Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 1 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:April 13, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 1 – bersambung)
POHON WIJAYAKUSUMA : Di sisi barat "cungkup" makam Sinuhun Amangkurat Agung di Astana Pajimatan Tegalarum, Slawi/Tegal, belum lama ditanami 3 batang bibit pohon Wijayakusuma. Karena belum pernah berbunga, belum diketahui wujud bunganya. (foto : iMNews.id/Dok)

Peristiwa Langka di “Belakang Layar” yang tak Mudah Dipahami

IMNEWS.ID – SETELAH proses perjalanan spiritual Sinuhun PB XIV Hangabehi ibadah shalat Jumat ke-14 atau genap 14 kali di Masjid Demak, menjelang bulan puasa lalu, kini tiba waktunya “melunasi” sisa yang menjadi persyaratan adatnya. Salah-satunya adalah perjalanan spiritual “methik sekar” simbol kehidupan bernama Wijayakusuma, ke sebuah goa yang ada di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap.

Ritual “miwaha sekar Wijayakusuma” dengan memetiknya ke lokasi tempat tanaman bunga itu tumbuh di goa Sela Masigit, Pulau Nusakambangan, sangatlah jarang bahkan nyaris tak pernah didengar publik secara luas. Sebab itu, barang yang tak pernah populer dan sulit dipahami di mana keberadaannya, tentu membuat publik jadi awam, tak pernah mengenal apalagi membahasnya karena tak paham maknanya.

Satu-satunya media yang pernah memperbincangkan soal bunga Wijayakusuma adalah panggung pertunjukan wayang kulit purwa, yang masih banyak dijumpai di tengah masyarakat etnik Jawa. Tetapi, media wayang juga sudah lama “langka” dari sajian lakon yang menyebut-nyebut kembang Wijayakusuma. Karena, lakon yang membahas soal itu adalah lakon wayang klasik yang sudah tidak disukai/dipahami generasi muda.

Sebagai ilustrasi, media pentas wayang kulit purwa sebenarnya menjadi salah satu alat penjelasan atau sosialisasi nilai-nilai atau makna penting dalam tata-nilai Budaya Jawa. Maka, semua yang terbaca dari kisah perjalanan sejarah kraton-kraton di Jawa terutama Mataram, bisa dibaca dari media pentas wayang kulit purwa, bahkan madya/gedhog. Termasuk, kisah, makna dan fungsi kembang Wijayakusuma.

PIMPIN RAPAT : Gusti Moeng dan KPH Edy Wirabhumi, banyak mengisi jalannya rapat koordinasi agenda “Methik Sekar” Wijayakusuma yang digelar di Bangsal Smarakata, Sabtu (11/4). Ritual “methik” diagendakan berlangsung 2-3 Mei mendatang. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tetapi, sebuah kesibukan tiba-tiba muncul di wilayah Pakasa Cabang Magelang, belum lama ini (iMNews.id, 16/3). Sejumlah ketua dan utusan dari 14 Pakasa cabang berkumpul di “ndalem wetan” Desa Trojayan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Mereka mengadakan ziarah ke makam  Patih Sindurejo di Pasarean Paremono, lalu menggelar rapat dan mendengarkan pengarahan KPH Edy Wirabhumi, melalui zoom.

Kegiatan rapat merupakan hal biasa bagi Pakasa cabang, apalagi rapat koordinasi (rakor) yang dipimpin Pangarsa Pakasa Punjer (KPH Edy Wirabhumi). Tetapi, rakor kali ini adalah peristiwa istimewa, bahkan luar biasa. Karena, mereka membahas  sebuah “kisah” yang sebelumnya hanya dibahas di pentas wayang kulit. Yaitu, rundingan merencanakan bergotong-royong untuk “methik sekar” Wijayakusuma.

Kisah “methik sekar” Wijayakusuma yang sudah dikenal melalui pentas wayang kulit, yang menjadi cara “mengabadikan” atau “mendokumentasi” peristiwa dan tokohnya pada zaman dulu. Oleh sebab itu, sangat diyakini pasti ada peristiwa riil yang terjadi secara faktual sebelumnya. Fakta dan data adanya peristiwa “methik sekar” Wijayakusuma, diyakini terjadi berkali-kali, setidaknya di zaman Kraton Mataram.

Proses berpikir rasional itu menjadi fakta dan data, karena ditemukan beberapa dokumen manuskrip tentang prosesi ritual “methik sekar” Wijayakusuma. Salah satu data manuskrip yang ditemukan Ki Dr Purwadi, adalah buku “babad” catatan tentang Patih Sindureja. Sepeninggal Sinuhun Amangkurat IV (Jawi), Patih-dalem di Kraton Mataram yang ber-Ibu Kota di Kartasura, diutus pergi ke Pulau Nusakambangan.

PUNYA PENGALAMAN : KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus), menguraikan pengalamannya mengenal jenis tanaman bunga Kusumawijaya yang ditanam di rumahnya. Ia memberi masukan saat rakor agenda ritual “Methik sekar”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Patih Sindureja memimpin utusan-dalem untuk “methik sekar” Wijayakusuma ke goa Sela Masigit dan Majeti di Donan, Pulau Nusakambangan yang kini masuk Kabupaten Cilacap. Di goa dan di Pulau Majeti itu, diyakini ada tanaman pohon Wijayakusuma yang sedang mekar. Kembang Wijayakusuma dalam keyakinan Hindu-Budha menjadi simbol kehidupan, yang diabadikan dalam wayang kulit dengan tokoh Prabu Kresna.

