Canthik Rajamala Asli Sinuhun PB IV, Tersimpan di Museum Radya Pustaka
IMNEWS.ID – RUPANYA, “kenangan” soal mengkreasi sebuah hiburan massal yang bernama “Pekan Syawalan”, menjadi paling menonjol di antara beberapa kenangan yang dibangkitkan oleh kunjungan Menbud RI Fadli Zon di kraton, Kamis (26/3). Dari kunjungan di museum itu, Gusti Moeng memunculkan keberadaan Canthik Perahu Kiai Rajamala dan hal usulan membendung Bengawan Solo yang disebut dalam dialog.
Karena beberapa hal yang disebut itu semuanya merupakan “klu” atau kata kunci dari sebuah kreasi kegiatan yang dilakukan Gembong Supriyanto (alm), maka kenangan yang paling menonjol muncul adalah “Pekan Syawalan”, kirab Jaka Tingkir dan figur kreatornya sebagai “tokoh utamanya”. Tak hanya soal nama karya dan lokasinya yang dikenal luas, tetapi ada kenangan yang melekat pada diri Gembong.

Kegiatan event apa saja yang digelarnya, di satu sisi “sukses” dicapai unsur popularitas event dan nama dirinya selaku pimpinan EO. Tetapi di sisi lain, secara finansial rata-rata tak pernah memetik keuntungan yang berarti. Bahkan bisa disebut, selalu rugi jika diperhitungkan dengan tenaga dan pikiran yang sudah dicurahkan untuk menggelar event, nyaris tanpa mengenal waktu dan lelah.
“Kepuasan batin”, mungkin itu sebutan yang lebih pas untuk diri pribadi Gembong Supriyanto (alm). Tetapi, bagi kawan-kawan akrabnya yang ikut terlibat dalam event yang dikelolanya, ada hal lain yang dicari karena dianggap lebih berarti selain “kepuasan batin”. Maklum, banyak sahabat mitra kerjanya sebagian besar sering disebut Gembong rakyat jelata yang “seseg” dan “ampeg” secara ekonomi.

Bahasa “bersayap” Gembong ini, bukan untuk mengistilahkan situasi dan kondisi ekonomi kebanyakan sahabatnya itu. Tetapi, dirinya juga bagian dari mereka, yang jauh sebelumnya pernah sama-sama mengalami “perjuangan hidup”, baik sebagai karyawan diskotek, tenaga lapangan “Moto Cross”, karyawan Taman Jurug hingga bangkit mencoba menjadi EO hiburan kreatif inovatif berbasis tradisi budaya itu.
“Kepuasan batin” itu pula yang diharapkan Gembong untuk dimiliki para sahabatnya, termasuk kalangan wartawan cetak (waktu itu), yang sebagian besar memang termasuk “berjuang dari bawah” dan bukan dari kalangan “keluarga berada”. Maka, ketika gelar “Pekan Syawalan” terakhir (2004) dan Gembong menderita rugi banyak sampai menjual rumah satu-satunya milik keluarganya, kata “maklum” harus ada di depan.

Sekadar kata maklum seperti yang dimiliki kalangan sahabatnya, mungkin juga berlaku bagi kalangan mitra kerja seperti perusahaan yang memberi sponsor. Dan hanya sebatas itu yang bisa disikapi. Termasuk pula yang bisa diekspresikan dua figur tokoh mitranya yang saat itu sedang berkibar sukses usahanya, yaitu M Harno AR (advertising) dan Kasmihadi CK (grup musik) yang juga sudah almarhum semua.
Tetapi, “kepuasan batin” tentu tidak mudah diterima anggota keluarga kecilnya yang saat itu sedang tumbuh dewasa dan butuh dukungan terutama secara ekonomis. Tetapi bagaimana alur pemikiran Gembong tentang keluarganya, mungkin hanya diri almarhum yang tahu. Yang jelas, Gembong dari bawah membangun keluarga dengan kontrak rumah berpindah-pindah, sebentar menikmati rumah sendiri, lalu “lepas”.

