KPP Haryo Sinawung Meminta KPH Raditya Mulai Memperdengarkan Gamelan Sekaten
SURAKARTA, iMNews.id – Bulan Mulud Tahun Dal 1959 di tahun 2025 ini, menjadi tonggak sejarah bagi Kraton Mataram Surakarta, karena otoritas kewenangan mengelola semua asetnya kembali ke tangan Bebadan Kabinet 2004 dan Lembaga Dewan Adat (LDA). Kembalinya kewenangan itu, ditandai penyampaian “dhawuh” (permintaan) untuk memperdengarkan gamelan Sekaten, kali pertama, yang dilakukan Bebadan Kabinet 2004.
Kembalinya otoritas kewenangan mengelola upacara adat siang tadi, juga ditandai perubahan operator protokol baku dalam upacara pembukaan ritual Sekaten Garebeg Mulud 2025. Gusti Moeng memimpin jalannya upacara itu, didampingi para pejabat Bebadan Kabinet 2004 yang hadir di kagungan-dalem Masjid Agung Jumat (29/8). Dia memberi dhawuh semua yang bertugas dalam upacara yang dimulai pukul 13.00 WIB itu.
Dhawuh terutama diberikan kepada KPH Bimo Djoyo Adilogo (Bupati Juru-Kunci Asrana Pajimatan Imogiri), agar menyampaikan “ujub” (tugas) kepada KPP Haryo Sinawung (Wakil Pengageng Karti Praja) yang berada di Bangsal Pradangga Kidul halaman Masjid Agung. Wakil Pengageng Karti Praja itu diminta untuk memberi aba-aba kepada KPH Raditya Lintang Sasangka, “tindhih” abdi-dalem penabuh gamelan Sekaten.
Begitu mendengar “dhawuh” dari KPH Bimo Djoyo Adilogo yang dikumandangkan lewat sound system Masjid Agung, KPP harya Sinawungpun meminta KPH Raditya Lintang Sasangka untuk “hamiwiti ngungelaken gangsa Sekaten ingkang sepisanan”. “Dhawuh” itu langsung disampaikan kepada KP Saptonodiningrat untuk memulai menabuh “bonang”, karena instrumen ini yang menjadi “ada-ada” (interoduksi) orkestra gamelan Sekaten.

Maka, “ada-ada tabuhan bonang” berukuran jumbo yang ditabuh KP Saptonodiningrat dengan seorang abdi-dalem pasangannya, segera terdengar suaranya yang khas, terpancar melalui sound system masjid. Tak lama kemudian, suara serempak seluruh instrumen gamelan Kiai Guntur Madu, terdengar “jenggleng” di bangsal Pradangga Kidul. Di saat itulah, Gusti Moeng dan semua yang ada di depan bangsal, serentak “nginang”.
Terdengarnya instrumen bonang, beberapa demung, kenong, kendang dan bedug yang semuanya berukuran jumbo, selalu ditunggu-tunggu para pengunjung yang datang khusus untuk “ngalab berkah” hajad-dalem Sekaten Garebeg Mulud. Maka, selain Gusti Moeng, semua yang ada di sekitar Bangsal Pradangga, serentak mengunyah lipatan sirih yang di dalamnya ada “injet” (kapur) dan “gambir”, hingga liurnya berwarna merah.
Peristiwa mengunyah sirih yang diratakan dan diusap dengan sekepal tembakau yang sudah siap di tangan itu, yang disebut tradisi “nginang”. Tradisi itu memiliki makna filosofi lengkap, namun secara sederhana dimaknai semua yang datang “ngalab berkah” akan bisa membuat awet muda. Peristiwa yang penuh semangat spiritual kebatinan dan religi transendental itu, diulang di depan Bangsal Pradangga Lor.
Setelah gamelan Kiai Guntur Madu di sisi selatan masjid ditabuh menyajikan gendhing “Rambu” sebagai pertanda awal “nginang”, gamelan Kiai Guntur Sari di Bangsal Pradangga Lor atau sisi utara halaman masjid, untuk menuntaskan “nginang”. Kinang dikunyah hingga bercampur liur dan mengeluarkan warna merah, dan diratakan dengan tembakau “susur” ke seluruh permukaan gigi, saat Gendhing “Rangkung” disajikan.

