Terompet Mbah Glongsor Belum Ditemukan, Pengurus Tak Akan Lapor ke Polisi

  • Post author:
  • Post published:June 23, 2024
  • Post category:Budaya
  • Reading time:7 mins read
You are currently viewing Terompet Mbah Glongsor Belum Ditemukan, Pengurus Tak Akan Lapor ke Polisi
DICOBA DITIUP : Terompet mbah Glongsor yang kini raib, dicoba ditiup oleh KRA Panembahan Didik Gilingwesi pada menjelang kirab budaya mengarak terompet itu, tahun 2023 lalu. Karena pelatuknya sudah hilang, terompet berumur ratusan tahun itu belum bisa dipastikan masih berfungsi baik atau tidak. (foto : iMNews.id/dok)

Diyakini Tidak Dicuri, Ada Permintaan Kirab Tetap Dilaksanakan Tanpa Terompet

KUDUS, iMNews.id – Alat musik terompet berukuran kecil milik seorang prajurit Kraton Mataram Kartasura (1700-an) yang dikenal dengan nama mBah Glongsor, hingga semalam belum diketemukan setelah diketahui raib dari tempat penyimpanannya di pos jaga Gang Ekapraya 3 RT 03 RW 01 (bukan RW III-Red) Desa Rendeng, Kecamatan Kota, sekitar seminggu lalu.

Pangurus makam Mbah Glongsor sampai semalam sudah berusaha melacak dan berunding untuk mendapatkan solusi terbaik menemukan kembali alat musik tiup bersejarah itu. Walaupun benda bersejarah itu diyakini tidak mungkin dicuri orang luar, tetapi pengurus merasa enggan untuk melacak lebih detil, karena khawatir ada ekses kurang baik bagi warga terdekat.

“Ya, kalau diteruskan mungkin ada hasilnya. Tapi bisa mengurangi kerukunan warga. Karena kami yakin, barang itu tidak dicuri. Tidak ada harganya kalau dijual di pasar loak/rongsok. Kami khawatir kalau dibuang untuk menghilangkan jejak.  Karena, ada tempat membuang yang sulit dilacak, yaitu ke kali tempat pembuangan limbah (bersih) PG Rendeng”.

POS JAGA : Pos jaga di makam mbah Glongsor yang di dalamnya ada almari tempat menyimpan terompet kuno itu, semalam dilihat utusan pengurus Pakasa Cabang Kudus yang didampingi salah seorang juru-kunci makam. Pos baru dibuka kembali, setelah beberapa hari ditutup akibat terompet raib sejak seminggu lalu. (foto : iMNews.id/dok)

“Kalau dibuang ke situ, jelas tidak mungkin ada yang berani menyelam untuk mengambil. Karena, pada musim giling tebu seperti saat ini, pabrik sering melepas limbah air panas ke dam pembuangan. Saat air dilepas, banyak ikan yang lompat ke luar/daratan. Kedalaman dam kecil yang terhubung ke sungai itu, lebih dari 4 meter,” ujar KRA Panembahan Didik.

Ketua pengurus makam Mbah Glongsor yang juga Ketua Pakasa Cabang Kudus itu, saat dimintai konfirmasi iMNews.id semalam juga menambahkan, bahwa upaya pencarian terompet itu mungkin akan terpaksa diakhiri sampai di sini. Artinya, mungkin sudah tidak akan ada tindakan lebih lanjut, apalagi lapor ke polisi, karena semua menghendaki untuk mengikhlaskannya.

Namun, lanjut KRA Panembahan Didik Gilingwesi Hadinagoro yang juga punya tanggung-jawab menjaga peninggalan mbah Glongsor berupa terompet itu, ketika terompet diikhlaskan hilang berarti sudah tidak mungkin kirab budaya ritual terompet mbah Glongsor layak untuk diteruskan lagi. Karena, terompet yang menjadi simbol ikonnya sudah tidak ada wujudnya.

SEBELUM DIBUKA : Pos jaga yang di dalamnya menjadi tempat menyimpan terompet mbah Glongsor, tampak masih tertutup sebelum dibuka salah seorang juru-kunci yang menemani utusan pengurus Pakasa Cabang Kudus, semalam. Pos jaga itu berada di sudut pagar kompleks makam mbah Glongsor. (foto : iMNews.id/dok)

“Padahal, ada warga dan pihak Ketua RW I Kampung Rendeng Ekapraya tetap menghendaki ada kirab budaya. Terus simbolnya apa?, Karena temanya ‘kan mengarak terompet mbah Glongsor. Kalau diganti terompet lain atau baru, apa ya harus menempuh cara kurang baik seperti itu? ‘Kan bisa dianggap akal-akalan (menipu-Red) kalau disebut terompet mbah Glongsor,” katanya.

