Lain dari Biasanya, Seluruh Prosesi Selesai Sebelum Tengah Hari
BANTUL, iMNews.id – Bebadan Kabinet 2004 menggelar upacara adat “labuhan” di Pantai Parangkusuma laut selatan, Bantul (DIY), Senin Wage (27/4). Ritual yang dipimpin Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA) itu diikuti sekitar 300 orang dari berbagai elemen masyarakat adat. Ritual “labuhan” kali ini agak berbeda dari yang biasanya digelar setelah pukul 15.00, karena kerja rutin.
Proses upacara adat “labuhan” yang agak berbeda itu, karena rombongan datang di lokasi lebih awal dari biasanya, yaitu sekitar pukul 09.00 WIB. Rombongan peserta upacara yang diangkut dua bus besar, tiga bus kecil dan sejumlah mobil pribadi itu, bahkan ada yang datang sebelum pukul 09.00 WIB. Rombongan peserta dari elemen Pakasa cabang, termasuk berasal dari luar Kota Surakarta, misalnya Klaten.

“Ini ‘Labuhan’ rutin yang selalu dilakukan kraton pada hari kerja. Jadi, tidak terbatas pada hari weton tertentu. Maka, dilakukan pada hari dan jam kerja. Tidak boleh Minggu, dan sebelum jam 12.00 harus selesai. Berbeda dengan Labuhan gedhe (besar-Red), yang harus mencari hari dan weton pasaran tertentu. Karena, yang dilabuh barang-barang kategori yang diganti secara rutin,” ujar Gusti Moeng.
Barang-barang yang “dilabuh” ke laut dan termasuk kategori yang diganti secara rutin jika rusak atau sudah tidak terpakai itu, adalah “singep” atau selubung makam Sinuhun Amangkurat Agung. Singep atau selambu atau “luwur” dari kompleks Astana Pajimatan Tegalarum, Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal/Slawi itu, rutin diganti setiap ada ritual jamasan makam pada 17 Sura.

GKR Wandansari Koes Moertiyah saat diwawancarai iMNews.id di lokasi ritual Pantai Parangkusuma, Senin (27/4) siang tadi menjelaskan, ritual “Labuhan” rutin tiap hari kerja juga sangat beda dengan ziarah di lokasi yang sama, misalnya saat bulan Sura atau pada waktu-waktu tertentu yang ditetapkan sesuai kebutuhan. Untuk “Labuhan Ageng”, yang dihanyutkan bisa barang penting yang sudah tak terpakai.
Barang-barang penting yang sudah tak terpakai atau rusak, misalnya berbagai jenis barang sisa-sisa kebakaran pada tahun 1985 yang hampir semuanya rusak dan sudah dinyatakan ternoda secara spiritual. Sedangkan barang-barang yang rusak karena usia, misalnya “eblek” atau alas (sekat) anak wayang yang ada dis etiap kotak. Dari 17 kotak wayang pusaka kraton, banyak ebleknya yang diganti bertahap.

Prosesi “Labuhan” hari ini, dilakukan dengan urutan lengkap yang dimulai dari Bangsal Parasedya. Dari situ, sejumlah peti stereoform berisi berbagai barang yang disanggarkan, diusung sejumlah abdi-dalem yang bertugas, lengkap dengan “songsong” (payung). Prosesi dipandu seumlah prajurit tanpa Korsik Drumband Bregada Tamtama, keluar kraton menuju dua bus yang siap di halaman Pagelaran.
Sekitar pukul 07.00 WIB rombongan konvoi ritual “Labuhan berangkat dari halaman Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Tiba di Cepuri Parangkusuma, sudah banyak abdildaem dari berbagai elemen terutama Pakasa Cabang Klaten, sudah menunggu. Selain jajaran Bebadan Kabinet 2004, ada elemen sanggar pawiyatan dan pasinaon, Pasipamarta dan beberapa sedherek-dalem ikut mengawal tahap demi tahap prosesi.

Begitu Gusti Moeng tiba di Cepuri Parangkusuma, barang-barnag yang akan dilabuh dan uba-rampe Labuhan sudah siap di pendapa. Begitu “dhawuh” diberikan Gusti Moeng, abdi-dalem jurusuranata RT Irawan Wijaya Pujodipuro segera doa wilujengan. Selesai wilujengan, barisan prosesi ditata KPH Bimo Djoyo Adilogo, KRMH Suryo Manikmoyo dan KRMH Suryo Kusumo Wibowo, dan diberangkatkan menuju bibir pantai.
Dalam waktu sekitar 10 menit, barisan prosesi yang membawa barang-barang dan uba-rampe Labuhan tiba di bibir pantai dan Gusti Moeng memulai doa bersama semua peserta. Setelah dirasa cukup, “dhawuh” diberikan kepada para petugas termasuk SAR, untuk menghanyutkan ke air laut. Begitu semua barang diletakkan dalam air, semua yang dilabuh dalam sekejap “lenyap” dan semua rangkaian ritual berakhir. (won-i1)
