Menjadi Perbincangan Rakor yang Hangat di Bangsal Smarakata
SURAKARTA, iMNews.id – Rapat koordinasi (rakor) dari 12 utusan Pakasa cabang yang digelar Bebadan Kabinet 2004 dan Pengurus Pakasa Punjer di Bangsal Smarakata, Sabtu (11/4) siang tadi, berlangsung sangat hangat dan menarik. Curah pendapat dalam rapat pertama di Pakasa Cabang Magelang, sekitar sebulan lalu, ada catatan peristiwa dan lahir berbagai usulan yang akan menjadi catatan perjalanan sejarah.
Rakor yang dipimpin KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Pakasa Punjer) dan pengarahan Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA), disaksikan sekitar 60 peserta rapat utusan dari 12 Pakasa cabang. Ada dua cabang (Pakasa Pati dan Salatiga) yang sudah ditetapkan menjadi bagian rangkaian rencana prosesi “Methik Sekar” atau “miwaha” kembang “Wijaya Kusuma”, siang tadi berhalangan hadir di kraton.

Rakor diawali oleh KPH Edy Wirabhumi yang membuka pembiacaraan dengan beberapa ilustrasi secara umum, terutama mengenai rapat pertama yang digelar di “ndalem wetan” Trojayan, Desa Paremono, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Minggu (15/3). Rapat itu dihadiri sekitar 50-an utusan 14 cabang, dan melalui zoom virtual KPH Edy Wirabhumi menugaskan Pakasa Cabang Magelang menyusun rencana.
Tugas menyusun rencana termasuk membentuk tim yang akan memetik kembang Wijaya Kusuma, dibenarkan KRAT Bagiyono Rumeksodiningrat selaku Ketua Pakasa Cabang Magelang dalam laporannya di forum rapat. Ia juga mendapat tugas menjadi juru pambiwara dalam wrapat tersebut. Dari penyusunan rencana dan tim tim, berkembang makin lengkap dan dan terarah serta berkoordinasi dengan berbagai pihak.

Dalam forum rapat siang tadi, juga didengar laporan hasil surve yang dilakukan KRA Sunarso Suro Agul-agul (Pakasa Cabang Ponorogo) dan KRA Rudi (Pakasa Cabang Cilacap) sebagai tindak-lanjut rakor di Magelang. Hasil surve itu, ada gambaran tentang tahapan “lampah-lampah methik sekar” dari transit hingga menyeberang ke Pulau Nusakambangan dan penyanggaran begitu pula sekembalinya ke Kota Cilacap.
Lapran dari KRA Sunarso dan utusan Ketua Pakasa Cabang Cilacap itu juga memberi gambaran perkiraan waktu tempuh dari transit, titik kumpul, menyeberang, menggelar wilujengan, perjalanan ke Pulau Majeti dan Goa Sela Marsigit dan waktu yang tersedia untuk membawa kembang kembali ke Kota Cilacap. Dalam rapat juga diingatkan, ke instansi mana saja bisa diajak koordinasi melancarkan misi ini?.

Di antara pengarahan Gusti Moeng, ada satu pertanyaan yang sangat menarik sama sekali merupakan hal baru (pengetahuan) baru bagi semua yang hadir. Yaitu kira-kira jam berapa atau kapan sekar Wjaya Kusuma dipastikan saatnya mekar dan berkembang?. Karena, kalau pada zaman Sinuhun-sinuhun terdahulu, utusan-dalem yang ditugaskan memetik, baru sekitar 2 bulan bisa kembali ke kraton.
“Jadi, bisa sampai dua bulan untuk mendapatkan sekar Wujaya Kusuma. Itupun, yang tahu hanya Sinuhun setelah membuka ‘cupunya’ di dalam ruang pusaka. Jadi, pasti dibutuhkan untuk menunggu untuk memetiknnya. Ketika sudah dibawa pulang ke kraton, sekar Wijaya Kusuma ada di dalam cupu atau tidak, tidak ada penjelasan. Karena yang tahu Sinuhun. Inilah karena berkait dengan masalah spiritual”.