Dalam kajian sejarah Ki Dr Purwadi disebutkan, makna penting kembang Wijayakusuma sudah diyakini para tokoh kerajaan sejak zaman Majapahit (abad 14). Seterusnya, sebagai simbol kepemimpinan dalam perjalanan kraton di Jawa, apalagi selama Dinasti Mataram, kembang Wijayakusuma dijadikan syarat untuk jumeneng nata. Nilai edukasinya sangat tinggi untuk pencapaian perjalanan spiritual kebatinan ini.

Peristiwa yang pernah ada di “belakang layar” dalam kurun waktu ratusan tahun itu, kini terungkap ke ruang publik menggunakan teknologi informasi digital di zaman modern ini. Tak lama lagi, peristiwa “methik sekar” Wijayakusuma akan terulang dalam “wajah baru” dan bisa menyebar sangat luas, dalam waktu singkat. Peristiwa yang sama sekali baru bagi generasi bangsa di Nusantara, masa kini.

Peristiwa itu akan di tengah zaman yang sudah berubah, di tengah generasi bangsa yang tak lagi mengenal hal-hal dari “masa lalu di belakang layar”. Bahkan sangat asing bagi bangsa-bangsa di dunia pada umumnya, yang mungkin akan tertarik untuk mempelajari, memahami bahkan menelitinya. Inilah peristiwa unik yang menjadi bagian dari perjalanan Dinasti Mataram, yang kini akan disaksikan/dirasakannya.

PARA PEMIMPIN : Agenda “Methik Sekar” Wijayakusuma yang dibahas dalam rakor yang digelar Bebadan Kabinet 2004 di Bangsal Smarakata, Sabtu (11/4), didukung sejumlah pemimpin Pakasa cabang sampai berhasil membawa pulang kembang itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dari sisi beberapa hal yang menjadi daya tariknya, peristiwa prosesi ritual “methik sekar” Wijayakusuma ke dua titik lokasi di Pulau Nuakambangan yang diagendakan 2-3 Mei mendatang, pasti akan mendapat perhatian publik sangat luas. Karena, urutan dan dasar sejarah peristiwanya pernah/sering ada (terjadi), yang dulu hanya di “belakang layar” (rahasia), kini bisa terbuka luas ke media publik.

Dari sisi “perjalanan spiritual”, prosesi ritual ini benar-benar akan mendapat tantangan luas biasa dari publik. Karena, kini sangat sulit menjadi agenda kegiatan yang dirahasiakan. Tidak hanya ekseklusivitas peristiwa ritual “methik sekar” Wijayakusuma, tetapi karena peristiwa ini seakan “tiba-tiba muncul/datang” setelah sangat lama tidak pernah terdengar, bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Ki Dr Purwadi menyebut, saat Sinuhun PB XI jumeneng nata (1939-1945) masih ada perjalanan spiritual utusan-dalem untum “methik sekar” Wijayakusuma di Pulau Nusakambangan. Tetapi saat penggantinya yaitu putra tertuanya, GRM Suryo Guritno jumeneng-nata sebagai Sinuhun PB XII, KP Budayaningrat (Lembaga Kapujanggan), mengaku belum pernah menemukan data tentang prosesi ritual ke Nusakambangan itu.

Kalau memang benar tidak ada data/catatan soal pencarian persyaratan jumeneng-nata ini, itu sangat masuk akal mengingat situasi-kondisi zaman menjelang Kemerdekaan RI (17/8/45), dinamika sosial-politiknya luar biasa. Selain itu, KP Budayaningrat bahkan sudah memaklumi, bahwa saat Sinuhun PB XI dan Sinuhun PB XII (1945-2004), nyaris tak ditemukan karya dokumentatif, catatan “abdi-dalem carik”.

IKUT HADIR : Figur Ketua Pakasa Cabang Tegal/Slawi, KMT Fitri Ariani Pusponegoro yang belum lama terbentuk, ikut hadir langsung dalam rakor agenda “methik sekar” Wijayakusuma yang digelar Bebadan Kabinet 2004 di Bangsal Smarakata, Sabtu (11/4). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kini, ketika kesadaran publik secara umum sudah melihat sisi manfaat dokumen perjalanan sejarah peradaban, peristiwa agenda “methik sekar” Wijayakusuma akan menjadi peristiwa dunia. Proses ritual dan sejarahnya sebagai bagian perjalanan Kraton Mataram Surakarta bersama seluruh masyarakat adatnya, pasti akan dicatat dan diakui publik sampai akhir zaman. Oleh sebab itu, perlu keseriusan mengelola.  

Selain itu, peristiwa yang akan terjadi pada 2-3 Mei sesuai agenda panitia, harus dimaknai sebagai fenomena yang akan tetap langka entah sampai kapan, mungkin sampai akhir zaman. Karena, prosesi ritual “methik sekar” Wijayakusuma berkait pergantian tahta, yang tak sulit diprediksi kapan terjadinya. Semua yang akan terlibat, sulit diperkirakan bisa mengalami pada 50 tahun atau seabad lagi. (Won Poerwono – bersambung/i1)