Sabtu, 4 Desember 2021
Regional Besok Pagi Jenazah Diberangkatkan ke Astana Giri Layu, Matesih

Besok Pagi Jenazah Diberangkatkan ke Astana Giri Layu, Matesih

Baca Juga

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...
~Pariwara~

Patuhi Prokes, Hanya Keluarga yang Boleh Mengantar

SOLO, iMNews.id – Besok Minggu (15/8) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, jenazah Pengageng Pura KGPAA Mangkunagoro IX akan dilepas dalam sebuah upacara adat dari Pendapa Pura Mangkunegaran. Tetapi sesuai prokes Covid 19, prosesi keberangkatan jenazah hanya boleh diantar kalangan keluarga terbatas dan sentana serta abdidalem yang bertugas dalam pemakaman di kompleks makam Dinasti Mangkunegaran, Astana Giri Layu, Matesih, Karanganyar.

”Betul, upacara pelepasannya sederhana. Karena sebenarnya ‘kan todak boleh dilayat, sesuai prokes Covid 19. Yang mengantar ke Giri Layu besokpun, hanya keluarga dan para petugas pemakaman di sana,” ujar Pengageng Mandrapura KRT Supriyanto Waluyo, menjawab pertanyaan para awak media di Pendapa Agung Pura Mangkunegaran, tadi siang.

Sampai siang, suasana di tempat duka yang dipusatkan di Pendapa Agung Pura Mangkunegaran, hanya terlihat beberapa orang saja, kecuali para awak media. Karena, sesuai prokes di masa pandemi, kegiatan yang mengundang kerumunan seperti halnya ”layatan” harus dihindari. Oleh sebab itu, ruang pendapa dan halaman yang begitu luas yang biasanya menjadi pusat berkumpulnya ribuan manusia seperti saat kirab pusaka menyambut 1 Sura sebelum 2020, kemarin dan hari ini sampai siang tadi boleh dikatakan cukup sepi.

BERSAMA KELUARGA BESAR = KGPAA Mangkunagoro IX bersama sang istri, berfoto bersama keluarga besar atau saudara kandung putra/putridalem KGPAA Mangkunagoro VIII tanpa sibungsu GRAy Putri Retno Astrini di ndalem ageng, sesuai mengikuti acara di Pendapa Agung menjelang tahun 2000-an.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Meski begitu, jenazah KGPAA Mangkunagoro IX yang akrab disapa Gusti Mangku, sudah berada dalam peti yang diletakkan di depan krobongan ndalem ageng masih terbuka. Dari foto yang beredar di medsos, jenazah Gusti Mangku didandani dengan busana adat secara lengkap sebagai seorang pemimpin adat, yang menurut KRT Supriyanto Waluyo merupakan tatacara adat Mataram untuk ”ngrukti layon” (mengurus jenazah) seorang pemimpin adat atau raja di lingkungan Dinasti Mataram.

Sementara, hiasan bunga yang secara adat sebagai tanda Pura Mangkunegaran sedang berkabung serta karangan bunga sebagai ucapan duka cita dari berbagai kalangan, sudah tampak ditata berjejer rapat memenuhi sekeliling pendapa, halaman dan kanan-kiri jalan masuk dari gapura depan menuju pendapa. Salah satu karangan bunga ucapan duka cita itu, bertuliskan Presiden Jokowi beserta keluarga besar, Kapolri Jendral Pol Listyo Sigit, Menhan Prabowo Subiyanto, Kemen PAN Cahyo Kumolo, keraton-keraton anggota Catur Sagatra dan berbagai kalangan sudah tampak di pendapa agung dan sekelilingnya.

Selain Pengageng Mandrapura, nyaris tak ada seorangpun yang mewakili sentana atau keluarga yang nampak atau bisa dimintai keterangan oleh para awak media. Namun memang, sepeninggal Gusti Mangku, hanya tersisa tiga wanita saudara kandungnya yaitu GRAy Retno Satuti, GRAy Retno Roosati dan GRAy Putri Retno Astrini. Permaisuri GK Putri Mangkunagoro dan empat anak dari dua ibu berbeda, masing-masing GPH Paudra Karna Jiwanagara (40-an), BRAy Menur Sunituti (35-an), GRA Ancila Syura (25-an) dan GRM Bhre Wira Cakra Hutama (20-an) juga tidak tampak.

