Tandai Awal Era Sinuhun PB XIV, Besok Bebadan Kabinet 2004 Gelar Garebeg Besar

  • Post author:
  • Post published:May 27, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Tandai Awal Era Sinuhun PB XIV, Besok Bebadan Kabinet 2004 Gelar Garebeg Besar
KURANG POPULER : Suasana kerumunan massa yang datang "ngalab berkah" ritual Garebeg Besar seperti yang digelar pihak "sabrang", siang tadi atau biasa terjadi tiap tahun, tidak seheboh dam sebanyak pengunjung ritual Garebeg Mulud ini. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tak Akan Ada “Duplikasi” dan Insiden Berebut Mikropon untuk Memberi “Dhawuh”

SURAKARTA, iMNews.id – Jajaran Bebadan Kabinet 2004 pimpinan Gusti Moeng, untuk kali pertama menandai datangnya “era pemimpin baru” Sinuhun PB XIV Hangabehi, yaitu pada momentum pelaksanaan upacara adat hajad-dalem Gunungan Garebeg Besar. Tak masalah ada aktivitas duplikat upacara di hari berbeda, tetapi peristiwa menyambut era baru ini diyakini lebih khidmat karena tanpa “insiden berebut”.

Kamis Kliwon, 11 Besar Tahun Dal 1959 yang tepat jatuh pada tanggal 28 Mei 2026, akan menjadi tonggak sejarah baru bagi Kraton Mataram Surakarta, di era pemimpin Sinuhuh PB XIV Hangabehi. Sebuah peritiwa besar terjadi di saat merayakan hari besar agama, Idui Adha atau Hari Raya Kurban yang menjadi tradisi kraton turun-temurun ratusan tahun sejak Dinasti Mataram berdiri, bahkan sejak Kraton Demak.

FULL TEAM : Berbagai Bregada Prajurit yang pernah menjadi pasukan keamanan negara Mataram Surakarta (1745-1945), akan turun “full team” mendukung prosesi hajad-dalem Gunungan Garebeg Besar yang digelar Bebadan Kabinet 2004, Kamis (28/5) besok. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam wawancara dengan sejumlah media, siang tadi, GKR Wandansari Koes Moertiyah  (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dwan Adat) menegaskan, (Bebadan Kabinet 2004) Kraton Mataram Surakarta menggelar upacara adat “Garebeg Besar” di tahun 2026, Kamis (28/5) besok. Ritualnya mundur sehari dari Idul Adha yang disepakati secara nasional, karena ada alasan yang tidak mengurangi makna keseluruhannya.

Alasan penting dan rasional mengundur sehari pelaksanaan upacara adat prosesi Gugungan Garebeg Besar, karena khusus untuk tradisi kraton memperingati Hari Raya Lebaran (Idul Fitri) dan Hari Kurban (Idul Adha), karena selama Sinuhun PB XII jumeneng nata, terjadi perubahan sosial sangat besar. Di antaranya, kraton semakin kehilangan SDM abdi-dalem yang berkerja pada aktivitas mengarak Gunungan.

Karena semakin bertambah usia bahkan meninggal, jumlah SDM “abdidalem garap” khusus “Keparak Mandra Budaya” di berangsur-angsur semakin berkurang. Tetapi kraton semakin tidak mampu lagi untuk merekrut anak-cucu keturunan abdi-dalem, karena sudah tidak punya sumber daya keuangan (SDK) untuk membayar dengan layak dan cukup. Kraton sudah tidak punya sumber daya ekonomi sejak bergabung ke NKRI.

Lambat-laun kerepotan untuk mengurus prosesi upacara adat yang menggunakan Gunungan, seperti Garebeg Syawal, Garebeg Besar apalagi Garebeg Mulud, semakin terasa. Puncak krisis kekurangan SDM terjadi ketika kraton memasuki “era gelap” (2027-2022) akibat “Insiden MOM”. Di saat itulah Bebadan Kabinet 2004 menyadari krisis yang terjadi, dan cepat mangatasinya dengan mengoptimalkan elemen Pakasa.

TUNTAS FINAL : Rangkaian menyusun bentuk Gunungan hajad-dalem Garebeg Besar dan berbagai uba-rampenya, sudah menjadi format tuntas final di kraton. Walau digarap berganti-ganti orang dan zaman, bentuk, tatacara, komponen dan ukuran tetap sama. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam beberapa tahun pelaksanaan upacara adat jenis Garebeg yang berlangsung di penghujung “era gelap”, kebutuhan SDM abdi-dalem yang bertugas dalam prosesi pengangkutan Gunungan dan uba-rampenya, sudah berangsur-angsur teratasi. Menurut KRMH Suryo Kusumo Wibowo (Wakil Pengageng Sasana Prabu), pendekatan bagi sisa abdi-dalem Keparak Mandra Budaya masih bisa teratasi, ditambah dukungan Pakasa.

