Panggung Hari Tari Dunia di Kota Surakarta “Disambut” Hujan Deras

  • Post author:
  • Post published:April 30, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Panggung Hari Tari Dunia di Kota Surakarta “Disambut” Hujan Deras
LIMA PENARI : Lima dari sembilan penari Bedhaya Suka Mulya, adalah "wayah-dalem". Peran dan posisi seperti itulah yang diinginkan Sardono W Kusumo, sebagai bentuk nyata upaya menjaga kelestarian Budaya Jawa yang dibawa Kraton Mataram Surakarta. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kraton Sajikan Dua Karya di Bangsal Smarakata, Disaksikan Dubes Chile

SURAKARTA, iMNews.id – Panggung pertunjukan tari peringatan Hari Tari Dunia yang digelar di beberapa lokasi di Kota Surakarta sesi malam hari, Rabu (29/4) semalam, “disambut” hujan deras berdurasi sedang. Selain halaman depan Bangsal Marcukunda Kraton Mataram Surakarta, lokasi pentas terbuka lain di luar kraton seperti halaman Balai Kota, dipastikan juga terganggu oleh hujan dan genangan air.

Hujan yang mulai turun menjelang magrib itu, jelas mengurangi jumlah tempat duduk bagi para penonton panggung Hari Tari Dunia (HTD) yang digelar Bebadan Kabinet 2004 di Bangsal Smarakata. Karena, sekitar 150 kursi undangan penonton yang ditata di halaman terbuka basah-kuyub kehujanan, termasuk karpet alas kaki penutup “bancik”. Ada sedikit salah antisipasi, karena hujan lebih cepat tiba.

BERSAMA DUBES : Sinuhun PB XIV Hangabehi tampak berdoa bersama Dubes Chile HE Mario Ignacio Artaza Loyola, sebelum pentas sajian peringatan HTD dimulai di Bangsal Smarakata, Rabu (29/4) semalam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Walau suasana masih terasa angin bekas hujan sekitar 90 menit kemudian dari magrib, tetapi pertunjukan panggung HTD semalam dimulai dengan penuh semangat. Walau sudah ada undangan yang menunggu di lokasi pentas (Bangsal Smarakata), tetapi sebagian besar undangan bersama-sama tuan rumah baru datang dari “gedhong” Sasana Handrawina. Agenda menjamu Dubes Chile dan istri, digelar lebih awal.

Begitu semua penikmat yang masuk kategori “sutresna budaya” sudah menempati semua tempat duduk yang tersedia di “tempat aman” sekitar Bangsal Smarakata, sekitar pukul 19.15 WIB panggung HTD dimulai. KP Siswanto Adiningrat memandu lalu-lintas acara, yang segera sambut tampilnya Gusti Moeng ke panggung. Penanggung-jawab pentas HTD ini, duduk di antara para abdi-dalem karawitan sebagai penabuh keprak.

ADEGAN SIMBOLIK : Dalam sajian Fragmen tari “Topeng Panji Sekartaji” peringatan HTD di Bangsal Smarakata, ada sebuah adegan singkat punya makna walaupun sangat simbolik. Makna itu adalah “melerai”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tetapi, posisi Gusti Moeng sebagai pemandu gerak sajian tari, baru dilakukan setelah ada sambutan pembukaan darinya. Bahkan, setelahnya dilanjutkan dengan “orasi budaya” yang dilakukan Prof (HC) Sardono W Kusumo (mantan Rektor IKJ) asal Surakarta. Sambutan tuan rumah dan orasi budayawan berusia 81 tahun itu, memberi panduan mengenai komitmen kraton dalam pelestarian Budaya Jawa dan konservasi.

Sardono W Kusumo yang diundang Gusti Moeng untuk berorasi, seperti mendapatkan “panggung” setelah lama tak berekspresi dalam curah pendapat di Kota Surakarta umumnya, dan lebih spesifik di dalam lingkungan kraton. Karena menurutnya, selain berbagai jenis upacara adat, kraton punya Budaya Jawa yang harus mengikuti sistem bernegara dan arus zaman. Tetapi, potensi yang merawatnya makin mengkhawatirkan.

SUPREMASI KEDIRI : Dalam hal kekaryaan seni tari, Kraton Mataram Surakarta memiliki supremasi cerita sejarah dan ketokohan para pelakunya pada zaman Kraton Kediri. Supremasi itu, kini masih lestari dalam tari dan fragmen tari. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hal yang secara umum diungkapkan Sardono W Kusumo itu, disebut sebagai proses perenungan akhir-akhir ini, ketika dirinya merefleksi masa remaja, muda dan proses pembentukan dirinya tuntas di Surakarta, kota kelahirannya. Sementara, Gusti Moeng dalam sambutannya, hanya menyebut bahwa semula Kraton Mataram Surakarta hanya diberi waktu 15 menit untuk tampil di HTD, panggung kampus ISI.

Dalam durasi waktu sesingkat itu, menurutnya tidak mungkin bisa dimanfaatkan untuk menyajikan repertoar tari khas kraton dengan pemangkasan waktu sependek mungkin. Karena, sajian tari kraton yang masuk rumun “Bedhayan” atau “Srimpen”, banyak yang harus disertakan dalam proses ritual sebagai bagian dari pertunjukan. Apalagi, durasi waktunya harus dibagi dengan sajian dari Pura Mangkunegaran.

MUNGKIN TIDAK : Walau duduk dalam satu deretan kursi paling depan berdekatan, tetapi mungkin Sardono W Kusumo tidak paham yang sedang terjadi di Kraton Mataram Surakarta. Termasuk, tak paham ada Sinuhun PB XIV Hangabehi sederet dengannya.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Oleh sebab itu, sejak tiga tahun lalu setiap ada peringatan HTD, kraton selalu menyajikan panggung pertunjukan. Kami ikut bergabung ke sana waktunya terbatas, mosok di kraton sendiri tidak dimanfaatkan untuk menjadi pusat pertunjukan juga. Maka, sejak itu tiap tahun kraton selalu ikut memeriahkan peringatan HTD, yaitu menggelar karya-karya kita sendiri di Bangsal Smarakata ini”, ujar Gusti Moeng.

Panggung pertunjukan karya-karya para leluhur pemimpin Mataram Surakarta, semalam hanya dikeluarkan dua repertoar. Yang pertama sajian tari Bedaya Suka Mulya (23 menit) menit. Tarian ini “disusun” Gusti Moeng untuk peringatan “Tumbuk Ageng (8 windu-Red) Sinuhun PB XII, beberapa waktu sebelum wafat. Sajian kedua fragmen tari “Topeng Panji Sekartaji” (30 menit), semua sajian diakhiri foto bersama. (won-i1)