Arak-arakan Menyusuri Gang-gang Kampung Menuju Makam Eyang Sentono
IMNEWS.ID – UNTUK kali kedua setelah peringatan wafat atau haul Eyang Sentono pertama dilakukan di tahun 2021, Pakasa Cabang Jepara kembali menggelar ritual religi untuk mengganti selubung makam tokoh cikal-bakal pendiri Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan dengan berbagai acara yang berlangsung sepanjang hari hingga malam, Sabtu (29/10/2022). Bila yang pertama masih sederhana dan hanya didukung warga Pakasa puluhan orang, pada haul kedua yang baru saja berlalu, sudah melibatkan hampir 200 orang dengan intensitas pengisi acara yang makin tinggi, terasa menendang walau wujudnya sentuhan budaya.
Kemasan pada haul kedua yang dirancang dan sepenuhnya dilaksanakan Pakasa Cabang Jepara bersama beberapa elemen lain di luar organisasi, berupa kirab budaya dengan formasi arak-arakan sepanjang kurang lebih 100 meter, menyusuri rute kirab sejauh kurang lebih 2 KM. Start sekitar pukul 13.00 WIB dari depan Sanggar Loka Budaya Padepokan Seni Hadipuran yang tak lain adalah kediaman keluarga KRA Bambang Setiawan Adiningrat (Ketua Pakasa Jepara), prosesi arak-arakan sempat keluar ke jalan besar yaitu Jalan Sultan Hadirin untuk kembali menyusuri gang-gang kampung menuju makam Eyang Sentono di ujung barat Desa Sukodono.
Karena gegap-gempitanya suara drum-band dengan kelengkapan beberapa jenis alat tiup dan komposisi warna kostum prajurit pengawal dan prajurit korp musik, ditambah ciri-ciri khas busana adat Jawa bersamir merah-kuning yang menjadi simbol ikonik Kraton Mataram Surakarta, jelas mengundang warga keluar rumah. Warga di sepanjang gang Kramat II di sekitar Padepokan Seni Hadipuran langsung berjejer di sepanjang rute yang dilalui, bahkan lalu-lintas di sepanjang Jalan Hadirin melambatkan lajunya untuk menyaksikan kirab bersama-sama warga di sepanjang jalan kabupaten yang sepertinya dianggap aneh, karena sebelumnya tak pernah ada.
Sudah Banyak Peziarah

Dalam waktu sekitar 30 menit, arak-arakan kirab budaya yang dikomandani KRA Bambang Setiawan Adiningrat yang mengenakan busana prajurit Mataram dengan sentuhan aksesoris prajurit kerajaan di Eropa itu, tiba di kompleks makam Eyang Sentono yang ada di ujung Desa Sukodono berbatasan dengan Desa Sukosono, Kecamatan Tahunan itu. Kompleks makam berdekatan dengan tiga rumah warga yang disekat gang desa (gang buntu), yang disebut KRA Bambang Setiawan sudah mulai didatangi para peziarah karena sudah beberapa kali diadakan pengajian akbar menandai haul setiap datang bulan Rabiulakhir (Bakda Mulud).
Sesampai di makam, para prajurit berjejer di kanan kiri gang, beberapa petugas pembawa selubung memasuki makam yang diikuti KMT Susanti Puspaningrum yang bertanggungjawab dalam penggantian selambu makam, sementara para peserta kirab lainnya duduk lesehan di atas tikar yang digelar di halaman depan makam. Halaman makam juga menjadi halaman dua kediaman warga depan makam, yang salah satunya kediaman Ketua RT, yang sama sekali bukan ahli waris Eyang Sentono, karena makam tokoh dari Kraton Mataram itu tak memiliki juru kunci seorangpun, dari dulu hingga kini.
Begitu semua sudah duduk lesehan di atas tikar, MNg Darjo Diprojo selaku juru pambiwara segera membacakan urut-urutan acara larap selambu (selubung) makam yang menjadi tema kirab budaya yaitu “Ganti Lurup Hinggil” (Haul Eyang Sentono). Kemudian sambutan Ketua Pakasa Cabang Jepara, diteruskan pengantar sejarah singkat oleh Dr Purwadi, seorang peneliti sejarah dari Lokantara Pusat di Jogja. Doa yang dipimpin Ustadz Wahid, mengantar pelepasan selubung atas (Hinggil-Red) makam oleh pera petugas yang dipandu KMT Susanti Puspaningrum, untuk diganti dengan selubung baru yang dibawa dalam prosesi arak-arakan Kirab Budaya Haul Eyang Sentono.
Kuliner Apem Jumbo

