Di Zaman Serba Terbuka, Ndilalah Serba “Cupet”, Tetapi Masih Disikapi Sinis
IMNEWS.ID – “INIKAH tanda-tanda akan kembalinya kemuliaan, kewibawaan, harkat dan martabat Kraton Mataram Surakarta?”. Pertanyaan ini mungkin sangat tidak populer bagi kalangan warga masyarakat adat dalam berbagai elemen itu. Apalagi bagi publik secara luas yang melihat kraton sekadar sebagai objek peradaban dalam lintasan sejarah, atau sekadar objek wisata yang menjadi bagian Kota Surakarta.
Pertanyaan di atas tentu merujuk pada peristiwa langka upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma yang dilakukan kraton di Pulau Nusakambangan, Cilacap, 2-3 Mei 2026 (iMNews.id, 7/5). Mengapa ada pertanyaan demikian?. Ini yang mungkin perlu diurai untuk dipahami, karena tak semua petugas dalam panitia yang dibentuk dan menjalankan tugas itu justru kurang atau belum memahami persoalannya.
Rata-rata yang bertugas sebagai panitia di bidang apa saja, memang hanya tahu bahwa ritual “methik sekar” Wijayakusuma tidak begitu dikenal atau populer. Tetapi sangat mungkin tidak dipahami, kurang/tidak populernya upacara adat itu karena langka atau baru kali pertama dialaminya. Tetapi mungkin juga, ada di antara mereka merasa tak perlu memahami itu, karena misinya sekadar “berwisata”.

Dengan melihat berbagai realitas yang ada, maka sebenarnya peristiwa upacara adat “methik sekar” ini masih menjadi “misteri” bagi kebanyakan yang menjalankan tugas, apalagi publik secara luas. Hal yang berkait dengan “misteri” inilah yang bisa menghadirkan pertanyaan di atas. Misteri itu bisa terhubung langsung dengan situasi dan kondisi, yang kontekstual dengan waktu saat peristiwanya berlangsung.
Maka ketika konteks waktu saat peristiwa berlangsung berada pada zaman yang sangat terbuka, tetapi berada dalam situasi dan kondisi yang serba terbatas atau “cupet”, sikap transendental yang kemudian muncul. Sikap ini selalu dimiliki kearifan lokal Budaya Jawa, yang pada batas-batas tertentu sangat peka terhadap ekspresi sinis dari yang selalu mengedepankan cara berpikir verbal dan pragmatis.
Kepekaan itu sering tereduksi dalam kearifan lokal Budaya Jawa yang berbunyi “Sapa sing nandur, bakal ngundhuh”, apalagi bila disertai pengorbanan. Inilah sikap kearifan lokal yang banyak diyakini kalangan panitia yang terlibat dalam ritual “methik sekar” Wijayakusuma. Inilah yang membingkai pengharapan ideal atas pengorbanan yang dilakukannya, untuk bersama-sama menghadirkan “misteri” itu.

Walau tidak semua punya “kesiapan” moral, mental, spiritual dan pengetahuan yang sama, tetapi upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma jelas bukan kegiatan main-main atau sekadar berwisata. Niat tulus dan ikhlas berkorban apa saja, menjadi modal sosial luar biasa yang sudah disumbangkan kalangan masyarakat adat, terutama elemen Pakasa cabang. Mereka bergotong-royong walau dalam keterbatasan.
Dalam situasi dan kondisi ekonomi nasional yang sedang tidak baik-baik saja (buruk), sebagian besar dari 230 orang panitia dari elemen Pakasa, bergotong-royong “menyumbang”. Bahkan para “simpatisan” dari luar elemen masyarakat adat seperti Pemkab Magelang, Pemkab Cilacap dan sebagainya juga membantu. Demi sebuah “misteri” yang ideal, lahir kesadaran bersama “berkorban”, tulus dan ikhlas.
Gotong-royong warga dan pengurus 12 cabang Pakasa itu, tentu menjadi jawaban atas situasi dan kondisi ekonomi nasional yang buruk saat ini. Bahkan menjadi solusi atas situasi dan kondisi yang serba “cupet” saat ini. Lembaga Kraton Mataram Surakarta yang sudah tidak bisa berfungsi “back-up full power”, menjadi alasan sangat rasional, apalagi baru bangkit setelah lebih 20 tahun terpuruk sejak 2004.

Zaman padat teknologi dan “padat politik” yang memberi ruang sangat terbuka, telah memberi panduan dan pedoman baru bagi pelaksanaan upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma. Berbagai kemudahan didapat, sehingga tidak lagi berbulan-bulan untuk memetik dan memboyong sekar, seperti dilakukan Patih Sindureja untuk semua raja Mataram di Kartasura, begitu juga sudah tak perlu jasa kereta api.
Untuk mengangkut orang dan barang serta perlengkapan upacara, sudah tidak perlu menumpang kereta api seperti saat “methik sekar” pada zaman Sinuhun PB X. Dengan armada busa dan mobil pribadi, soal angkutan orang, barang dan uba-rampe sudah bisa teratasi. Dibantu surve yang bisa menggunakan bantuan “drone”, pencapaian lokasi dan rute yang ditempuh bisa lebih cepat, dan akurat dan menjadi hemat.
Tetapi, di sela-sela berbagai kemudahan itulah yang perlu dicermati, karena di situ justru menjadi celah potensi tantangannya. Karena, jika ada yang terlewatkan atau terlupakan, apakah itu benda peralatan atau urutan tatacaranya, pasti akan menjadi “cacat” yang mudah dan cepat terbuka dan tersebar luas. Potensi “cacat” macam inilah yang kini menjadi tantangan berat, karena mengundang reaksi buruk.

Reaksi buruk berupa cemoohan dan sikap sinisme dari pihak-pihak yang belakangan ini sedang “dihadapi” sebagai “pesaing”, tentu merasa mendapatkan bahan untuk mendelegitimasi segala macam yang disupremasikan ideal jika terjadi “kesalahan” atau “kekurangan” sekecil apapun. Mereka tidak peduli, untuk mewujudkan semua rangkaian upacara itu, harus bergotong-royong dan menguras segala bentuk energi.
Di satu sisi, sesuatu yang sudah menjadi keniscayaan, misalnya akibat belum punya pengalaman, apapun yang dicapai harus diterima dan disyukuri. Apalagi di sisi lain, GKR Wandansari Koes Moertiyah (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA) sejak awal sudah menandaskan. Bahwa perjalanan “methik sekar” Wijayakusuma adalah “doa” (“laku”), harus dilandasi tulus-ikhlas (berkorban) dan disyukuri apapun hasilnya.
Gusti Moeng bahkan sempat menguraikan, apapun wujud “sekar” Wijayakusuma yang didapat, biarlah Sinuhun PB XIV Hangabehi yang menerimanya. Apakah wujudnya tangkai, daun, kuncup, bunga mekar atau apapun bentuknya, harus diterima tulus ikhlas. Di sinilah misteri itu akan berlaku, “yang didapat apa akan menjadikan apa”? Hanya Sang Khalik, Allah SWT yang akan menjawab. Inikah pertanda itu?. (Won Poerwono – bersambung/i1)
