Dari Kriya Gamelan, Wayang, Canthik Perahu Sampai Karya Sastra Religi
IMNEWS.ID – MAKNA lain dari cara memuliakan pusaka leluhur dengan melanjutkan aktivitas wayangan malem weton Anggara Kasih “karya” Sinuhun PB IV, adalah edukasi untuk memahami dan merangsang sikap kritis untuk berfikir rasional. Maka, kebijakan Sinuhun PB XIV Hangabehi membangkitkan kembali tradisi wayangan itu, bisa dimaknai sebagai ajakan untuk membaca sepak terjang seorang pemimpin.
Tentu saja, sepak-terjang dalam makna positif dan ideal yang bermanfaat bagi orang banyak, termasuk generasi ana-cucunya dan publik secara luas, kini dan mendatang. Pilihan Sinuhun PB XIV Hangabehi sanga tepat, karena Sinuhun PB IV adalah Raja atau pemimpin Dinasti Mataram yang sangat handal, produktif dan aktif berkarya di berbagai bidang, baik seni-budaya maupun infrastruktur.

Untuk menghasilkan karya yang begitu banyak dan beragam, tentu dibutuhkan biaya yang besar. Sedangkan ketersediaan biaya terutama dari KR Kentjana Kudus yang “mengawal” hingga Sinuhun PB III (1749-1788), tentu ada keterbatasannya. Sudah tentu terkuras untuk biaya “boyong kedhaton” atau pindahan, sekaligus untuk membangun Ibu Kota baru di Surakarta di zaman Sinuhun PB II (1727-1749).
Tetapi, dua permaisuri Sinuhun PB IV juga dari keluarga pengusaha kaya-raya asal Pamekasan (Madura), yaitu Adipati Tjakra Adiningrat III. Yang pertama KR Handaya, yang wafat saat RMG Sugandi (Sinuhun PB V) masih kecil. Sinuhun PB IV meminang putri kedua Bupati Pamekasan, KR Sakaptinah sebagai permaisuri. Fakta inilah yang sangat rasional sebagai sumber dukungan finansial Sinuhun PB IV.

Ketika dianalisis lebih lanjut, fakta-fakta dukungan Adipati Tjakra Adiningrat III terhadap menantunya yang sangat “produktif” berkarya dan bisa menjadi “kebanggan keluarga” itu, menjadi dasar berpikir rasional. Dalam lingkup masyarakat Jawa juga Madura saat itu dan mungkin juga sekarang, diyakini ada kebanggan tersendiri jika punya menantu orang terpandang, apalagi “Raja besar”.
Analogi dalam terminologi Budaya Jawa ini sulit disangkal, saat sebuah keluarga kaya-raya memberi dukungan penuh finansial bagi menantunya, orang terpandang (Raja Mataram Surakarta) yang sedang membangun sesuatu yang menjadi kebanggaan keluarga. Di sinilah letak alasan rasional Sinuhun PB IV, mengapa begitu sukses “berkarya” dalam waktu yang lama, bahkan sang putra mahkota ikut terangkat.

Oleh sebab itu, tidak aneh pada zaman Sinuhun PB IV bertahta, hampir semua aspek kehidupan terangkat karena efek ekonomis begitu banyak jenis dan jumlah karyanya. Di bidang penulisan karya sastra religi, “Serat Wulangreh” yang luar biasa itu lahir. Di bidang kriya logam, karya gamelan Sekaten Kiai Guntur Madu tercipta, sebagai pasangan gamelan Kiai Guntur Sari yang dibawa dari Kartasura.
Perjanjian Giyanti tahun 1755 menjadi ilustrasi latar-belakang terbaginya sepasang gamelan Sekaten, karena gamelan Sekaten peninggalan Kraton Demak (abad 15) menjadi lengkap sepasang pada zaman Raja Mataram ke-3 Sultan Agung. Tetapi sepasang gamelan itu harus berpisah, Kiai Guntur Madu harus “ke Jogja” dan Kiai Guntur Sari yang “sendiri” sampai Perjanjian Giyanti, dilengkapi Sinuhun PB IV.

Tidak hanya instrumen gamelan yang diciptakan sebagai karya semasa Sinuhun PB V dan dibantu penuh RMG Sugandri sebagai Pangeran Adipati Anom. Duet antara dua tokoh ayah-anak itu juga menghasilkan karya sejumlah gendhing pengisi saat ritual Sekaten digelar, jika gendhing “Rambu” dan “Rangkung” sudah disajikan. Bahkan, gendhing-gendhing religi Santiswaran, lahir di zaman kedua tokoh itu.
“Benar. Sejumlah karya besar di beberapa bidang itu lahir zaman Sinuhun PB IV. Karena, di masa muda putra mahkota RMG Sugandi (Sinuhun PB V) sangat membantu. Sinuhun PB IV jadi sangat produktif, karena dua faktor pendukung itu. Sedangkan PB V, selain Serat Tjenthini sudah banyak berkarya saat masih sebagai Pangeran Adipati Anom. Jadi, keduanya sangat mengangumkan,” ujar KP Budayaningrat. (Won Poerwono-bersambung/i1)
