabang Slawi/Tegal KRA Kusworo itu, didapat data yang menyebutkan tahun pendirian 1930. Pada tahun itu, “negara” (Monarki) Mataram Islam Surakarta dipimpin Sinuhun PB X.
Sinuhun PB X yang jumeneng-nata tahun 1893-1939, menurut sejarawan Dr Purwadi, khususnya di Jawa yang menjadi wilayah kekuasaan Kraton Mataram Surakarta, telah didirikan 169 pabrik gula (PG) yang kepemilikannya sebuah perusahaan yang sangat bervariasi kerjasamanya. Tetapi, rata-rata modal usaha operasional perusahaan dananya dari kraton dan teknologi bangunan dan mesin industri dari Belanda.

Dengan “tetepan” pengurus Pakasa Cabang Slawi/Kendal yang ditandai dengan persembahan buku biografi setebal 700 halaman itu, KMT drg Fitri Nursapti Arini Sp BMM MPH selaku Ketua Umum Pakasa Cabang Slawi/Tegal berketetapan bisa membantu mengatasi stigma negatif yang pernah berkembang tentang Sinuhun Amangkurat Agung. Karena, tokoh raja ini dikesankan negatif, sebagai “pembunuh” ribuan orang.
“Berita yang disebarkan itu adalah hoax bernada fitnah. Karena, sama sekali tidak didukung data. Misalnya, data lokasi penemuan jenazah korban pembunuhan massal, dalam satu tempat. Sampai sekarang, tidak pernah ditunjukkan secara terbuka di mana lokasi kuburannya. Karena, ribuan nyawa korban pembunuhan massal di tahun 1645-1677, itu jumlah yang banyak sekali lo,” tandas KMT drg Fitri Nursapti.(won-i1)







