Kamis, 2 Desember 2021
Regional Dari Gladag Hingga Kompleks Pagelaran, tak Cukup Bersih Seminggu

Dari Gladag Hingga Kompleks Pagelaran, tak Cukup Bersih Seminggu

Baca Juga

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...
~Pariwara~

SOLO, iMNews.id – Melihat kondisi Alun-alun Lor yang lumayan luas karena berukuran dua kali lapangan sepakbola, upaya untuk membersihkan dalam waktu sekitar seminggu, diperkirakan tidak cukup. Karena, permukaan tanah sudah hampir tertutup semak-semak belukar, pepohonan yang tumbuh liar dan masih ada sisa tonggak besar atau bonggol pohon beringin yang tumbang beberapa tahun lalu.

ADA TAPI TERBATAS : Mesin potong rumput memang menjadi alat yang efektif untuk membersihkan rumput di Alun-alun Lor. Tetapi, jumlahnya terbatas dan tidak semua dari 200-an orang yang dilibatkan kerjabhakti resik-resik keraton, bisa mengoperasikan.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

”Ya maklum, lokasi itu dibiarkan njembrung terbengkalai sejak beberapa tahun disewa Pemkot untuk relokasi para pedagang Pasar Klewer. Setelah itu, terus ditinggalkan saja. Padahal, janjinya mau mengembalikan hingga memenuhi syarat untuk olah raga sepakbola. Yang terima duit sewa bermilyar-milyar rupiah Sinuhun (PB XIII). Kita yang kebagian resik-resik dan membenahi. Sing janji ya mung tinggal janji. Sing entuk duit ya mung enak-enak menikmati,” seloroh KPH Edy Wirabhumi, koordinator kerjabhakti resik-resik gerakan #Lestariakn Keraton, menjawab pertanyaan iMNews.id, tadi siang.

TIDAK SEBANDING : Meski jumlah peralatan kerjabhakti tidak sebanding dengan luasnya lahan dan jumlah tenaga yang terbatas, tetapi semangat warga Pakasa Cabang Sragen ini, tidak surut untuk memangkas pepohoan di Alun-alun Lor yang tumbuh subur. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Melihat kondisi riil di Alun-alun Lor yang sudah rusak permukaan tanahnya akibat digali dan ditanami konstruksi bangunan ratusan kios pasar, ketika diadakan kerjabhakti resik-resik dan menata ulang lokasi itu, menurut KPH Edy tidak cukup bisa dirampungkan tuntas dalam seminggu. Tetapi, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan tidak bisa dicapainya target seminggu pembersihan alun-alun.

HANYA DENGAN BODING : Sejumlah warga Pakasa Cabang Klaten yang diterjunkan ikut kerjabhakti resik-resik keraton, berbekal boding dan arit untuk memangkas pepohonan di sisi timur dan selatan Alun-alun lor yang tumbuh subur dan menjulang tinggi.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selain kondisi permukaan tanah yang rusak dan aneka tumbuhan liar yang subur, cukup tinggi dan menutup hampir seluruh permukaan alun-alun, pepohonan yang ada di seputar alun-alun juga sudah lama tidak dipangkas hingga terlalu tinggi dan melebar. Salah satu contohnya, sebuah pohon beringin di sisi utara yang cukup besar, pernah tumbang karena tergulung angin ribut pada awal 2020 lalu.

HANYA DENGAN SOLET : Hanya dengan solet atau susruk kecil, warga Pakasa Cabang Klaten ini bersemangat ikut membersihkan rumput dan lumut yang tumbuh di sekitar meriam pusaka di halaman kompleks Sitinggil Lor, dalam kerjabhakti resik-resik keraton, tadi siang.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selain kondisi lapangan, jumlah tenaga yang diterjunkan tidak bisa maksimal dari sisi jumlah, karena ada batasan/aturan yang harus dipatuhi, yaitu tidak menimbulkan kerumunan sesuai protokol Covid 19. Akibatnya, koordinator lapangan hanya bisa menerjunkan maksimum 250 orang yang disebar di berbagai titik lokasi, mulai dari kawasan gapura pintu masuk Galadag di utara, alun-alun, sampai kompleks Pagelaran Sasana Sumewa dan Sitinggil Lor.

PERWAKILAN MAHASISWA : Ada belasan mahasiswa Fakultas Sekolah Vokasi UNS yang ikut bergabung dalam kerjabhakti resik-resik keraton di kompleks Pendapa Sitinggil Lor, tadi siang. Mereka”melantai” bersama para abdidalem garap dan ibu-ibu anggota Putri Narpa Wandawa.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dukungan peralatan juga menjadi kendala, karena rata-rata yang datang dari tempat yang jauh, seperti warga Pakasa Cabang Ponorogo, Trenggalek, Madiun di Propinsi Jatim, juga se putar Solo Raya, tak mungkin membawa peralatan modern seperti senso (mesin potong pohon), mobil bak pengangkut limbah hasil bersih-bersih, dan juga mesin potong rumput.

CAIRAN DISINFEKTAN : Gusti Moeng tampak sedang berdialog dengan sejumlah tenaga kesehatan dari PMI Cabang Surakarta yang akan menyemprotkan cairan disinfektan ke lantai yang sudah dipel di kompleks Pendapa Sitinggili Lor dalam kerjabhakti resik-resik keraton, tadi siang.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Durasi waktu pembersihan yang bisa lebih panjang dari yang diperkirakan, juga disebabkan oleh tingkat kerusakan dan kekotoran yang terjadi hampir di semua tempat/bangunan, sudut, titik lokasi. Mengingat, tempat-tempat seperti kompleks Pendapa Sitinggil Lor dan bagian tengah Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa misalnya, nyaris tidak pernah dibersihkan selama 4 tahun sejak insiden April 2017. (won)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

More Articles Like This