Semalam, Gusti Moeng dan Rombongan Hadiri Gelar Budaya di Klaten

  • Post author:
  • Post published:November 23, 2025
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Semalam, Gusti Moeng dan Rombongan Hadiri Gelar Budaya di Klaten
MEMBERI SAMBUTAN : Di bagian akhir sesi sambutan di event "Gelar Budaya Sanggar Seni Kridho Laras", Sabtu malam (22/11), Gusti Moeng tampil yang didampingi KPP Wijoto Adiningrat dan KRMH Saptonojati. Ia menyentil soal Kabupaten Klaten yang dulu kaya seniman dalang. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Diinisiasi Sanggar Seni Kridho Laras, Didukung Pakasa Cabang Setempat

KLATEN, iMNews.id – Semalam (Sabtu, 22/11/2025), Gusti Moeng bersama rombongan sekitar 25 orang menghadiri event “Gelar Budaya Sanggar Seni Kridho Laras” di gedung Serbaguna Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Sajian berbagai cabang seni itu diinisiasi sanggar seni tersebut, dan mendapat dukungan warga Pakasa Cabang Klaten yang dipimpin KP Probonagoro (Ketua cabang).

Event kesenian yang diinisiasi Sanggar Seni Kridho Laras semalam, mendapat perhatian Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA) selaku pimpinan Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton Mataram Surakarta. Mengingat, nyonya Suwarni SPd (53) adalah mantan penari Bedhaya Ketawang di tahun 1990-an. Pengalaman lebih dari 5 tahun itu, dijadikan modal untuk mendirikan sanggar seni di desanya.

Semalam, beberapa repertoar tari yang diajarkan di Sanggar Seni Kridho Laras, disajikan di gedung serbaguna cukup bagus dan luas itu. Beberapa jenis tarian kreasi baru yang sedang marak dipelajari di kalangan siswa SD di wilayah luas itu, juga disajikan, yaitu tari “Soyong”, tari “Gebyar” dan tari “Wulan Merindu”. Sedang tari Menakjingga dan Gambyong Pare Anom, tarian remaja/dewasa lebih serius.

Beberapa repertoar tari yang kini rata-rata diajarkan di untuk kalangan siswa SD dan sering dijadikan jenis tarian yang dilombakan, semalam juga diperlihatkan kalangan siswa SDN 3 Bero yang menyajikan tari “Soyong” dan “Gebyar”. Dari kalangan siswa sanggar, menyuguhkan tari “Menakjingga” dan “Gambyong Paren Anom. Satu-satunya sajian dari warga Pakasa Cabang Klaten, adalah tembang “Panembrama”.

SENI PANEMBRAMA : Pengurus Pakasa Cabang Klaten menyajikan seni koor berbahasa Jawa “panembrama” di “Gelar Budaya Sanggar Seni Kridho Laras” yang digelar di gedung Serbaguna Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Klaten, Sabtu malam (22/11). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Nyanyian koor berbahasa Jawa yang antara lain diselipi suara gendhing sebagai melodi itu, dinyanyikan oleh sekitar 30 warga Pakasa Cabang Klaten. Koor Panembrama ini mendapat pujian Nyonya Kadarwati SH MH, anggota Komisi 2 DPRD Jateng asal Klaten yang juga mendukung event tersebut. Menurutnya, Kabupaten Klaten sangat kaya seni budaya, sesuai semangat “berkepribadian dalam kebudayaan”.

“Saya sangat menikmati dan bikin merinding mendengarkan Panembrama tadi. Dan ini merupakan bukti nyata telah melaksanakan ajaran Bung Karno yang ketiga, yaitu “berkepribadian dalam kebudayaan”. Tetapi, kok akhir-akhir saya jarang mendengar pentas-pentas seni yang merupakan ciri kepribadian Budaya Jawa ya?. Padahal, Kabupaten Klaten ini katanya gudangnya seni budaya,” ungkap Nyonya Kadarwati.

Ungkapan singkat legislator DPRD Jateng asal Klaten yang juga ibunda Hamenang Wajar Ismoyo (Bupati Klaten) itu, diberikan saat memberi sambutan sesudah sajian tari dan Panembrama. Gusti Moeng mendapat kesempatan sambutan terakhir, dan beberapa pejabat yang mewakili Bupati, Camat Trucuk serta pimpinan Sanggar Seni Kridho Laras yang juga selaku ketua panitia, ditampilkan di urutan depan.

Puncak dari semua sambutan itu, adalah penyerahan tokoh wayang Bima (Werkudara) oleh Kadarwati SH MH kepada Ki Teguh Triono SPd MPd. Seniman dalang ini menerima tokoh Bima, karena akan bertugas menggelar lakon “Wahyu Kamulyan Sejati”. Lakon itu digelar dalam sajian wayang kulit semalam suntuk, sebagai sajian terakhir sekaligus puncak gelar budaya yang dimeriahkan dengan keramaian pasar malam itu.

TOKOH BIMA : Legislator Komisi 2 DPRD Jateng Kadawati SH MH, menyerahkan tokoh “BIma” kepada dalang Ki Ki Teguh Triono SPd MPd yang akan menggelar lakon “Wahyu Kamulyan Sejati” di “Gelar Budaya Sanggar Seni Kridho Laras”, Sabtu malam (22/11). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Yang saya ketahui, dulu Kabupaten Klaten adalah gudangnya kesenian wayang kulit. Jumlah seniman dalangnya paling banyak, jika dibandingkan daerah-daerah (kabupaten) yang lain. Dan saya tahu, dulu Klaten selalu tampil menjadi juara karawitan di tingkat provinsi (Jateng). Selalu juara 1. Sekarang kok sudah tidak pernah saya dengar,” ujar Gusti Moeng pada giliran terakhir memberi sambutan.

