Pesanggrahan Deles “Tertelan Bangunan Kios”, Kraton Sangat Prihatin

  • Post author:
  • Post published:April 16, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Pesanggrahan Deles “Tertelan Bangunan Kios”, Kraton Sangat Prihatin
BERPESAN WANTI-WANTI : Gusti Moeng secara khusus berpesan "wanti-wanti" kepada lima warga Pakasa Deles, Kemalang, agar lebih intensif menjaga dan mengawasi situs Pesanggrahan, agar tidak tersingkir oleh berbagai bangunan baru. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gusti Moeng Menetapkan Lima Warga Pakasa Sebagai “Petugas Pengawas”

KLATEN, iMNews.id – Pengurus dan Warga Pakasa Cabang Klaten menggelar halal-bihalal di kompleks Pesanggrahan Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Kamis (16/4) siang tadi. Gusti Moeng dan rombongan pejabat Bebadan Kabinet 2004, hadir dalam acara yang digelar di pendapa pesanggrahan.

Acara halal-bihalal yang dihadiri sekitar 100 warga Pakasa Cabang Klaten, di antaranya adalah warga masyarakat adat perawat Pesanggrahan Deles, siang tadi terkesan aneh. Karena, acara silaturahmi yang kadarnya ringan-ringan saja itu digelar di lokasi, yang jauh dari jangkauan ratusan atau ribuan Pakasa Klaten.

IKUT MENYAKSIKAN : KP Probonagoro (Ketua Pakasa Cabang Klaten) ikut menyaksikan ketika Gusti Moeng menetapkan lima warga Pakasa Deles, Kemalang, sebagai petugas pengawas situs Pesanggrahan Deles dari ancaman potensi “penenggelaman”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tak ada penjelasan mengenai latar-belakang dan alasan acara halal-bihalal itu digelar di lokasi situs cagar budaya Pesanggrahan Deles itu. Tetapi, sambutan KPH Edy Wirabhumi selama 12 menit di akhir acara itu, telah menjawab maksud dan tujuan acara halal-bihalal itu digelar di lokasi bersejarah sangat penting itu.

Isi acara yang intinya “bermaaf-maafan” menandai datangnya 1 Syawal atau Lebaran itu, jelas tidak istimewa. Ada dua sajian seni yaitu Tari Gambyong dan Tari Warok Sukoparisuko dari warga Pakasa Ancab Kemalang, juga biasa. Ada tausyiyah dari KRT KH Drs Sumardi memang singkat, berbobot dan menarik karena mudah dipahami.

NADA KESAL : Dari ungkapan KPH Edy Wirabhumi saat memberi sambutan, meskipun dibungkus rapat dan halus, nada kesal dan kesan kecewa terasa sekali. Karena, fakta kawasan situs Pesanggrahan Deles tersancam tersingkir oleh bangunan kios. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Bupati Klaten Fajar Hamenang Ismoyo yang diundang tidak bisa hadir, dan Sugeng Haryanto SE MSi (Kepala Kesbangpol) mewakilinya menjelaskan alasan dan memintakan izin. Kepala Desa (Kades) Sidorejo memang tampak hadir, tetapi tidak “menyambut”. KP Probonagoro (Ketua Pakasa Klaten) selaku “Tuan rumah” yang memberi sambutan.

Dua sambutan dari “tamu” yang tersaji berselang sajian tari, diberikan Gusti Moeng selaku Pengageng sasana Wilapa dan KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Pakasa Punjer. Selain beberapa pejabat Bebadan Kabinet 2004, unsur sentana-dalem tampak hadir GKR Ayu Koes Indriyah, istri KGPH Madu Kusumo dan KPH Bimo Djoyo Adilogo.

MEWAKILI BUPATI : Dengan caranya yang khas, Sugeng Haryanto (Kepala Kesbangpol) Klaten mencoba menirukan gaya atasannya membaca pantun dalam sambutan tertulis Bupati Klaten di acara halal-bihalal di Pesanggrahan Deles, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dari sambutan dan tausyiyah lebih awal, hanya penjelasan KRT KH Drs Sumardi yang menarik, apalagi isi doanya. Tetapi, baru saat Gusti Moeng dan KPH Edy Wirabhumi berbicara, “misteri” halal-bihalal digelar di pesanggrahan yang dibangun zaman Sinuhun PB V (1820-1823) itu. Ada kesan “kecewa” tersirat dari sambutan mereka.

Tetapi, Gusti Moeng memang sangat pandai membungkus kesan-kesan “kekecewaannya”. Sambutannya secara utuh sangat menarik, karena mengisahkan perjalanan bagaimana mengatasi “ontran-ontran” di tahun 2004 (PB XIII) dan tahun 2025 (PB XIV). Tetapi saat mengabsen warga Pakasa yang hadir, barulah kelihatan arah “kekecewaannya”.

MINTA DIAJAK : Sajian tari Warok Sukoparisuki dari Sanggar Garuda Merapi Tirtakencana, adalah tarian khas warga Pakasa Desa Sidorejo. Sajian itu dimintakan izin untuk diajak jika kraton punya acara di Pesanggrahan Deles. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gusti Moeng menanyakan warga Pakasa yang hadir usia kepala 7 (70-an tahun) ada berapa?. Berturut-turut ditanya yang berusia 60-an, 50-an hingga 20-an. Dari jawaban mereka, warga yang berusia 50-70-an mendominasi jumlah yang hadir. Namun yang berusia 40-an hanya sedikit, usia 30-an tidak ada dan usia 20-an hanya satu.  

Di antara yang hadir itu, Ketua Pakasa Cabang Klaten bahkan sudah berusia di atas 80 tahun. KPH Edy Wirabhumi berharap kalangan anak-cucu dibimbing agar menjadi generasi baru Pakasa. Lama tak sempat menengok, dia tampak terkejut dan “kecewa”, karena pesanggrahan seakan “tertelan bangunan kios” yang tiba-tiba mengepungnya. (won-i1)