Proses larap selambu yang hanya berlangsung sekitar 15 menit, menjadi puncak acara ritual haul Eyang Sentono. Tetapi, bersamaan dengan pengantian selambu, panitia haul menyediakan sebuah gunungan berisi aneka macam makanan kecil khas kesukaan anak-anak zaman sekarang. Gunungan itu baru dipersilakan dipetik seusai doa berakhir, yang didahului oleh beberapa pengurus Pakasa cabang. Seusai “ngalab berkah” gunungan Eyang Sentono, para peserta kirab dipersilakan merahapi berbagai jenis makanan tradisional khas Jepara, di antaranya nasi “penak” (bungkus) dan apem yang berukuran jumbo sebesar lingkaran piring, yang ludes dalam hitungan menit.
“Syukurlah-alhamdulillah, semua bisa habis. Itu pertanda berbagai jenis kuliner yang kami suguhkan, benar-benar disukai para pengunjung upacara adat. Mudah-mudahan mendatangkan berkah bagi semuanya. Kami sangat senang dan bersyukur. Ini akan menjadi evaluasi kami, untuk menyajikan lebih baik lagi di tahun depan,” ungkap KMT Susanti Puspaningrum selaku penanggungjawab selambu baru pengganti yang lama, sekaligus penanggungjawab hidangan kuliner yang disuguhkan, menjawab pertanyaan iMNews.id seusai ritual berlangsung.
Banyak pihak dilibatkan dalam upacara adat ini, selain guyub-rukun dan gotong-royong warga serta pengurus Pakasa Cabang Jepara yang dipim KRA Bambang Setiawan Adiningrat selaku Ketua cabang, juga didukung Sanggar Priyonggo Laras, Sanggar Tosan Aji, aparat Polsek dan Koramil Kecamatan Tahunan serta Satpol PP kecamatan, Hansip Kelurahan Sukodono dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara. Mereka terlibat dalam prosesi Kirab Budaya hingga pentas wayang kulit yang didahului Jagong Budaya (sarasehan) pada Sabtu malam Minggu, 29 Oktober itu.
Tak Ada Juru Kunci

Desa Sukodono pasti memiliki makna yang berada di balik nama itu, seperti disinggung Dr Purwadi dalam pengantar sejarah singkat Kabupaten Jepara yang diberikan di sela-sela upacara adat ganti selambu makam. Dalam arti harafiah, nama Sukodono berasal dari kata “suko” atau senang (gemar) dan “dono” berarti uang sebagai simbol sesuatu yang bermanfaat. Sebab itu, nama Sukodono yang bermakna suka memberi atau berbagi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan, sangat diyakini menjadi simbol nama yang diberikan tokoh pendiri cikal-bakal desa ini, yaitu Eyang Sentono.
Makam Eyang Sentono yang baru dua kali ini dimuliakan dengan upacara adat Haul dan Ganti Lurup Hinggil oleh Pakasa Cabang Jepara, disebutkan KRA Bambang Setiawan Adiningrat sama sekali tidak memiliki petugas juru kunci, sehingga pada upacara adat ganti selubung siang itu harus didahului dengan membentuk tim petugas pengganti selubung yang dipimpin KMT Susanti Puspaningrum. Menurut KRA Bambang, makam Eyang Sentono di Desa Sukodono memang menjadi pengecualian bagi sejumlah makam leluhur warga peradaban, termasuk leluhur Mataram, yang rata-rata memiliki pengurus juru kunci yang tugasnya menjaga dan merawat makam, khususnya di saat-saat berlangsung upacara adat ganti selambu seperti siang itu.
“Jadi, khusus makam Eyang Sentono atau Desa Sukodono, dari dulu hingga sekarang tidak ada pengurus juru kunci makam yang secara khusus dibentuk untuk keperluan itu. Saya tidak tahu sejak kapan dan alasannya mengapa tidak ada juru kunci? Padahal, makam leluhur sebagus ini perlu ada pengurus tetap yang bertanggungjawab menjaga dan merawat. Ini yang ingin kami tanyakan kepada para petinggi desa dan para sesepuh desa, apakah memungkinkan bisa dibentuk tim petugas tetap untuk menjaga dan merawatnya? Tetapi faktanya, hingga kini para peziarah yang silih berganti datang, sudah banyak yang berinisiatif menjaga dan merawat makam,” jelas KRA Bambang yang juga Ketua Sanggar Loka Budaya Padepokan Seni Hadipuran, menjawab pertanyaan iMNews.id, kemarin. (Won Poerwono/i1-bersambung)