Walau sambutan Gusti Moeng singkat, namun salah satu isi yang ditegaskan menyentuh  hal sangat penting tetapi berubah berkebalikan dalam beberapa waktu. Yaitu bahwa Klaten adalah gudangnya kesenian wayang kulit, karena jumlah dalang paling banyak di antara kabupaten-kabupaten yang ada di Jateng, Jatim dan DIY menurutnya adalah fakta. Meski begitu, event malam itu juga disaksikan warga yang memenuhi gedung.

Perihal lakon “Wahyu Kamulyan Sejati” yang akan digelar dalang Ki Teguh Triono SPd MPd, sempat diulas di antara yang memberi sambutan mewakili pemerintah. Bahwa “kamulyan” (kemuliaan) yang diharapkan akan bersama para pemimpin dan rakyat Kabupaten Klaten, adalah “kamulyan” yang sesuai dengan “pengorbanan” dan sikap tulus-ikhlas seperti yang dimiliki dan diperlihatkan para tokoh Pandawa.

Sanggar Seni Kridho Laras yang dipimpin pemiliknya, Nyonya Suwarni SPd, termasuk sudah lama berkecimpung di bidang pembinaan kesenian di kalangan masyarakat Desa Bero dan sekitarnya. Sanggar itu menjadi agen penggerak pelestarian Budaya Jawa di lingkungan itu, karena sanggar tersebut juga menjadi bagian dari Pakasa Anak Cabang (Ancab) Trucuk, Kabupaten Klaten yang perlu diberi kesempatan berkembang.

MENJADI BIASA : Sebelum bangsa Indonesia mengalami “krisis identitas”, sangat jarang lagu “Indonesia raya” dinyanyikan dalam suasana gelar pentas wayang kulit. Tetapi, pemandangan yang “wagu” seperti ini, lama-lama menjadi hal yang biasa. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kesempatan berkembang yang sangat memungkinkan, salah satunya adalah semakin terbukanya kesempatan berekspresi. Peringatan HUT Pakasa yang digelar Punjer di Kraton Mataram Surakarta, merupakan kesempatan luas untuk berekspresi sekaligus promosi. Ki Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat di Jogja) yang sering berkeliling di ancab-ancab Pakasa di Klaten, sangat mendukung tiap kecamatan punya sanggar seni.

“Saya sangat setuju seandainya Pakasa di tingkat ancab (kecamatan) ada yang menginisiasi berdirinya sanggar seni. Ini bentuk penguatan ketahanan budaya daerah dan nasional, di segala usia. Saya juga setuju Sanggar Seni Kridho Laras ini diberi kesempatan luas untuk berkembang. Selain berbagai event dari lingkungan Pemkab Klaten, Pakasa cabang juga bisa melakukan itu,” ujar Ki Dr Purwadi.

Sementara itu, Nyonya Suwarni SPd yang menjawab pertanyaan iMNesw.id mengakui, dirinya adalah seniman yang pernah “suwita” di Kraton Mataram Surakarta sebagai penari “Bedhaya Ketawang”. Pengalaman menjadi penari “elite” di kraton antara akhir tahun 1980-an hingga 1994 itu, adalah pengalaman menimba pengetahuan seni sekaligus budaya yang tidak bisa didapat dari bangku sekolah.

“Saya dulu angkatannya mbak Eko Kadarsih. Saya suwita sebagai penari Bedhaya Ketawang tahun 1994. Banyak yang saya dapat dari pasuwitan itu. Terutama pengetahuan dan pengalaman non-teknis. Karena, menjadi penari Bedhaya Ketawang bukan sekadar bisa menari. Tetapi juga harus merasakan betul sedang menjalani ritual yang sakral. Disiplin seperti itu, akan saya ingat terus,” ujarnya.

MENIKMATI TARI : Gusti Moeng dan rombongan dari Kraton Mataram Surakarta yang lebih awal hadir di ajang “Gelar Budaya Sanggar Seni Kridho Laras” di gedung Serbaguna Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Klaten, Sabtu malam (22/11), masih bisa menikmati beberapa sajian tari koleksi sanggar seni. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, kehadiran Gusti Moeng dan rombongan ikut menyaksikan “Gelar Budaya Sanggar Seni Kridho Laras”, adalah bagian dari tugasnya sebagai pimpinan LDA. Karena, lembaga itu yang menjadi payung hukum bagi semua elemen masyarakat adat, termasuk Pakasa dan segala kegiatan kesenian di dalamnya. Dan elemen itu adalah agen pelestari Budaya Jawa yang bersumber di Kraton Mataram Surakarta.

Kraton yang masih berada pada masa berkabung samai 40 hari sejak 2 November saat wafatnya Sinuhun PB XIII, memang tampak berkurang aktivitas adatnya terutama yang menggunakan peralatan musik atau seni. Tetapi, untuk beberapa jenis kegiatan lain misalnya yang sifatnya kedinasan kantor-kantor Bebadan yang ada, tetapi berjalan seperti biasa. Terlebih, pekerjaan proyek revitalisasi bangunan museum dan menara. (won-i1)