Gusti Moeng Menetapkan Lima Warga Pakasa Sebagai “Petugas Pengawas”
KLATEN, iMNews.id – Pengurus dan Warga Pakasa Cabang Klaten menggelar halal-bihalal di kompleks Pesanggrahan Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Kamis (16/4) siang tadi. Gusti Moeng dan rombongan pejabat Bebadan Kabinet 2004, hadir dalam acara yang digelar di pendapa pesanggrahan.
Acara halal-bihalal yang dihadiri sekitar 100 warga Pakasa Cabang Klaten, di antaranya adalah warga masyarakat adat perawat Pesanggrahan Deles, siang tadi terkesan aneh. Karena, acara silaturahmi yang kadarnya ringan-ringan saja itu digelar di lokasi, yang jauh dari jangkauan ratusan atau ribuan Pakasa Klaten.

Tak ada penjelasan mengenai latar-belakang dan alasan acara halal-bihalal itu digelar di lokasi situs cagar budaya Pesanggrahan Deles itu. Tetapi, sambutan KPH Edy Wirabhumi selama 12 menit di akhir acara itu, telah menjawab maksud dan tujuan acara halal-bihalal itu digelar di lokasi bersejarah sangat penting itu.
Isi acara yang intinya “bermaaf-maafan” menandai datangnya 1 Syawal atau Lebaran itu, jelas tidak istimewa. Ada dua sajian seni yaitu Tari Gambyong dan Tari Warok Sukoparisuko dari warga Pakasa Ancab Kemalang, juga biasa. Ada tausyiyah dari KRT KH Drs Sumardi memang singkat, berbobot dan menarik karena mudah dipahami.

Bupati Klaten Fajar Hamenang Ismoyo yang diundang tidak bisa hadir, dan Sugeng Haryanto SE MSi (Kepala Kesbangpol) mewakilinya menjelaskan alasan dan memintakan izin. Kepala Desa (Kades) Sidorejo memang tampak hadir, tetapi tidak “menyambut”. KP Probonagoro (Ketua Pakasa Klaten) selaku “Tuan rumah” yang memberi sambutan.
Dua sambutan dari “tamu” yang tersaji berselang sajian tari, diberikan Gusti Moeng selaku Pengageng sasana Wilapa dan KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Pakasa Punjer. Selain beberapa pejabat Bebadan Kabinet 2004, unsur sentana-dalem tampak hadir GKR Ayu Koes Indriyah, istri KGPH Madu Kusumo dan KPH Bimo Djoyo Adilogo.

Dari sambutan dan tausyiyah lebih awal, hanya penjelasan KRT KH Drs Sumardi yang menarik, apalagi isi doanya. Tetapi, baru saat Gusti Moeng dan KPH Edy Wirabhumi berbicara, “misteri” halal-bihalal digelar di pesanggrahan yang dibangun zaman Sinuhun PB V (1820-1823) itu. Ada kesan “kecewa” tersirat dari sambutan mereka.
Tetapi, Gusti Moeng memang sangat pandai membungkus kesan-kesan “kekecewaannya”. Sambutannya secara utuh sangat menarik, karena mengisahkan perjalanan bagaimana mengatasi “ontran-ontran” di tahun 2004 (PB XIII) dan tahun 2025 (PB XIV). Tetapi saat mengabsen warga Pakasa yang hadir, barulah kelihatan arah “kekecewaannya”.

Gusti Moeng menanyakan warga Pakasa yang hadir usia kepala 7 (70-an tahun) ada berapa?. Berturut-turut ditanya yang berusia 60-an, 50-an hingga 20-an. Dari jawaban mereka, warga yang berusia 50-70-an mendominasi jumlah yang hadir. Namun yang berusia 40-an hanya sedikit, usia 30-an tidak ada dan usia 20-an hanya satu.
Di antara yang hadir itu, Ketua Pakasa Cabang Klaten bahkan sudah berusia di atas 80 tahun. KPH Edy Wirabhumi berharap kalangan anak-cucu dibimbing agar menjadi generasi baru Pakasa. Lama tak sempat menengok, dia tampak terkejut dan “kecewa”, karena pesanggrahan seakan “tertelan bangunan kios” yang tiba-tiba mengepungnya. (won-i1)