“Padahal, yang akan dijalani untuk memetik sekar nanti jelas berbeda dari dulu,” tandas Gusti Moeng. “Kalau dulu butuh waktu sekitar 2 bulan, rencananya nanti hanya sekitar 2 hari 2 malam. Kalau dulu disanggarkan di makam Ki Ageng Giring, Banjarnegara, rencananya nanti dari Cilacap langsung ke kraton. Jadi ada perbedaan mencolok,” ujar KPH Edy Wirabhumi melengkapi Gusti Moeng.
Karena, prosesi pemetikan kembang Wijaya Kusuma dirancang jauh berbeda rutenya dari yang dilakukan Patih Sindureja (Sinuhun PB II Kartasura) dengan yang direnncanankan 3 Mei 2026, panitia akan berkoordinasi dengan Pakasa Cabang Banjarnegara. Pengurus diminta partisipasinya untuk mengadakan donga wilunengan di makam Ki Ageng Giring di Banjarnegara, saat proses pemetikan berlangsung.

Mendengar saran itu, Pakasa Cabang Magelang dan Pakasa Cabang Cilacap menyatakan siap akan berkoordinasi. Selain pengurus dua cabang Pakasa ini, siang tadi juga tampil KP Bambang S Adiningrat (Ketua Pakasa Cabang Jepara), KP Probonagoro (Ketua Pakasa Cabang Klaten), KP MN Gendut Wreksodiningrat (Ketua Pakasa Cabang Ponorogo) dan KRRA Panembahan Didik Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus).
Bahkan, ada tambahan dari Ki Dr Purwadi yang sejak awal banyak memberi dukungan dan sumbangan pemikiran, terutama mengenai latar-belakang kesejarahan ritual “Methik Sekar” atau kembang “Wijaya Kusuma”. Menurut sejarawan dari Lonantara Pusat di Jogja itu, data sejarah manuskrip tentang prosesi jumeneng-nata Sinuhun PB II lengkap sekali, dan Patih Sindureja adalah tokoh utamanya yang berjasa.

“Tokohnya yang dimakamkan di Astana Pajimatan Paremono itu. Maka, tepat sekali kalau Pakasa Cabang Magelang mendapat tugas untuk ini. Soal buku tentang prosesi memetik sekar Wijaya Kusuma, sudah siap. Nanti bisa dibagikan kepada pihak-pihak yang sudah ditentukan, terutama yang berkepentingan dalam prosesi nanti. Dalam bentuk soft were, buku atau foto kopi, kami siap bagikan,” ujar Ki Dr Purwadi.
Dalam kesempatan itu, KPH Edy Wirabhumi yang mengatur lalu-lintas jalannya rakor menambahkan, bahwa peristiwa pemetikan bunga Wijaya Kusuma ini mungkin hanya akan terjadi dalam “seumur hidup”. Karena, sulit bisa terulang kembali, apalagi dalam situasi dna kondisi yang segalanya bisa sama. “Karena, kita semua sudah pada berumur. Jadi, 50 atau 100 tahun lagi sulit terulang,” ujarnya tandas.

Saran dan penjelasan juga datang dari KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus). Setelah dirinya disebut sebagai petugas untuk mengatasi “keamanan situasi” terutama cuaca, dia menyatakan siap. Tetapi dijelaskan, bahwa bunga Wijaya Kusuma disebutkan biasanya bisa mekar dalam cuaca yang lembab atau ada curah hujan. Maka, kurang tepat kalau hujannya disingkirkan.
“Kembangnya kira-kira jenis yang bagaimana? Karena di rumah saya ada beberapa jenis kembang Wijaya Kusuma. Ada yang mekar di tengah malam dan sore. Tetapi rata-rata mekar di saat ada curah hujan. La kalau nanti hujannya disingkirkan, apa tidak mengganggu proses mekarnya?,” ujarnya Ketua Pakasa Cabang Kudus yang ditanggapi Gusti Moeng, bahwa apapun wujud kembang itu, harus dibawa pulang.

Hal yang ditegaskan Gusti Moeng berkait dengan tugas memetik sekar Wijaya Kusuma ini, adalah sebagai syarat secara spiritual untuk kumeneng nata Sinuhun PB XIV Hangabehi. Oleh sebab itu, yang memiliki hajad adalah Kraton Mataram Surakarta yang digelar Bebadan Kabinet 2004. Karena itu pula, akan ada utusan-dalem dari kraton yang membawa “cupu” wadah sekar, yang akan diberangkatkan dari kraton.
Dengan adanya tim utusan-dalem yang secara khusus diberangkatkan dari kraton, menjadi tim utama/pertama selain tim dari Pakasa Cabang Magelang. Nanti semua akan dikoordinasikan sesampai di Cilacap, setidaknya Teluk Penyu, sebelum menyeberang ke Nusakambangan. KPH Edy berpesan, agar semua yang berkepentingan diajak koordinasi, karena harus selalu berjalan lurus, jangan sampai menyimpang. (won-i1)