Disebutkan KRA Panembahan Didik, walau terompet mbah Glongsor sudah raib dan banyak pihak terkesan “mengajak” untuk mengikhlaskannya, di sisi lain banyak warga di RW I itu yang menginginkan kirab budaya keliling kampung itu tetap diadakan tahun ini dengan tema yang sama, kirab terompet mbah Glongsor.

Menanggapi itu, KRA Panembahan Didik selaku Ketua Pengurus Makam mbah Glongsor maupun Ketua Pakasa Cabang Kudus masih mempertimbangkan patut atau tidak dari sisi etikanya, kalau tetap menggunakan tema terompet mbah Glongsor. Kalaupun diganti tema lain, perlu ada musyawarah untuk menentukan tema baru tetapi yang tepat dan menarik dari sisi adat/budaya.

SUASANA MALAM : Suasana di dalam cungkup makam mbah Glongsor di RT 03 RW 01 Rendeng Ekapraya Wetan, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, saat dikunjungi utusan Pakasa Cabang Kudus, semalam. Lokasi makam dan pos jaga tempat menyimpan terompet yang raib, berada dalam satu kompleks. (foto : iMNews.id/dok)

Menurutnya, terompet mbah Glongsor yang hanya dimiliki Desa Rendeng, dahulu kala berfungsi sebagai alat komunikasi yaitu untuk memberi isyarat bagi warga sekitar kampung Rendeng Ekapraya, tentang adanya “lelayu” atau warga yang meninggal. Terompet itu ditiup keliling kampung yang diikuti pengumuman tentang adanya warga yang meninggal.

Terompet peninggalan mbah Glongsor itu, disimpan dalam almari kecil yang menjadi salah satu isi pos jaga di dekat makam mbah Glongsor, yang ada di RT 03 RW 01 Rendeng Ekapraya itu. KRA Panembahan Didik yang dipercaya menjadi ketua pengurus makam, dulunya tinggal bersama keluarga yang kediamannya bersebelahan dengan makam mbah Glongsor dan dekat pos jaga itu.

Mbah Glongsor adalah seorang prajurit Kraton Mataram Kartasura yang aslinya bernama KRT Prana Kusumadjati atau Moehammad Al Moesthofa, yang masih trah darah-dalem Sunan Kudus Djakfar Sidik. KRA Panembahan Didik juga salah seorang dari keluarga besar trah darah-dalem “Soenan Koedoes”, salah satu Sunan yang disebutkan hidup di tahun 1400-1550-an itu.

EVENT ANDALAN : Seandainya pengurus makam Pangeran Puger di Desa Demaan, Kecamatan Kota segera bisa diajak berembug dan bekerjasama, Pakasa Cabang Kudus akan mulai memiliki event andalan ritual haul tokoh tersebut. Event ini bisa menjadi daya tarik wisata dan destinasi tambahan bagi Kabupaten Kudus. (foto : iMNews.id/dok)

Karena belum bisa diputuskan antara peniadaan kirab atau tetap diadakan kembali mulai tahun ini, KRA Panembahan Didik mengurungkan niatnya untuk mengagendakan ritual itu, yang sudah dirancang antara akhir Juni atau awal Juli. Kalau ritual itu benar-benar tidak mungkin diadakan karena alasan yang sangat mendasar, Pakasa Kudus akan kehilangan satu event.

Pakasa Cabang Kudus termasuk cabang yang punya potensi dan kepedulian cukup besar dalam pelestarian budaya Jawa, tetapi nyaris tidak memiliki “core” event yang menjadi aktivitas andalan cabang. Karena, event kirab budaya atau ritual haul tokoh leluhur (Dinasti Mataram) misalnya, bisa menjadi sarana aktivitas pelestarian budaya yang bersumber dari kraton.

Makam Sunan Kudus yang menjadi satu dengan masjid dan Menara Kudus, sudah menjadi event besar Kota Kudus yang sudah sulit “dijangkau” Pakasa cabang. Makam Pangeran Puger yang masih memungkikan dijadikan event, tetapi para pengurus makam terlalu “pasif” saat diajak berunding. Sementara, terompet mbah Glongsor, kini malah “ketelisut” tak jelas rimbanya. (won-i1).