Para Praktisi Juru Pranatacara Sleman, “Ajar Niru” Format Baku Gaya Surakarta

  • Post author:
  • Post published:August 9, 2022
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read

Tidak Terasa,  Selama Ini Dijalankan Masyarakat di Wilayah DIY

SURAKARTA, iMNews.id – Rombongan para praktisi juru pranatacara atau pambiwara dari Kabupaten Sleman (DIY) yang terdiri dari pengurus dan anggota sekitar 60 orang, Sabtu siang (6/8) bertamu pada Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Surakarta. Rombongan diterima GKR Koes Moertiyah Wandansari selaku Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan yang mengelola sanggar sekaligus selaku Ketua LDA, di ndalem Kayonan, Baluwarti, didampingi para sentana garap dan para dwija di antaranya KP Budayaningrat.

Rombongan yang dipimpin Agus Wiranto selaku Ketua Paguyuban Panatacara Yogyakarta Wewengkon Kabupaten Sleman (2022-2026) datang ke Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta, berniat berbagi pengalaman dan informasi serta belajar meniru/mencontoh atau “Ajar Niru” format baku tatacara adat upacara pernikahan gaya Surakarta yang bersumber dari kraton. Selama sekitar 3 jam, berlangsung dialog dan tanya-jawab antara rombongan tamu dengan tuan rumah yang banyak diberikan oleh Gusti Moeng pimpinan lembaga pengelolanya dan KP Budayaningrat selaku dwija sanggar dan praktisi profesional di tengah masyarakat.

Dari penjelasan Agus Wiranto selaku ketua paguyuban saat mndapat kesempatan menceritakan latarbelakang kedatangan rombongan, disebutkan bahwa profesi di bidang juru pranatacara atau pambiwara yang selama ini berkembang luas dan dilakukan masyarakat secara umum di wilayah DIY, banyak disebut berasal dari gaya Surakarta yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta. Dan hasil penelusuran pengurus paguyuban, gaya Yogyakarta sendiri tak banyak digunakan atau justru terselip di dalam gaya Surakarta, karena baru dikenal masyarakat setelah tahun 1970-an.

Bukan Gaya Surakarta

KETUA PAGUYUBAN : Ketua Paguyuban Panatacara Kabupaten Sleman (DIY), Agus Wiranto, berfoto bersama KP Budayaningrat, sesudah saling berbagi informasi tentang pengetahuan juru pranatacara dan tatacara pernikahan gaya Surakarta, dalam lawatan rombongan paguyuban di ndalem Kayonan, Baluwarti, Sabtu siang (6/8). (foto : iMNews.id/dok)

Profesi juru pranatacara atau pambiwara, adalah profesi seseorang yang mendapat tugas memandu atau menata dan mengumumkan jalannya tatacara dalam upacara pernikahan di tempat upacara adat perkawinan itu. Oleh sebab itu, para praktisi di bidang ini diperlukan kemampuan profesional untuk menguasai bahasa, etika (unggah-ungguh atau udanegara), tata busana, pengetahuan baku tentang menata acara pernikahan serta menguasai format baku tatacara adat pernikahan itu sendiri, bahkan dengan segala bentuk perkembangannya.

“Kemarin itu, ada yang tanya apakah Canthang-Balung, tari Lara-Blanya dan Edan-edanan adalah bagian dari adat pernikahan gaya Surakarta yang menjadi format baku untuk dikuasai para praktisi juru pranatacara atau pambiwara? Saya katakan, semuanya memang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta. tetapi bukan bagian dari tatacara adat pernikahan gaya Surakarta. Termasuk juga, sepasang pengantin membasuh kaki kedua pasang orang tuanya, apakah itu juga bagian dari gaya Surakarta. Itu juga saya jawab, tidak ada dalam gaya Surakarta. Itu semua artinya, merupakan bentuk pengembangan di masing-masing wilayah,” tandas KP Budayaningrat yang dibenarkan Gusti Moeng yang pernah mengalami menjadi pengantin gaya Surakarta format baku kraton.  

Menurutnya, Canthang-Balung dan Edan-edanan alah bentuk penampilan yang melengkapi dalam upacara adat Garebeg Mulud, Garebeg Syawal dan Garebeg Besar yang digelar Kraton Mataram Surakarta, bukan untuk keperluan tatacara adat upacara perkawinan. Begitu pula dengan Lara-Blanya, yang wujudnya patung pasangan lelaki dan perempuan yang hanya sebagai hiasan, boleh diperagakan dalam gerak tari, tetapi bukan bagian dari tata cara adat perkawinan gaya Surakarta. Dalam format baku gaya Surakarta, juga tidak ada sisipan tari “Begalan”, atraksi mengelilingi sendang, mendorong kayu bakar ke tungku dan sebagainya. “Itu semua, pengembangan”. (won-i1)