Sinuhun PB IV Seorang Raja, Pujangga Sekaligus Seniman Sangat Produktif
IMNEWS.ID – TERNYATA, Sinuhun PB IV (1788-1820) bukan hanya “Raja”, tetapi juga seorang seniman, bahkan Pujangga. Berbagai kapasitas ini dimilikinya, sehingga berkesan sangat memanfaatkan masa tugasnya yang panjang 32 tahun jumeneng-nata, bisa menghasilkan berbagai karya. Maka tidak salah, kalau Sinuhun PB IV disebut pemimpin Dinasti Mataram Surakarta yang sangat “produktif” dalam kekaryaannya.
Atas dasar itu, maka tidak salah kalau Sinuhun PB XIV Hangabehi “meneladani” tokoh leluhurnya ini. Bahkan, kebijakan melanjutkan tradisi wayangan tiap “weton Anggara Kasih selapan” atau 35 hari sekali itu, sungguh tepat sekali dan cerdas. Karena, tokoh yang diteladani adalah punya berbagai kapasitas kemampuan di atas rata-rata, yaitu Raja yang Pujangga, bahkan seniman sangat produktif.

Sebelum melihat jumlah dan jenis karya-karya Sinuhun PB IV, sangat rasional apabila dilakukan analisis yang tertuju pada periode waktu karya dihadilkan. Sebab, Sinuhun PB IV memiliki masa jumeneng-nata sampai 32 tahun yang sangat rasional leluasa waktunya untuk berkarya, sehingga jumlah dan jenisnya sangat banyak. Sementara, di saat itu RMG Sugandi sudah eksis dan banyak membantu.
Ketika Sinuhun PB IV wafat pada tahun 1820 (1788-1820) dan putra mahkotanya Pangeran Adipati Anom (RMG Sugandi) lalu menggantikan, usia jumeneng-nata atau tahtanya hanya 3 tahun karena pada tahun 1823 wafat. Ini berarti, Sinuhun PB V hanya bertahta tiga tahun, tetapi karya yang dihasilkan disebut banyak jumlah dan ragamnya. Ini sangat rasional, karena dihitung dari sejak masih Adipati Anom.

Atas dasar itu, maka karya-karya Sinuhun PB IV sulit disebut sebagai karyanya sendiri mengingat masa tahtanya 32 tahun. Sebaliknya, juga sulit disebut karya Sinuhun PB V sendiri walah usia tahtanya pendek, bahkan tidak genap 3 tahun. Dengan periodisasi menurut masa tahtanya, antara karya yang dihasilkan Sinuhun PB IV dan putranya yang menggantikan tahta, Sinuhun PB V, sulit dijadikan ukuran.
Maka, ketika hendak memuliakan Sinuhun PB IV dengan mengambil simbol tradisi wayangan tiap weton Anggara Kasih, bisa dimaknai juga memuliakan para tokoh leluhur lain, karena berdasar karya-karyanya, berkaitan satu sama lain. Oleh sebab itu, Ketika mengambil tradisi wayangan tiap weton itu, setidaknya mengambil aktivitas rutin tiap weton itu, dan sejumlah komponen terkait lainnya.

Jadi, selain weton Anggara Kasih, di situ ada pentas seni pertunjukan wayang kulit, materi sajiannya menggunakan wayang sekotak Kanjeng Kiai Jimat adalah karya Sinuhun PB IV. Instrumen gamelan yang ditabuh mengiringinya, sepangkon gamelan Kiai Jimat (slendro) dan sepangkon Kiai Dewa Katong (Pelog). Lakon yang dipakai “Dewa Ruci”, adalah lakon yang ditulis Pujangga RT Jasadipoera I.
RNg Jasadipoera I adalah Pujangga Jawa saat Kraton Mataram Surakarta masih di Ibu Kota Kartasura dan rajanya Sinuhun PB II. Di masa-masa inilah, KR Kentjana Kudus, ibunda Sinuhun masih menunggui, termasuk KRT Prana Kusumadjati (Kiai Glongsor), tokoh “sakti” pengawal keluarga raja. Dalang Ki KPH Dr Lintang menyebut, sekotak wayang Kiai Jimat baru dibuat di zaman Sinuhun Amangkurat II.

Sekotak wayang pusaka Kiai Jimat, saat Sinuhun PB II masih bertahta di Ibu Kota Kartasura (1727-1745), belum selesai atau genap sekotak berisi lebih dari 300 anak-wayang. Walau melewati waktu lumayan panjang dari Sinuhun Amangkurat II (1677-1703) sampai pemimpin berikut yaitu Sinuhun PB II muncul, tetapi sekotak wayang itu belum juga lengkap, bahkan saat Ibu Kota sudah pindah di Surakarta.
Situasi politik setelah Sinuhun Amangkurat II yang disebut memulai membuat wayang Kiai Jimat, sangat dimungkinkan kurang kondusif di Ibu Kota Kartasura. Ini sangat masuk akal, jika Sinuhun Amangkurat III (1703-1705) yang berganti Sinuhun PB I (1705-1719) hingga Sinuhun Amangkurat IV/Jawi, bahkan saat diganti Sinuhun PB II-pun, sekotak wayang belum genap karena fokusnya pindah Ibu Kota. (Won Poerwono-bersambung/i1)