Dengan terisinya daftar hadir utusan Pakasa 23 cabang yang diedarkan Pakasa Punjer, tampak sekali kebutuhan SDM petugas pengangkut prosesi hajad-dalem khusus tiga jenis upacara adat itu, sudah teratasi. Ada 300-an warga Pakasa dari 23 cabang yang akan hadir mendukung ritual Garebeg Besar. Kamis (28/5) besok, datang bantuan pasukan pendukung SDM abdi-dalem “Semut Ireng”, dalam jumlah cukup.

Dalam pada itu, jalannya upacara adat Garebeg Besar besok diyakini tidak akan terjadi insiden “berebut tugas” seperti yang beberapa mewarnai upacara adat kirab malam 1 Sura dan Garebeg Mulud. Menurut KPP Haryo Sinawung Waluyoputro (Wakil Pengageng Karti Praja), KRMH Suryo Kusumo Wibowo dan KRT Darpo Arwantodipura (staf Kantor Sasana Wilapa), ritual Garebeg Besar bisa “iduplikasi” dan terpisah.  
“Kalau upacara adat Garebeg Mulud ‘kan tidak terpisah berdiri sendiri atau tidak (bisa) diduplikasi. Jadi, kemungkinan berebut mikropon untuk memberi dhawuh seperti yang sudah-sudah, sangat mungkin terjadi. La, besok itu, Garebeg Besar yang digelar Bebadan Kabinet 2004 terpisah, beda hari. Maka, bisa terhindari dari insiden rebutan mikropon. Karena, besok saya yang mendapat tugas memberi dhawuh”.

ADA KAITANNYA : Tiga jenis upacara adat Garebeg yang dimiliki kraton, ada ritual yang menjadi kaitannya yaitu jamasan Nyai Setomi yang ada di kompleks Pendapa Sitinggil Lor. Ritual kaitan ini yang tak mungkin dijumpai di tempat lain. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

KPP Haryo Sinawung yang dihubungi iMNews.id secara terpisah dari dua tokoh d atas, besok akan kembali mendapat tugas untuk menyempaikan dhawuh kepada abdi-dalem juru-suranata untuk memimpin doa wilujengan hajad-dalem Garebeg Besar. Tugas itu sudah beberapa kali diterima dari Gusti Moeng, dan beberapa kali pula terlibat insiden rebutan mikropon, saat hendak mengumumkan tugas mendoakan.

Upacara adat sejenis yang diduplikasi, berlangsung pagi hingga siang tadi yang dilaksanakan pihak “sabrang”, seperti yang sudah diperkirakan banyak pihak sebelumnya. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, khusus upacara adat Garebeg Besar dan Garebeg Syawal, memang tidak begitu populer di kalangan publik secara luas. Maka, warga yang “ngalab berkah” seperti bersaing jumlah dengan pelaksananya.

SIANG TADI : Pemandangan saat berlangsungnya ritual duplikasi Garebeg Besar yang dilaksanaan kelomok “sabrang, siang tadi, tampak iring-iringan prosesinya sedang melewati bagian tengah Alun-alun Lor menuju Masjid Agung. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selain prosesi Gunungan Garebeg Besar, ada upacara adat berkait ritual Garebeg digelar, yaitu ritual jamasan meriam Nyai Setomi di Pendapa Manguntur Tangkil kompleks Pendapa Sitinggil Lor. Menurut KRMH Suryo, sejak dulu ritual jamasan hanya boleh dilakukan maksimal dua hari sebelum ritual Garebeg. Tetapi di tangan pihak “sabrang”, jamasan dilakukan bersamaan dengan Garebeg Besar, tadi pagi.

Dalam pada itu, selama beberapa ritual bisa “diduplikasi” melahirkan pertanyaan mengapa ritual Garebeg Mulud dan juga kirab pusaka malam 1 Sura belum pernah diduplikasi?. Pertanyaan ini masih menjadi misteri, dan pasti ada alasan yang sangat rasional dan tidak boleh diterjang. KRT Darpo Arwantodipuro yang ditanya menyatakan, kelihatannya yang tahu alasan/misteri itu hanya Gusti Moeng. (won-i1)