Situasi, Kondisi dan Risiko Menjadi Tantangan Berat di Zaman Perubahan
IMNEWS.ID – KISAH perjalanan misi spiritual religi dan kebatinan ritual “methik sekar” Wijayakusuma di Pulau “Bandung” Majeti dekat Pulau Nusakambangan, 2-3 Mei lalu (iMNews.id, 6/5), menjadi ruang penghayatan bagi KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro. Selain sudah “berbekal referensi” tentang tatacara, lokasi dan objek benda yang “dicari”, ada unsur lain yang bisa menjadi “pemandunya”.
Karena punya bekal referensi dan bekal lain berupa kapasitasnya sebagai seorang spiritualis religi (Pimpinan 4 Majelis Taklim), inilah yang mungkin membedakan dengan panitia dan peserta “perjalanan misi” yang jumlahnya lebih 200 itu. Tugas yang diembanpun, di bidang spiritual religi kebatinan yang “bisa dilakukan” di luar struktur tatacara rangkaian upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma.
Secara teknis, tugas untuk “membebaskan” dari potensi “gangguan air” baik hujan maupun potensi tantangan transportasi air, dinamikanya menyesuaikan keperluan irama tatacara upacara adatnya. Tak peduli salah atau benar, terbalik atau terlewati urutan tahapan-tahapannya. Bahkan, jika ada peralatan penting yang “ketelisut” atau tertinggal entah di mana, tugas pawang hujan bisa menyesuaikan.

Dengan pengalaman dan perjalanan tugas di bidang non-teknis upacara adat “methik sekar” itu, maka bisa disimpulkan bahwa KRRA Panembahan Gilingwesi Songonegoro termasuk paling siap menjalankan tugasnya, juga paling berhasil mengatasi tantangannya. Jadi, sama-sama baru kali pertama menghadapi pengalaman ritual “methik sekar” Wijayakusuma, mungkin bidang itu tugas yang termasuk paling siap.
Seperti diketahui, upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma adalah satu di antara sejumlah ritual khas Kraton Mataram Surakarta yang sudah dijalankan sejak Dinasti Mataram berdiri, bahkan sejak zaman Majapahit. Karena menjadi kebutuhan seorang calon Raja atau Raja baru, maka upacara adat ini hanya terjadi saat pergantian tahta. Kecuali Sinuhun PB XIII, memang tak menggelar ritual ini saat naik tahta.
Tampilnya Sinuhun PB XIII jumeneng nata menggantikan PB XII, disibukkan dengan “geger ontran-ontran” di tahun 2004, yang ditandai dengan tidak menggelar upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma. Konfirmasi soal ini diberikan para juru-kunci goa Sela Masigit, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut (Nusakambangan) dan abdi-dalem di kraton yang menyusun lampah-lampah jumenengan pada tahun 2004.

“Iya, betul. Para juru-kunci yang menemui saya sempat menjelaskan, bahwa selama Sinuhun PB XIII jumeneng sejak awal tidak pernah mengirim utusan ke goa Sela Masigit (Nusakambangan). Bahkan, juga tidak melakukan ritual methik sekar ke pulau Majeti,” ujar KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro. Ketua Pakasa Cabang Kudus ini banyak ditanya, semula dikira pimpinan (Pangeran) utusan dari kraton.
“Seingat saya, tidak mendapat dhawuh untuk membuat uraian lampah-lampah tatacara methik sekar Wijayakusuma ke Nusakambangan. Kalau semua tatacara lain, saya yang mengerjakan bersama Ebit (KRT Pramudijanto-Red). Saya yang melakukan studi ke Sasana Pustaka, untuk mencari semua tatacara upacara adat jumenengan-nata Sinuhun PB XIII waktu itu,” ujar KRT Darpo Arwantodipuro, staf kantor Sasana Wilapa.
Berdasar dua sumber pernyataan itu, bisa dipastikan masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta generasi pada tampilnya Sinuhun PB XIII di tahun 2004 tidak punya pengalaman menjalani upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma. Termasuk generasi yang ada saat Sinuhun PB XII jumeneng nata pada tahun 1945, sudah tak bisa mengulang pengalaman yang sama karena di tahun 2004 tak ada tiyual serupa.

Karena berdasar itu, maka tidak aneh atau wajar kalau hampir semua yang terlibat pada ritual “methik sekar” Wijayakusuma untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi di tahun 2025, sama sekali baru mengalami peristiwa upacara adat unik itu. Maka, wajar pula jika ada kekurangan atau kesalahan dalam menjalankan tatacara, urutan lampah-lampah dan sebagainya, karena semua hanya berdasar data-data manuskrip.
Semua informasi yang dinilai paling lengkap, adalah data-data manuskrip warisan zaman Sinuhun PB X tersimpan di Sasana Pustaka, Kraton Mataram Surakarta. Itupun juga berdasar pengetahuan, teknologi dan perkembangan situasi serta kondisi zaman tahun 1893 atau pada 133 tahun lalu. Suasana kehidupan sosial, politik, ekonomi, kemasyarakatan dan sebagainya belum berubah menjadi negara republik mulai 1945.
Karena suasana kehidupan masyarakat berubah dari zaman kerajaan menjadi zaman republik, apalagi kini berada di zaman milenial “padat teknologi digital”, maka wajar bila kebijakan yang diberlakukan dalam pelaksanaan upacara adat “methik sekar” juga banyak yang berbeda. Tak hanya sekadar berbeda, tetapi bermacam-macam sikap publik dalam persepsi, memaknai dan menafsirkan ritual “methik sekar” itu.

Berbagai persepsi, cara memaknai dan menafsirkan, kini bisa dilakukan begitu bebas/terbuka di medsos, memanfaatkan “padatnya teknologi digital”. Menghadapi perkembangan soal ini saja, “guncangan” psikis tampak terjadi di kalangan masyarakat adat, terutama panitia yang menjalankan tugas. Rasa ragu berlakunya tata-aturan lisan yang sifatnya batiniah, sulit diketahui batas-batas rahasianya.
Dalam situasi yang serba lemah hampir segala sumber-dayanya akibat berbagai masalah yang kompleks dan global, Kraton Mataram Surakarta “mencoba” menjalankan upacara adat “methik sekar”. Tetapi dalam segala keterbatasan akibat situasi dan kondisi di atas, hanya bisa tersaji dan terwujud seperti yang dicapai. Karena, kraton tak lagi punya otoritas menerbitkan kebijakan dengan “back-up full power”.
Maka bisa dibandingkan bagaimana supremasi dan dedikasi Patih Danureja sebagai “negarawan” yang dianggap berjasa besar pada “negara” Mataram Islam Kartasura. Secara turun-temurun mewariskan tugas membanggakan, “melunasi” kelengkapan pusaka sekar Wijayakusuma simbol kejayaan dan kemuliaan, berturut-turut dari Sinuhun Amangkurat I-IV hingga Sinuhun PB II. Negara yang membutuhkan simbol itu. (Won Poerwono – bersambung/i1)
