Tari Bedaya Suka Mulya Digelar di Cepuri Pesanggrahan Parangkusuma

  • Post author:
  • Post published:August 13, 2022
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read

Untuk Mengantar Labuhan Keluarga Besar Wani Walubi

BANTUL (DIY), РiMNews.id РUntuk kali pertama, Gusti Moeng selaku instruktur sekaligus penyusun/penata tari dari Kraton Mataram Surakarta memetik pengalaman berharga sepanjang hidup dan sepanjang sejarah kraton. Ketua Sanggar Pawiyatan Kabudayan sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) itu, kemarin sore sekitar pukul 15.00 WIB menggelar pentas tari Bedaya Suka Mulya, di pendapa Cepuri kompleks Pesanggrahan Parangkusuma, kawasan pantai Parangtritis laut selatan pulau Jawa di wilayah  Kecamatan Sewon, Bantul (DIY).

“Betul. Ini pengalaman pertama sekaligus pengalaman berharga saya. Mementaskan tari di Cepuri kompleks Pesanggrahan Parangkusuma. Di sini biasanya hanya untuk doa persiapan upacara adat labuhan. Kalu ada pentas, ya hanya pertunjukan wayang kulit. Itupun sifatnya sebagai bagian dari sikap spiritual kebatinan masyarakat Jawa selama bulan Sura seperti sekarang. Pentas tanpa tata cahaya,” jelas Ketua Sanggar Beksa Kraton Mataram Surakarta yang memiliki nama lengkap GKR Wandansari Koes Moertiyah, menjawab pertanyaan iMNews.id, tadi siang.

PERSIAPAN MELARUNG = Gusti Moeng dan rombongan dari Kraton Mataram Surakarta, berbaur dengan rombongan keluarga besar MUNI dan Walubi, untuk mempersiapkan melarung berbagai uba-rampe upacara adat labuhan yang digelar di bibir pantai Parangkusuma laut selatan di Sewon, Bantul, DIY, kemarin sore. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pentas tari karya penyusunannya yang pernah dipersembahkan pada ultah 80 tahun ayahandanya yaitu Sinuhun Paku Buwana (PB) XII sebelum 2004 itu, memang luar biasa, eksklusif sekaligus unik, karena salah satunya hanya diiringi rekaman musik karawitan pengiring. Tetapi, pementasan tari itu tidak berdiri sendiri, karena menjadi bagian dari upacara adat Labuhan yang hampir menjadi agenda rutin tiap tahun dilakukan Kraton Mataram Surakarta ketika memasuki bulan Sura Tahun Baru Jawa.

Kehadiran rombongan dari Kraton Mataram Surakarta yang dipimpin Gusti Moeng, selain mempersiapkan upacara adat labuhan, juga menyajikan tari Bedaya Suka Mulya, untuk menandai peluncuran buku “Babad Prayoga” yang ditulis Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat) untuk KP Ricky Suryo Prakoso MBA dan keluarga besar Majlis Umat Nyingma Indonesia (MUNI) yang merupakan bagian dari Wali Umat Budha Indonesia (Walubi). Buku tersebut, menurut penyusunnya berisi rangkuman perjalanan keraton-keraton di Jawa khususnya Mataram, terutama yang menyangkut keragaman dan kebhinekaan serta toleransi adanya perbedaan yang sudah tumbuh subur sejak zaman sebelum ada NKRI.

MENUJU BIBIR PANTAI = Prosesi arak-arakan membawa segala macam uba-rampe upacara adat Labuhan, berjalan menuju bibir pantai Parangkusuma, laut selatan di wilayah Sewon, Bantul (DIY), kemarin sore. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Pada kesempatan pertemuan antara keluarga besar Walubi dan MUNI dengan keluarga besar Kraton Mataram Surakarta pada upacara, kami harapkan menjadi awal dari upaya bersama-sama memperkokoh kebhinekaan bangsa kita di dalam wadah NKRI. Hendaknya, peristiwa ini menjadi contoh yang bisa ditiru di tempat lain di Nusantara ini, bagaimana kita mencintai kebhinekaan. Karena, dengan mencintai kebhinekaan ini, brarti kita mencintai NKRI, sekaligus menjaga tegaknya NKRI. Ini adalah awal yang baik untuk terus dipupuk dengan berbagai kegiatan dan di berbagai kesempatan yang akan datang,” ungkap tegas KPH Edy Wirabhumi selaku Ketua Majlis Adat Kraton Nusantara (MAKN)  sekaligus Ketua Pakasa Pusat yang berkeududkan di Kraton Mataram Surakarta.

Dr Purwadi selaku penyusun buku mengawali penjelasan latarbelakang digelarnya acara tersebut, hingga mempresentasikan sekilas isi buku tersebut. Gusti Moeng selaku ketua rombongan dari kraton, juga berkesempatan memberi sambutan tentang agenda yang sudah disusun selama bulan Sura, yang biasanya diadakan labuhan selambu makam Sultan Agung Prabu hanyakrakusuma atau makam Sinuhun Amangkurat Agung. Selesai sambutan KPH Edy Wirabhumi, barisan yang dipimpin dua bregada prajurit keraton berjalan diikuti rombongan dari kraton, MUNI dan Walubi untuk melakukan doa di bibir pantai sebelum menghanyutkan barang-barang yang tidak terpakai ke air laut, dalam upacara adat labuhan. (won-i1)