Konon, rumah yang ditempati sekitar 10 tahun di kawasan Mojosongo, Jebres, itupun hasil pembagian warisan yang didapat dari kedua orangtuanya. Setelah pensiun dari berbagai kegiatan EO, Gembong sudah memasuki usia 60 tahun dan harus tinggal di rumah kontrakan, ikut keluarga menantu hingga akhir hayatnya di tahun 2023. Sang istri justru lebih dulu meninggal, dan 5 anaknya kini menyebar di berbagai kota.
Kini, reputasi seorang EO otodidak yang banyak bermodal “berani” (rugi) dan gengsi tinggi itu, menjadi kenangan fenomenal bagi Kota Surakarta, Taman Jurug, pecinta “Pekan Syawalan” dan para penggemar kisah kirab gethek Jaka Tingkir. Dari sepak terjang dan reputasi Gembong almarhum, Kota Surakarta khususnya Taman Jurug menjadi dikenal luas sebagai pusat “pergantian” aneka macam hiburan merakyat.

Tetapi sayang, perjuangan Gembong mempopulerkan banyak hal belum sampai titik yang benar-benar berhasil. Tetapi, jasa-jasanya layak dikenang dan ada yang bisa teruskan. Sayang pula, hasil jerih-payah belum mendapat apresiasi yang setimpal dan bisa menaikkan taraf kehidupan diri dan keluarganya, selain selembar piagam penghargaan dan plakat yang diberikan Wali Kota Slamet Suryanto (alm).
Selain itu, dalam perjuangan yang belum sampai titik keberhasilan “mutlak” itu, juga menyangkut ide dasar kreasi Pekan Syawalan, yaitu mengenai “ramuan” antara Canthik Perahu Rajamala dan ketokohan Jaka Tingkir. Seandainya event atraksi yang mengambil simbol kisah sejarah leluhur Dinasti Mataram, juga tokoh Mataram Surakarta itu ada yang melanjutkan, bisa dibangun narasi edukasi lebih baik lagi.

Narasi edukasi sejarah yang lebih baik dan proporsional, kini sedang diupayakan dibangun kembali oleh Kraton Mataram Surakarta melalui organ-organ masyarakat adatnya. Bahkan, ada seorang sejarawan yang rela membantu menyusun narasi sejarah secara mandiri di luar kraton. Setidaknya dalam dua dekade terakhir, intelektual kampus di Jogja, Ki Dr Purwadi, banyak menyumbang pemikiran, membangun narasi itu.
Dalam kaitannya dengan Pekan Syawalan, narasi tentang Canthik Perahu Rajamala perlu diluruskan. Karena, akseseoris berupa patung kepala raksasa yang pernah menjadi penanda ujung haluan perahu besar Sinuhun PB IV (1788-1820) itu, adalah karya GRM Sugandhi sewaktu masih berstatus Pangeran Adipati Anom. Putra mahkota Sinuhun PB IV itu banyak berkarya, sebelum menggantikan tahta sebagai PB V.

“Karya Sinuhun PB V banyak sekali, terutama ketika masih berstatus Pangeran Adipati Anom (GRM Sugandhi). Karya ayahandanya, Sinuhun PB IV juga banyak. Canthik Perahu Rajamala yang asli itu, karya saat masa muda Sinuhun PB V. Termasuk membuat perahu besar yang sering disebut dengan istilah ‘gembong’, karena ukurannya. Perahu itu yang digunakan untuk ke Madura,” ujar KPP Nanang.
KPP Nanang Soesilo Sindoeseno Tjokronagoro adalah salah seorang sentana-dalem trah darah-dalem Sinuhun PB V, yang juga trah PB X. Dia banyak memiliki referensi tentang ketokohan dan kekaryaan leluhur pepundhennya, Sinuhun PB V itu. Selain perahu dan Canthik Rajamala, leluhurnya itu juga banyak menciptakan karya gendhing untuk upacara adat Sekaten, seni Laras Madya dan konser karawitan umum.

Perihal karya kreasi “Pekan Syawalan” dengan kirab gethek Jaka Tingkir, selain unsur Canthik Perahu, Gembong juga mengambil unsur lain yaitu Bengawan Solo untuk kirab gethek dengan tokoh sentral Jaka Tingkir. Tokoh yang di waktu mudanya bernama Mas Karebet, adalah anak Kebo Kenanga yang lahir dari ibu Retno Pembayun (anak Prabu Brawijaya V), yang dinikahi Sri Makurung Handayaningrat (Pengging).
Setelah “lulus ujian” sebagai prajurit di Kraton Demak, Jaka Tingkir diizinkan kembali ke Kraton Pajang dan menjadi raja bergelar Sultan Hadiwijaya. Tokoh itu sangat dibanggakan masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, karena menurunkan Sultan Agung dari garis istri. Maka, tak elok kalau disebut “ngombe dawet” dalam lirik lagu dangdut Jawa, yang berkesan tak sesuai dengan etika Budaya Jawa. (Won Poerwono – habis/i1)
