Punya Leluhur yang “Berjasa” Pada Zaman Sinuhun PB IV dan VI
CILACAP, iMNews.id – Setidaknya ada 20 orang yang disiapkan pengurus Pakasa Cabang Cilacap, untuk menjalankan tugas sebagai “tuan rumah” yang akan membantu pelaskaan ritual “methik sekar” Wijayakusuma, 2-3 Mei nanti. KRAT Rudiyanto Harsonagoro (Ketua cabang) yang memimpin persiapan lokasi ritual dan prosesinya.
Walau tak dijelaskan secara khusus mengenai progres pekerjaan persiapan dan tantangan yang dihadapi, pernyataan KRAT Rudi kepada iMNews.id kemarin, sudah melukiskan situasi dan kondisi persiapan mendekati riil. Setidaknya sejak agenda ritual “methik sekar” ditetapkan dalam rapat di Pakasa Cabang Magelang, 16 Maret.

Karena tak ada penjelasan secara khusus mengenai kerja persiapannya, maka KRAT Rudi tidak mengungkap sampai seberapa jauh persiapan dicapai, ketika agenda pelaksanaan 2-3 Mei tinggal sekitar dua minggu lagi. Sementara, dari bagian lain di kepanitiaan, ada perkembangan data khususnya jumlah peserta yang meningkat.
Peserta dimaksud adalah yang terlibat dalam Tim 1 yang bertugas dalam prosesi mengantar petugas “methik sekar”. Yaitu petugas pengantar maupun pemetiknya, dari saat berangkat dan kembalinya. Yang bertugas sampai di dermaga dan menunggu kembalinya, maupun yang bertugas di goa Masigit Sela maupun Pulau Majeti.

“Yang jelas, lokasi sekar Wijayakusuma yang akan dituju nanti ada dua. Di Pulau Majeti dan di goa Masigit Sela. Yang tidak ada dermaganya itu Pulau Majeti, terpisah dari pulau Nusakambangan. Kalau yang di goa Masigit Sela, ada dermaganya karena sudah berujud daratan,” ujar KRAT Rudiyanto Harsonagoro, kemarin.
Selebihnya, Ketua Pakasa Cabang Cilacap itu menuturkan, cerita tentang ritual “methik sekar” Wijayakusuma banyak didengarnya dari kalangan pinisepuh, termasuk leluhurnya sendiri. Meskipun, tempat tinggal keluarganya daratan (Pulau) Jawa di kawasan Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap.

Walau tidak tinggal di antara kepulauan yang dekat Nusakambangan, tetapi para leluhurnya dulu banyak berinteraksi dengan warga di gugusan pulau sekitar Nusakambangan, terutama di lokasi goa Masigit Sela. Karena, di situ ada lokasi tumbuhnya sekar Wijayakusuma berdekatan dengan makam para tokoh masa lalu.
Kawasan goa Masigit Sela yang dekat dengan makam para tokoh religi dan pemimpin zaman Mataram, disebut sudah menjadi satu kawasan Kecamatan Kampung Laut. Lokasi goa masuk Desa Ujung Alang, yang sudah dilengkapi fasilitas masjid. Lokasinya terpisah jauh dari batas kawasan LP Nusakambangan yang bebas dari hunian warga.

“Saya punya catatan dari keluarga, bahwa leluhur saya bernama RT Ronggo Kertarana (Jaga Praja pertama), diutus Sinuhun PB IV yang membuka hutan Donan yang kemudian menjadi Kota (Kabupaten) Cilacap. Kemudian, keturunannya bernama RNg Panglacak Margi (Ki Surarana), jadi pemandu methik sekar Wijayakusuma untuk Sinuhun PB VI”.
“Keturunan mbah Kertarana, disebut mbah Jaga Desa, mbah Jaga Laut, Mbah Jaga Resmi dan sebagainya. Kakek canggah saya, mbah Surarana keturunan Mbah Jaga Desa. Dengan berbekal pengetahuan ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi orang banyak. Kami juga terus berkoordinasi dengan juru-kunci goa Masigit Sela,” ujar KRAT Rudi. (won-i1)
