Turis Jepang Berdoa untuk Kraton dan “Sinuhun PB XIV Hangabehi”
SURAKARTA, iMNews.id – Sejak Rabu (18/2) lalu, layanan kunjungan wisata untuk Museum Art Gallery Kraton Mataram Surakarta secara resmi dibuka kembali. Walau kunjungan wisatawan sudah mengalir kembali, namun rombongan wisatawan asal Jepang yang datang secara khusus Sabtu (21/2) siang tadi, menjadi terkesan “istimewa”.
Keistimewaan kunjungan wisatawan Jepang yang dipimpin Dr Koji Soma (penulis buku) itu, terletak pada rombongannya yang termasuk besar dan masuk kategori wisatawan mancanegara atau internasional. Terlebih, mereka datang tak hanya berwisata, tetapi aktif berdialog budaya dengan Gusti Moeng selaku tuan rumah/maestro tari.

Rombongan tamu Jepang yang diorganisasi BRAy Arum Kusumopradopo menjadi istimewa, karena kehadirannya sebagai wisatawan edukatif yang memiliki cakupan dialog budaya. Karena saat beramah-tamah dengan Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa dan Pangarsa LDA) di Bangsal Smarakata, terjadi diskusi dan dialog.
Diskusi dan dialog secara spesifik membahas seni-budaya khususnya tari Bedhaya Ketawang dan riwayatnya, setelah Gusti Moeng mengisahkan secara urut tetapi garis besar perjalanan Kraton Mataram Surakarta dan terjadinya Dinasti Mataram. Di situ juga dijelaskan bahwa Kraton Mataram adalah kelanjutan Kraton Majapahit.

Pertanyaan beberapa anggota rombongan tertuju pada sisi mistis tari Bedhaya Ketawang, setelah disebutkan Gusti Moeng sekilas riwayatnya. Yaitu, perjanjian antara Raja pertama Kraton Mataram Islam, Sinuhun Panembahan Senapati dengan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kencana Hadisari yang menjadi sisi menarik.
Karena sisi mistis tentang wanita penguasa pantai selatan bernama Kanjeng Ratu Kencana Hadisari dianggap menarik, maka pertanyaan beberapa anggota rombongan itu tertuju pada peristiwa “penampakan”. “Apakah saat ada latihan Bedhaya Ketawang Selasa Kliwon (Anggara Kasih) dan tingalan jumenengan, sosok wanita itu tampak?”.

Pertanyaan yang diterjemahkan oleh tour leader asal Bali yang juga menjadi juru alih bahasa itu dijawab Gusti Moeng panjang lebar. Intinya, tidak setiap ada latihan Bedhaya Ketawang pada weton Anggara Kasih atau 35 hari sekali itu, Kanjeng Ratu Kencana Hadisari “hadir” atau tampak. Begitu pula saat tingalan jumenengan.
“Tetapi banyak yang melihat, di saat gladen (latihan) atau pentas untuk tingalan jumenengan, yang tampak 10 penari. Padahal, penari Bedhaya Ketawang hanya 9 orang. Yang satu pasti Kanjeng Ratu Kidul. Karena mengenakan busana penari dodotan seperti yang lain,” ujar Gusti Moeng yang disambut beberapa pertanyaan terkait.

Dalam kesempatan itu, Gusti Moeng juga mengisahkan perjalanan kesenimanannya sampai menerima penghargaan dari The Fukuoka Culture Prize Award tahun 2011 di Provinsi Fukuoka, Jepang. Ia terpilih bersama 4 tokoh sedunia yang dianggap punya andil, kepedulian dan kemampuan menguasai seni-budaya khas di tempat asalnya.
“Saya disaring dari dua ribu calon penerima penghargaan yang dikumpulkan panitia. Mereka berasal dari berbagai level dalam profesi di bidang seni budaya kelas dunia,” ujar Gusti Moeng. Dalam kesempatan itu, juga dijawab pertanyaan mengenai kekhasan penari tradisional kraton yang memiliki bentuk tangan dan jari unik.

Para wisatawan itu terkesan kagum mengapa bentuk kedua tangan dan empat jarinya berbeda dengan orang kebanyakan, walau sama-sama dari Indonesia. Mereka memahami seni tari dan para penari di Jepang, memiliki tangan dan jari yang tidak sama dengan milik penari di Jawa khususnya di Surakarta dan Jogja.
Gusti Moeng menjelaskan, dua tangan para penari di Surakarta dan Jogja, sejak kecil dibiasakan semacam melakukan gerakan senam hingga membentuk seperti busur panah ketika kedua tangannya dibentang ke kanan dan kiri. Sedangkan empat jarinya yang bisa ditekuk ke belakang sampai 90 derajat, karena dilatih sejak kecil.

Dialog menarik, tidak hanya saat bertemu dengan Gusti Moeng yang memiliki berbagai kapasitas terutama berkelas maestro tari khas kraton. Saat berada di ruang pamer Museum Art Gallery-pun, banyak yang mempertanyakan foto sejumlah wajah pemimpin Mataram Islam Surakarta, jenis mahkota dan logo khas kraton.
Rupanya, pertanyaan rombongan mengenai peran Jepang di masa revolusi menjelang Proklamasi Kemerdekaan yang dijelaskan Gusti Moeng, berasal dari penjelasan guide (pemandu wisata). Di ruang pamer foto wajah Raja Mataram Islam PB I-XII itu, ditanyakan logo Sri Radya Laksana yang berhias untaian merah-putih simbol NKRI.

Selain ada simbol mahkota yang berarti kerajaan atau raja, di logo juga ada simbol padi dan kapas serta untaian bendera merah-putih. Karena, simbol itu ada kemiripan dengan simbol-simbol negara (NKRI). Secara sekilas, Gusti Moeng juga menyinggung peran Jepang saat “pendudukan” (1942-1945), di situ ada Sinuhun PB XII.
Di dalam museum, sekali lagi wisatawan Jepang ini lebih tertarik pada khasanah seni budaya. Di situ ada display musik gamelan, wayang beber dan tarian rakyat yang disebut “Tayub”. Ketika diajak ke halaman sekitar “Sumur Sanga”, banyak di antara mereka takjub dengan pohon beringin raksasa dan mencicipi air “sumur sanga”. (won-i1)