Dengan berakhirnya ritual “nginang” di depan Bangsal Pradangga Lor yang menyajikan gendhing “Rangkung” terdengar, maka selesailah seluruh proses secara simbolis upacara pembukaan ritual “Hajad-dalem Sekaten
Garebeg Mulud 2025″. Gusti Moeng, sambil mengusapkan “susur” untuk mengurangi warna merah “kinang”, berjalan meninggalkan Bangsal Pradangga Lor yang diikuti para kerabat jajaran Bebadan Kabinet 2004.
Keseluruhan upacara pembukaan ritual Sekaten siang tadi termasuk berjalan lancar, aman dan singkat. Dikawal sejumlah aparat keamanan gabungan yang hanya tampak belasan orang, upacara yang digelar di pendapa kagungan-dalem Masjid Agung dimulai pukul 13.10 WIB. Setelah dibuka dan sajian ayat suci, lalu dibacakan riwayat upacara adat Sekaten Garebeg Mulud, sebagai peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW.
Upacara berlanjut dengan penyampaian “dhawuh” kepada KPH Bimo, agar meminta KPP Haryo Sinawung untuk memberi aba-aba KPH Raditya Lintang Sasangka, memperdengarkan gamelan Sekaten dalam gendhing “Rambu”. Seluruh rangkaian kegiatan upacara adat pembukaan ritual Sekaten Garebeg Mulud 2025, mengalami perubahan protokol operator yang menjalankan upacara, yang kini mulai diambilalih Bebadan Kabinet 2004.
Seperti disebutkan KPP Harya Sinawung sebelumnya (iMNews.id, 26/8), dengan adanya eksekusi putusan Mahkamah Agung (MA) yang mengembalikan otoritas kewenangan pengelolaan kraton beserta seluruh aset-asetnya termasuk upacara adat kepada Bebadan Kabinet 2004 dan eksistensi Lembaga Dewan Adat, maka semua upacara adat yang selama 6 tahun lebih sejak April 2017 dikelola kelompok “seberang”, kembali ke LDA.

Kembali ke Lembaga Dewan Adat (LDA) sebagai lembaga berbadan hukum yang memayungi lembaga masyarakat adat kraton, termasuk kelembagaan di dalam Kraton Mataram Surakarta, yaitu jajaran Bebadan Kabinet 2004 yang menjalankan tugas-tugas adat dalam rangka pelestarian budaya dan eksistensi kraton. Maka, jalannya upacara pembukaan dengan tampilnya beberapa tokoh “operator protokol” di atas, sangat meyakinkan.
“Sudah lega mas. Semua berjalan lancar, aman dan sukses. Mudah-mudahan seterusnya bisa terjaga suasana sejuk seperti ini. Bahkan mungkin, momentum ini bisa mendekatkan kembali pribadi-pribadi yang sebelumnya menjauh atau ada di pihak seberang. Kalau mau. Yang jelas, kami sudah prihatin lebih enam tahun, dan banyak hal yang seharusnya menjadi proses alih generasi, jadi berantakan,” ujar KPH Bimo Djoyo Adilogo.
Setelah upacara pembukaan dimulainya ritual Sekaten Garebeg Mulud 2025, siang tadi, upacara adat menyambut lahirnya Nabi Muhammad SAW akan berlanjut pada puncaknya pada 12 Mulud Tahun Dal 2959 atau 5 September mendatang. Acara puncak itu adalah prosesi Gunungan hajad-dalem Sekaten Garebeg Mulud, yang dibawa ke Masjid Agung untuk didoakan, lalu dibagi-bagikan kepada pengunjung yang “ngalab berkah”.
Namun, rangkaian kegiatan ritual hajad-dalem Sekaten garebeg Mulud 2025 cukup banyak tahapan dan bentuknya. Setelah keramaian pasar malam “Maeman Sekaten 2025” dibuka Gusti Moeng di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, 6 Agustus, dilanjutkan jamasan gamelan dalam dua hari, Senin-Selasa (25-26/8) dan mengusung kedua gamelan Sekaten ke Masjid Agung, Jumat pagi sekitar pukul 09.00 WIB.

Sepasang gamelan Kiai Guntur madu dan Guntur Sari, diserakan KRAT Hastonagoro kepada tamir Masjid Agung KRAT Muhtarom dalam upacara kecil di depan topengan masjid, pagi tadi. KRAT hasto lalu mengajak para abdi-dalem karawitan Keparak Mandra Budaya untuk menata gamelan Kiai Guntur Madu di Bangsal Pagongan atau Pradangga Kidul (selatan) dan Kiai Guntur Sari di Bangsal Pradangga Lor (utara) halaman masjid.
Setelah pembukaan ritualnya, malam ini berlanjut dengan pentas seni yang digelar Bebadan Kabinet 2004 di Pendapa Sitinggil Lor. Pentas seni tari yang melibatkan sejumlah sanggar tari dari masyarakat, sekolah dan Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton Mataram Surakarta, digelar tiap malam mulai pukul 19.30 WIB dalam enam hari hingga 3 September. Malam ini, Gusti Moeng membuka resmi sebelum pentas tari dimulai. (won-i1)