BERSAMA PENGGEMAR MOGE : Gusti Mangku mengenakan busana khas penunggang moge, saat bersama beberapa aggota HDCI yang mengadakan pertemuan di Pendapa Agung Pura Mangkunegaran di awal tahun 2000-an. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dari penuturan kerabat setempat, almarhum Gusti Mangku lebih sering tinggal bersama keluarga kecilnya di Jakarta, terlebih selama pandemi Corona. Keberadaannya di Jakarta, karena dianggap lebih mudah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan untuk beberapa gangguan kesehatan yang dideritanya, seperti jantung yang bahkan membuatnya tak tertolong ketika terjadi serangan menjelang wafatnya, Jumat (13/8) dinihari itu.

Namun selain jantung, iMNews.id mencatat ada beberapa gangguan kesehatan yang diderita Gusti Mangku sejak lama, atau bahkan sebelum menikahi puteri Letjen TNI (Purn) KPH Haryogi Supardi yang bernama Prisca Marina (GK Putri Mangkunagoro) di tahun 1990-an. Yaitu retak tulang kering salah satu kakinya akibat kecelakaan saat mengendarai moge, kemudian penyempitan syaraf tulang belakang dan pernah menjalani operasi pemotongan usus yang semuanya dilakukan di Jakarta.

DARI PREDIEN JOKOWI : Sebuah karangan bunga sebagai ucapan tanda duka cita dari Presiden Jokowi, dipasang di bibir lantai pintu masuk Pendapa Agung Pura Mangkunegaran. Sedangkan jenazah Gusti Mangku, diletakkan di depan krobongan ndalem ageng yang terhubung ke pendapa itu.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gusti Mangku adalah generasi kedua setelah ayahandanya (KGPAA Mangkunagoro VIII) bersepakat dengan Sinuhun Paku Buwono (PB) XII ikut mnedirikan NKRI pada tahun 1945. Artinya, Gusti Mangku adalah generasi kedua setelah Pura Mangkunegaran berada dalam suasana republik, sama posisinya dengan Sinuhun PB XIII yang mewarisi tahta ayahandanya (PB XII).

Tampilnya Gusti Mangku sebagai Pengageng Pura dengan gelar KGPAA Mangkunagoro IX di Tahun 1988, diwarnai pro-kontra yang mencuat menjadi ontran-ontran dan puncaknya terjadi di tahun 1990-an. Ontran-ontran itu terjadi karena ada pihak yang menginginkan tahta tersebut, karena konon pernah ada semacam ”perjanjian” atau ”kesepakatan” dari bagian keluarga besar penerus Pangeran Sambernyawa (KGPAA Mangkunagoro I) untuk mendapat giliran menggantikan tahta tersebut.

DARI PINTU MASUK : Karangan bunga tanda ucapan duka cita atas wafatnya KGPAA Mangkunagoro IX, terpaksa dipajang rapat mulai dari pintu masuk kawasan Pura Mangkunegaran, halaman dalam dan sekeliling Pendapa Agung, sudah tidak bisa muat, padahal ucapan bela sungkawa itu masih terus berdatangan sampai tadi siang. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Namun, ontran-ontran yang disebutkan melibatkan keluarga ”Cendana” tersebut bisa diakhiri dengan sebuah persyaratan, KGPH Sudjiwo Kusumo boleh naik tahta menggantikan sang ayah jika hanya menggunakan gelar (Kanjeng Gusti Pangeran Aryo (KGPA) Mangkunagoro tanpa gelar ”Adipati” dan tanpa angka urut ”IX” (sembilan). Tetapi, proses ”ontran-ontran” yang melibatkan Dewan Pinisepuh Himpunan Kerabat Mangkunegaran (HKMN) ini, akhirnya bisa berakhir dengan tetap mempertahankan nama dan gelar serta urutan dinasti KGPAA Mangkunegaran IX.

Paugeran adat Dinasti Mangkunegaran yang banyak bersumber dari paugeran Dinasti Mataram itu disepakati harus dilestarikan, mengingat Pura Mangkunegaran statusnya adalah ”Kadipaten” atau wilayahnya seorang ”Adipati”. Ini sesuai perjanjian Salatiga antara Sinuhun PB III dengan Pangeran Sambernyawa, yang berlangsung tidak lama setelah Perjanjian Giyanti antara Sinuhun PB III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan HB III) tahun 1755. (won)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

More Articles Like This