Lima Perjalanan Rombongan Utusan-dalem “Ruwahan”, Akan Berakhir di Madura
SURAKARTA, iMNews.id – Hampir dalam sepekan sejak donga wilujengan digelar untuk menandai penyerahan SK Badan Pengelola Kraton dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon kepada KGPH PA Tedjowulan (iMNews.id/18/12026), suasana di Kraton Mataram Surakarta terasa landai. Ada kesan suasana tenang, karena museum kraton tutup.
Media iMNews.id yang memastikan kesan suasana tenang itu, antara lain mendapatkan jawaban bahwa para tokoh yang diduga telah membuat suasana tidak tenang, dalam beberapa hari sedang di Jakarta untuk “melapor” ke DPR RI. Sementara, dalam rapat rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, Menbud Fadli Zon “blak-blakan membeberkan”.

Dalam video tayangan sebuah media itu, Menteri Fadli Zon dengan tegas menjawab dan menjelaskan kepada Komisi X DPR RI, Rabu (21/1). Menurutnya, pemerintah (Kemenbud) ingin membantu merevitalisasi bangunan yang rusak, bukan pada konfliknya. Soal dana hibah, disebutkan pertanggungjawaban (LPJ) penggunaannya “nyaris tidak ada”.
Dana hibah pemerintah (APBD II/APBD I/APBN) antara tahun 2017-2023 itu, diterima atas nama pribadi. Padahal seharusnya, dana itu disalurkan kepada entitas/lembaga resmi. Menurutnya, konflik internal di kraton sudah berlangsung lama. Maka kini ditunjuk penanggungjawab, untuk memastikan mekanisme kontrol bantuan revitalisasi.

“Kami menunjuk tokoh senior di kraton, yaitu (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan untuk memediasi musyawarah keluarga. Sekaligus, menugaskan kepadanya sebagai penanggungjawab/pelaksana. Negara tidak hadir pada masalah konfliknya. Tetapi, pemerintah untuk mengatasi kerusakan bangunannya,” jelas Menteri Fadli Zon.
Dalam suasana “tenang” tetapi di sejumlah lokasi akses pintu masuk utama di kompleks museum masih “digembok”, Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng masih terus bekerja. Kerja adat harus terus berjalan walau belum ada “serah-terima” dari “bebadan” lama ke yang baru, karena belum ada “Sinuhun definitif”.

Sementara itu, kerja adat yang tetap harus berjalan sudah dilakukan sejak memasuki bulan Ruwah Tahun Je 1959 yang tepat, Selasa (20/1). Donga wilujengan “napak Ruwah” digelar, berlanjut memulai perjalanan ritual “nyadran”, yang diawali di sejumlah titik lokasi di 4 daerah sekaligus dalam sehari, pada Rabu (21/1).
Safari keliling ritual “nyadran” di bulan Ruwah atau “Tour de Makam”, akan berlanjut Minggu (25/1). Astana Pajimatan Imogiri menjadi lokasi pertama yang akan diziarahi, berlanjut ke Astana Pajimatan Kutha Gedhe dan Banyu Sumurup, Jogja. Safari “Ruwahan” dalam sehari itu, akan diakhiri ziarah ke petilasan Parangkusuma.

Setelah beberapa lokasi di wilayah DIY, safari “Tour de Makam” berlanjut ke wilayah Kabupaten Grobogan, misalnya kompleks makam Ki Ageng Selo, Ki Ageng Tarub dan lainnya, Selasa (3/2). “Nyadran” berikut ke makam Bathara Katong(Ponorogo), Minggu (8/2) dan makam Sinuhun Amangkurat Agung di Tegalarum, Kamis (12/2).
Menutup agenda “Nyadran” selama bulan Ruwah, adalah ziarah ke Astana Pajimatan Kholpajung, Kecamatan Kota, Kabupaten Pamekasan (Madura) pada Senin (16/2). Selain itu, perjalanan spiritual Sinuhun PB XIV Hangabehi yang sempat tertunda, Jumat (23/1) besok berlanjut dan akan Jumatan di Masjid Cipta Mulya (Pengging). (won-i1)
