Kraton Sajikan Dua Karya di Bangsal Smarakata, Disaksikan Dubes Chile
SURAKARTA, iMNews.id – Panggung pertunjukan tari peringatan Hari Tari Dunia yang digelar di beberapa lokasi di Kota Surakarta sesi malam hari, Rabu (29/4) semalam, “disambut” hujan deras berdurasi sedang. Selain halaman depan Bangsal Marcukunda Kraton Mataram Surakarta, lokasi pentas terbuka lain di luar kraton seperti halaman Balai Kota, dipastikan juga terganggu oleh hujan dan genangan air.
Hujan yang mulai turun menjelang magrib itu, jelas mengurangi jumlah tempat duduk bagi para penonton panggung Hari Tari Dunia (HTD) yang digelar Bebadan Kabinet 2004 di Bangsal Smarakata. Karena, sekitar 150 kursi undangan penonton yang ditata di halaman terbuka basah-kuyub kehujanan, termasuk karpet alas kaki penutup “bancik”. Ada sedikit salah antisipasi, karena hujan lebih cepat tiba.

Walau suasana masih terasa angin bekas hujan sekitar 90 menit kemudian dari magrib, tetapi pertunjukan panggung HTD semalam dimulai dengan penuh semangat. Walau sudah ada undangan yang menunggu di lokasi pentas (Bangsal Smarakata), tetapi sebagian besar undangan bersama-sama tuan rumah baru datang dari “gedhong” Sasana Handrawina. Agenda menjamu Dubes Chile dan istri, digelar lebih awal.
Begitu semua penikmat yang masuk kategori “sutresna budaya” sudah menempati semua tempat duduk yang tersedia di “tempat aman” sekitar Bangsal Smarakata, sekitar pukul 19.15 WIB panggung HTD dimulai. KP Siswanto Adiningrat memandu lalu-lintas acara, yang segera sambut tampilnya Gusti Moeng ke panggung. Penanggung-jawab pentas HTD ini, duduk di antara para abdi-dalem karawitan sebagai penabuh keprak.

Tetapi, posisi Gusti Moeng sebagai pemandu gerak sajian tari, baru dilakukan setelah ada sambutan pembukaan darinya. Bahkan, setelahnya dilanjutkan dengan “orasi budaya” yang dilakukan Prof (HC) Sardono W Kusumo (mantan Rektor IKJ) asal Surakarta. Sambutan tuan rumah dan orasi budayawan berusia 81 tahun itu, memberi panduan mengenai komitmen kraton dalam pelestarian Budaya Jawa dan konservasi.
Sardono W Kusumo yang diundang Gusti Moeng untuk berorasi, seperti mendapatkan “panggung” setelah lama tak berekspresi dalam curah pendapat di Kota Surakarta umumnya, dan lebih spesifik di dalam lingkungan kraton. Karena menurutnya, selain berbagai jenis upacara adat, kraton punya Budaya Jawa yang harus mengikuti sistem bernegara dan arus zaman. Tetapi, potensi yang merawatnya makin mengkhawatirkan.

Hal yang secara umum diungkapkan Sardono W Kusumo itu, disebut sebagai proses perenungan akhir-akhir ini, ketika dirinya merefleksi masa remaja, muda dan proses pembentukan dirinya tuntas di Surakarta, kota kelahirannya. Sementara, Gusti Moeng dalam sambutannya, hanya menyebut bahwa semula Kraton Mataram Surakarta hanya diberi waktu 15 menit untuk tampil di HTD, panggung kampus ISI.
Dalam durasi waktu sesingkat itu, menurutnya tidak mungkin bisa dimanfaatkan untuk menyajikan repertoar tari khas kraton dengan pemangkasan waktu sependek mungkin. Karena, sajian tari kraton yang masuk rumun “Bedhayan” atau “Srimpen”, banyak yang harus disertakan dalam proses ritual sebagai bagian dari pertunjukan. Apalagi, durasi waktunya harus dibagi dengan sajian dari Pura Mangkunegaran.

“Oleh sebab itu, sejak tiga tahun lalu setiap ada peringatan HTD, kraton selalu menyajikan panggung pertunjukan. Kami ikut bergabung ke sana waktunya terbatas, mosok di kraton sendiri tidak dimanfaatkan untuk menjadi pusat pertunjukan juga. Maka, sejak itu tiap tahun kraton selalu ikut memeriahkan peringatan HTD, yaitu menggelar karya-karya kita sendiri di Bangsal Smarakata ini”, ujar Gusti Moeng.
Panggung pertunjukan karya-karya para leluhur pemimpin Mataram Surakarta, semalam hanya dikeluarkan dua repertoar. Yang pertama sajian tari Bedaya Suka Mulya (23 menit) menit. Tarian ini “disusun” Gusti Moeng untuk peringatan “Tumbuk Ageng (8 windu-Red) Sinuhun PB XII, beberapa waktu sebelum wafat. Sajian kedua fragmen tari “Topeng Panji Sekartaji” (30 menit), semua sajian diakhiri foto bersama. (won-i1)
